Dr. Hartono
Sekretaris Majelis Ta’lim Al Ihsan & Dosen STAIS Kutai Timur
Dalam suasana penuh berkah, Majelis Ta’lim yang diselenggarakan di Masjid Baiturrahman, Desa Suka Maju, Kecamatan Kongbeng, Kabupaten Kutai Timur, menjadi cermin nyata bagaimana nilai-nilai keislaman hidup dan berdenyut di tengah masyarakat. Dengan mengusung tema “Sucikan Hati, Eratkan Ukhuwah: Merajut Kasih di Hari Fitri,” kegiatan ini bukan hanya sebuah pengajian, melainkan perwujudan kebersamaan yang sarat makna.
Kehadiran Hj. Kharisma Yogi Noviani dari Madiun, Jawa Timur, sebagai penceramah utama memberikan warna tersendiri dalam acara tersebut. Tausiyah yang disampaikannya tidak hanya menyentuh aspek ibadah secara ritual, tetapi juga menggugah kesadaran jamaah akan pentingnya menjaga kebersihan hati dalam kehidupan sosial. Ia menegaskan bahwa halal bi halal sejatinya tidak dibatasi oleh waktu. Spirit saling memaafkan dan memperbaiki hubungan harus menjadi kebiasaan sepanjang hayat, bukan hanya tradisi musiman pasca-Idul Fitri.
Dalam sambutannya, Kepala Desa Suka Maju, M. Usman, S.Sos, menyampaikan bahwa kegiatan ini tidak hanya sebagai ajang silaturahmi, tetapi juga menjadi wadah mempererat ukhuwah Islamiyah antarwarga. Dukungan nyata dari pemerintah desa, melalui alokasi PADes hingga mencapai 110 juta rupiah, menjadi bukti konkret bahwa kegiatan keagamaan mendapatkan perhatian serius. Ini adalah bentuk investasi sosial yang tidak ternilai, karena membangun masyarakat bukan hanya melalui pembangunan fisik, tetapi juga melalui penguatan nilai-nilai spiritual.
Namun, keberhasilan acara ini tentu tidak lepas dari kerja kolektif berbagai elemen masyarakat. Kepanitiaan tingkat desa yang telah bekerja keras jauh-jauh hari menunjukkan dedikasi dan semangat gotong royong yang patut diapresiasi. Peran Banser dalam menjaga keamanan dan mengatur parkir memberikan rasa nyaman bagi seluruh jamaah.
Sementara itu, tim kopi dengan kesederhanaannya turut menghadirkan kehangatan yang mempererat suasana kebersamaan. Karang Taruna Desa Suka Maju pun tak ketinggalan mengambil bagian dalam menyukseskan kegiatan ini, menunjukkan bahwa generasi muda memiliki peran strategis dalam menjaga tradisi keagamaan.
Antusiasme masyarakat terlihat begitu luar biasa. Di dalam tenda saja tercatat sekitar 1.500 jamaah yang hadir, belum termasuk mereka yang berada di dalam masjid, teras, hingga di pinggir jalan. Jumlah ini menjadi indikator kuat bahwa semangat kebersamaan dan kerinduan akan majelis ilmu masih sangat tinggi di tengah masyarakat.
Kehadiran berbagai unsur penting seperti anggota DPRD Kutai Timur, camat, kapolsek, danramil, kepala KUA, tokoh agama, tokoh masyarakat, kepala desa se-Wahau-Kongbeng, hingga para Dai pembangunan dan jamaah dari berbagai majelis, semakin mempertegas bahwa acara ini bukan sekadar kegiatan lokal, melainkan peristiwa sosial yang menyatukan banyak pihak.
Menariknya, kegiatan ini juga memberikan dampak ekonomi bagi masyarakat sekitar. Para pedagang yang turut hadir mencari rezeki di lokasi acara menjadi bagian dari ekosistem kegiatan yang saling menguatkan. Dengan tetap menjaga ketertiban dan kebersihan, mereka menunjukkan bahwa aktivitas ekonomi dan nilai religius dapat berjalan beriringan tanpa saling mengganggu.
Lebih dari itu, acara ini sejatinya mengajarkan bahwa ukhuwah tidak terbangun secara instan, melainkan melalui proses panjang yang melibatkan keikhlasan, komunikasi, dan saling pengertian. Dalam konteks masyarakat yang beragam, menjaga keharmonisan bukanlah perkara mudah. Namun, melalui forum-forum seperti majelis ta’lim, nilai-nilai kebersamaan dapat terus ditanamkan dan diperkuat.
Pesan utama yang dapat ditarik dari kegiatan ini adalah pentingnya menjaga hati agar tetap bersih dari prasangka, iri hati, dan permusuhan. Sebab, hati yang bersih adalah fondasi utama dalam membangun hubungan sosial yang sehat. Tanpa itu, ukhuwah hanya akan menjadi slogan tanpa makna. Sebaliknya, ketika hati telah disucikan, maka kasih sayang akan tumbuh dengan sendirinya, menjalar dalam setiap interaksi, dan menciptakan lingkungan yang harmonis.
Hari Fitri sejatinya adalah titik awal, bukan akhir. Ia menjadi momentum untuk memulai lembaran baru dalam kehidupan, memperbaiki hubungan yang retak, dan memperkuat tali silaturahmi yang mungkin sempat renggang. Dalam konteks ini, apa yang dilakukan oleh masyarakat Desa Suka Maju patut dijadikan contoh. Mereka tidak hanya merayakan Idul Fitri secara seremonial, tetapi juga menghidupkan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya.
Akhirnya, kegiatan Majelis Ta’lim ini menjadi bukti bahwa ketika hati disatukan dalam niat yang sama, maka kebersamaan akan terjalin dengan indah. Sucikan hati, eratkan ukhuwah, dan rajutlah kasih sayang—bukan hanya di hari Fitri, tetapi dalam setiap langkah kehidupan. Sebab, di situlah letak kekuatan sejati sebuah masyarakat: pada hati yang bersih dan hubungan yang harmonis.
![]()

