KUTAI TIMUR – Dari hampir 50 ribu Pasangan Usia Subur (PUS) yang terlayani program Keluarga Berencana (KB) di Kutai Timur tahun ini, hanya 63 orang yang memilih vasektomi. Angka itu jauh tertinggal dibanding kontrasepsi suntik yang dipakai 31.784 akseptor. Di sisi lain, Dinas Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DPPKB) Kutim mencatat hampir 70 pria menyatakan berminat menjadi akseptor KB Pria.
Data DPPKB menunjukkan total 49.547 PUS terlayani melalui sembilan metode kontrasepsi. Vasektomi berada di urutan bawah, hanya unggul dari Metode Amenore Laktasi (MAL) yang dipakai 32 akseptor. Sebagai pembanding, kondom dipilih 1.538 akseptor, sedangkan tubektomi atau sterilisasi pada perempuan dipilih 1.306 akseptor.
Dikonfirmasi terkait hal itu, Plt Kepala DPPKB Kutim, Yuriansyah, melihat naiknya peminat sebagai tanda masyarakat mulai terbuka terhadap KB Pria, terutama setelah sosialisasi yang digencarkan lewat kelompok-kelompok KB Pria. Meski begitu, ia mengakui jumlah peminat masih sangat kecil jika dibandingkan dengan seluruh penduduk Kutim.
“Salah satu alasannya adalah sifat vasektomi yang permanen. Mustika menjelaskan, prosedur ini disebut kontrasepsi mantap karena keputusannya harus benar-benar bulat, yakni tidak ingin lagi menambah anak. Karena itu ada sejumlah syarat yang harus dipenuhi calon akseptor. Suami dan istri harus sama-sama setuju, kondisi kesehatan calon akseptor harus baik, dan usianya minimal 35 tahun. Pasangan juga idealnya sudah memiliki dua anak,” terangnya.
Aspek ekonomi, imbuhnya, turut menjadi bahan pertimbangan. Menurut Yuriansyah, pemerintah tidak melarang keluarga memiliki banyak anak, selama hak-hak setiap anak tetap terpenuhi. Ia menyebut keluarga yang mampu secara ekonomi sebenarnya tidak harus ber-KB, tetapi kebutuhan anak yang sudah ada tidak boleh diabaikan.
Ia juga mengingatkan bahwa layanan vasektomi memang disediakan gratis oleh pemerintah. Sebaliknya, upaya memulihkan kesuburan setelah vasektomi membutuhkan biaya yang tidak sedikit dan prosesnya rumit. Keputusan ini, katanya, sebaiknya dipikirkan matang-matang sebelum diambil.
“Kami berharap kelompok KB Pria yang sudah terbentuk tetap aktif. Penyuluh KB di tiap desa dan kecamatan akan terus membina kelompok-kelompok itu sebagai ujung tombak sosialisasi,” ucapnya. (Adv-kominfo/Q)
![]()

