MAKKAH – Bimbingan Teknis (Bimtek) Sebanyak 700 Tenaga Pendukung (Tepung) Petugas Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Arab Saudi Tahun 1447 H/2026 M yang terdiri dari mahasiswa asal Timur Tengah dan mukimin di Arab Saudi digelar di Al-Wehda Tower Hotel, kawasan Jarwal, Makkah, pada Senin (27/4/2026).

Program penguatan layanan ini diselenggarakan oleh Kementerian Haji dan Umrah (Kemenhaj) RI bekerja sama dengan Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI) Jeddah dan Kantor Urusan Haji (KUH).

Garda Terdepan Layanan Teknis

Konsul Jenderal RI di Jeddah, Yusron B. Ambary, dalam arahannya menjelaskan bahwa para tenaga pendukung ini akan ditempatkan di posisi-posisi strategis, meliputi sektor akomodasi, konsumsi, hingga transportasi. Selain itu, mereka difungsikan sebagai penerjemah dan tim komunikasi teknis bagi jemaah haji Indonesia.

“Mereka juga akan bertugas di sekitar wilayah Markaziah untuk memantau jika ada jemaah yang tersesat atau membutuhkan bantuan di jalan,” ujar Yusron.

Pemilihan mahasiswa dan mukimin ini dinilai krusial karena penguasaan bahasa Arab yang baik, sehingga dapat mempermudah koordinasi di lapangan dengan otoritas setempat maupun penyedia layanan.

Pesan “Super Tim” dan Kerja Keras

Yusron menekankan tiga poin utama kepada para peserta: tanggung jawab melayani tamu Allah dengan sepenuh hati, kesiapan bekerja keras di segala situasi, dan pentingnya soliditas.

“Saya tidak percaya dengan istilah superman, yang ada adalah super tim. Kekompakan menjadi kunci dalam memberikan pelayanan terbaik bagi jemaah,” tegasnya.

Senada dengan hal tersebut, Wakil Ketua II PPIH Arab Saudi yang juga Direktur Pelayanan Haji Luar Negeri Kemenhaj, Budi Agung Nugroho, mengingatkan bahwa setiap peluh keringat petugas merupakan nilai ibadah.

“Segala bentuk pelayanan yang memudahkan jemaah, seperti mengantar makanan atau menunjukkan arah, tetap bernilai pahala,” kata Budi.

Di sisi lain, Kemenhaj memberikan peringatan keras terkait kepatuhan hukum selama bertugas. Mengingat regulasi ketat dari pemerintah Arab Saudi, setiap petugas wajib mengantongi dokumen resmi yang sah.

Melalui Bimtek ini, diharapkan 700 tenaga pendukung tersebut siap memberikan perlindungan dan kenyamanan maksimal bagi jemaah haji Indonesia sepanjang penyelenggaraan haji tahun 2026.

“Hari ini kita datang ke Makkah wajib memiliki tasreh (izin), visa haji, dan aplikasi Nusuk. Patuhi itu sebagai bagian dari ketaatan kita kepada ulil amri (pemimpin),” pungkas Budi.(rls/mn)

Loading