SAMARINDA – Pagi itu, kawasan Jalan Kadrie Oening, kelurahan Air Hitam, Samarinda Ulu, tampak lebih berwarna dari biasanya. Gelak tawa dan celoteh riang puluhan anak-anak dari KB-TKIT Raudhatul Jannah memecah keheningan saat mereka melangkahkan kaki memasuki pelataran Rumah Adat. Bukan sekadar jalan-jalan, kehadiran mereka adalah untuk sebuah misi penting, mengenal akar budaya sendiri sejak usia dini.
Didampingi para guru, wajah-wajah mungil itu memancarkan rasa ingin tahu yang besar. Setibanya di lokasi, mereka disambut dengan senyum hangat oleh Arbain, Koordinator Rumah Adat. Bagi Arbain, kehadiran anak-anak ini adalah embun bagi kelestarian identitas daerah.
“Rumah adat ini bukan sekadar kayu dan atap yang berdiri kokoh. Di dalamnya ada nilai sejarah, filosofi, dan identitas kita yang harus dijaga bersama,” ujar Arbain dengan nada penuh apresiasi.
Langkah-langkah kecil itu kemudian menyisir setiap sudut bangunan. Dengan bahasa yang sederhana namun interaktif, anak-anak diajak berkeliling mengenal fungsi ruang serta keunikan arsitektur tradisional yang mulai jarang ditemui di tengah hiruk-pikuk kota. Tak jarang, mereka berhenti sejenak, mengamati ukiran, dan melontarkan pertanyaan-pertanyaan polos yang menunjukkan ketertarikan mendalam.
Suasana semakin “pecah” saat tim dari Komite Permainan Rakyat dan Olahraga Tradisional Indonesia (KPOTI) muncul di tengah-tengah kegiatan. Suasana edukasi formal seketika berubah menjadi arena bermain yang penuh tawa. Anak-anak diajak menjajal langsung berbagai permainan tradisional yang sarat akan makna.
Saiful, Sekretaris KPOTI, dengan antusias menjelaskan bahwa permainan bakiak ini bukan sekadar hiburan. “Ada nilai kerja sama, kejujuran, dan sportivitas di setiap gerakannya. Selain itu, ini sangat baik untuk melatih motorik anak,” ungkapnya.

Kepala Sekolah KB, Inmas Devi, memandang kebersamaan ini dengan rasa syukur. Baginya, tembok kelas tidak cukup luas untuk mengajarkan tentang kehidupan.
“Kegiatan ini sangat penting. Anak-anak tidak hanya belajar dari buku, tapi belajar langsung dari lingkungan nyata. Kami ingin mereka mengenal, mencintai, dan kelak menjaga budaya lokal ini,” tutur Inmas dengan bangga.
Senada dengan itu, Kepala Sekolah TK, Aulia Rahmi, menekankan sisi pengembangan karakter. Melalui kunjungan ini, anak-anak dilatih untuk berani, mandiri, dan mampu bersosialisasi di luar zona nyaman mereka. Ia memberikan apresiasi tinggi kepada pihak Rumah Adat dan KPOTI yang telah membuka ruang belajar yang luar biasa bagi anak didiknya.
Matahari mulai meninggi saat rombongan harus berpamitan. Namun, kepulangan mereka kali ini berbeda. Ada binar kebahagiaan dan pengetahuan baru yang tersimpan di benak masing-masing siswa. Mereka pulang tidak hanya membawa lelah, tapi membawa cerita tentang rumah adat dan permainan tradisional, selain bakiak juga ada gasing yang baru saja mereka coba.
Langkah KB-TKIT Raudhatul Jannah hari ini menjadi bukti nyata komitmen sekolah dalam menghadirkan pendidikan holistik. Karena di balik cerianya tawa anak-anak itu, sedang disemai benih-benih generasi masa depan yang cerdas, sekaligus memiliki akar budaya yang kuat.(mn)
![]()

