KUTAI TIMUR – Efisiensi anggaran ikut menekan penyediaan alat dan obat kontrasepsi (alokon) tahun ini. Anggaran pengadaan alokon yang pada tahun-tahun sebelumnya bisa mencapai Rp3 miliar kini turun di bawah Rp1 miliar. Dampaknya mulai terasa pada ketersediaan sejumlah jenis alokon di lapangan, termasuk implan dan kondom.

Hal itu disampaikan perwakilan Kemendukbangga/BKKBN Kalimantan Timur, Achmad Syarif, saat tim gabungan bersama Balai Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) Kaltim mengunjungi Kutai Timur pada akhir September 2026. Tim meninjau gudang logistik KB di Kantor DPPKB Kutim, lalu menyusuri tiga fasilitas pelayanan kesehatan, yaitu BLUD Puskesmas Sangatta Selatan, Sangatta Utara, dan Teluk Lingga.

“Pengadaan alokon dipusatkan di BKKBN Provinsi, lalu didistribusikan ke perangkat daerah yang menangani KB sebelum disalurkan ke fasilitas kesehatan. Karena rantai ini berjenjang, penurunan anggaran di tingkat pengadaan akan terbawa sampai ke layanan paling bawah. Tim kunjungan ingin merekam kondisi nyata di lapangan melalui wawancara mendalam dan pemantauan manajemen stok. Hasilnya akan dipakai sebagai bahan evaluasi dan catatan kebijakan,” terangnya.

Kebutuhan di Kutim sendiri tidak kecil. Data DPPKB mencatat 49.547 pasangan usia subur terlayani KB tahun ini. Suntik menjadi pilihan terbanyak dengan 31.784 akseptor, disusul pil 7.016 akseptor dan implan 4.897 akseptor. Kondom dipakai 1.538 akseptor. Implan dan kondom, dua jenis yang disebut terdampak penyesuaian anggaran, ikut memikul kebutuhan sebesar itu.

Plh Kepala DPPKB Kutim, Yuriansyah, mengatakan pengelolaan logistik tidak sekadar soal jumlah stok. Alokon juga harus tersimpan baik dan bisa disalurkan sesuai kebutuhan pelayanan. Ia berharap hasil kunjungan menjadi bahan evaluasi untuk memperkuat tata kelola penyimpanan dan distribusi di daerah.

“Di tengah keterbatasan itu, DPPKB tetap menjalankan program pembagian alokon gratis di 18 kecamatan bersama puluhan fasilitas kesehatan dan bidan mandiri. Dengan dana yang menipis, ketepatan pencatatan dan pelaporan stok jadi semakin penting agar alokon yang ada benar-benar sampai ke akseptor yang membutuhkan,” tegasnya. (Adv-kominfo/Q)

Loading