Catatan Rizal Effendi
BAHAGIAKAH orang-orang yang tinggal di Kaltim? Kalau lihat angka statistik dari Badan Pusat Statistik (BPS) rasanya kita masuk kategori orang yang berbahagia. Sebab, angka indeks kebahagian (IK) di tingkat provinsi, Kaltim berada di peringkat nasional 4 dengan skor 73,57.
Bagaimana dengan dua kota utamanya, Samarinda dan Balikpapan. Juga warga di sini dinilai cukup berbahagia. Dalam ulasan pariwisata dan gaya hidup nasional seperti Traveloka, kata Google, Balikpapan kerap dimasukkan ke dalam daftar 7 kota paling bahagia di Indonesia.
Kota Balikpapan pernah menduduki peringkat ke-3 Kota Paling Nyaman Dihuni (Most Livable City) serta meraih penghargaan tertinggi berkali-kali Adipura sebagai kota terbersih di Indonesia serta Wahana Tata Nugraha sebagai kota tertib lalu lintasnya.
Ketika BPS melakukan uji coba Survei Pengukuran Tingkat Kebahagiaan (SPTK) tingkat kota, Samarinda pernah berada di urutan ke-2 nasional di bawah DKI Jakarta.
Perlu diketahui, BPS mengukur IK menggunakan 3 dimensi utama yang dijabarkan ke dalam 19 indikator penilaian. Pendekatan ini mencakup aspek kepuasan hidup (life satisfaction), kondisi emosional sesaat (affect) dan kedalaman makna hidup seseorang (eudaimonia).
Ke-19 indikator yang dinilai itu di antaranya: pendidikan, pekerjaan, pendapatan rumah tangga, kesehatan, kondisi rumah, keharmonisan keluarga, hubungan sosial, keadaan lingkungan, kondisi keamanan, perasaan senang, perasaan tidak cemas dan perasaan tidak tertekan.
Sepintas orang yang tinggal di Kaltim memang bahagia. Maklum daerah ini dikenal sangat kaya dengan sumber alam. Ada migas, kayu sampai batu bara. Belum lagi yang ditanam seperti kelapa sawit.
Dari migasnya saja, Kaltim menyumbang 30 persen untuk produksi nasional. Dari ratusan tongkang batu bara yang lewat Jembatan Mahakam tiap hari menghasilkan pendapatan nasional sekitar Rp800 triliun per tahun.
Luas kebun kelapa sawit di Katim mencapai 1,4 juta hektare. Itu menghasilkan 21 juta ton sawit per tahun. Kira-kira omzetnya mencapai Rp60-an triliun per tahun. Pendapatan petani sawitnya berkisar antara Rp4 juta hingga Rp7 juta per bulan per hektare.
Rata-rata PDRB per kapita Kaltim pada tahun 2024 mencapai Rp212,18 juta. Angka ini menandakan bahwa Kaltim masih termasuk provinsi dengan tingkat pendapatan per kapita tertinggi di Indonesia. Nomor 2 setelah DKI Jakarta. Rata-rata pengeluaran riil masyarakat Kaltim per bulan mencapai Rp2,12 juta berdasarkan data Susenas BPS.
Tapi yang harus dicatat PDRB per kapita adalah nilai rata-rata ekonomi makro (termasuk sektor pertambangan, migas dan keuntungan perusahaan besar). Jadi bukan berarti pendapatan atau gaji bersih setiap individu.
Perlu diketahui juga, Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Kaltim pada tahun 2025 berada di urutan ke-4 dengan skor 79,39. Tiga daerah teratas adalah DKI Jakarta (85,05), DI Yogyakarta (82,48) dan Kepulauan Riau (80,53).
IPM adalah indikator penting yang dikeluarkan BPS untuk mengukut tingkat kualitas hidup dan keberhasilan pembangunan manusia di suatu wilayah.
BANYAK YANG CERAI
Harmoniskah kehidupan keluarga di Kaltim? Jangan lihat kehidupan Haji Alwi Dondang, juragan batu bara dan konstruksi di Kelurahan Dondang, Muara Jawa, Kukar yang hidup mewah dan nyaman dengan tiga istri. Itu pengelecualian. Mungkin cuma satu dua orang saja. Duitnya memang banyak. Makanya sering mengundang artis.
Dari data BPS, angka percerian di Kaltim cukup tinggi. Mencapai 7 ribuan kasus. Data BPS tahun 2025 mengungkapkan jumlah orang nikah di Kaltim sebanyak 20.645, sedang angka cerainya 6.972 kasus. Jadi hampir 30% dari yang menikah berujung perceraian.
Salah satu faktor paling dominan penyebab perceraian itu adalah faktor ekonomi atau berkaitan masalah keuangan. Di antaranya nafkah yang tidak mencukupi atau ketiadaan stabilitas pendapatan. Jadi ujung-ujungnya adalah kemiskinan.
BPS mencatat pada Maret 2026, jumlah orang miskin di Kaltim mencapai 200,64 ribu orang atau sekitar 5,14 persen. Itu angka resmi, kita yakin angka tidak resminya bisa lebih besar. Belum lagi kalau dilihat dari indeks kedalaman kemiskinan dan indeks keparahan kemiskinan.
Sementara itu jumlah orang yang menganggur di Kaltim per Mei 2026 sebanyak 111.371 orang atau sekitar 5,24 persen. Kaltim menjadi provinsi dengan jumlah penganggur terbanyak kedua di Kalimantan setelah Kalbar. Belum lagi angka pengangguran tidak kentara (disguise unemployment).
Jadi bagaimana tingkat kebahagiaan orang Kaltim pada saat sekarang? Banyak yang bilang sangat tidak bahagia. Bahkan lebih banyak cemas dan sakit hati. Dari aspek kesehatan, jika seseorang cemas berlebihan dan sakit hati (luka batin) yang tidak diatasi, maka dapat memicu gangguan kesehatan fisik maupun mental bersamaan.
Gangguan fisik itu mulai penurunan imunitas, gangguan pencernaan, ketegangan otot dan nyeri serta meningkatkan detak jantung. Sedang dari aspek mental, bisa susah tidur (insomnia), depresi kronis, sampai penurunan kualitas hidup. Yang lebih ekstrim lagi bisa mengambil jalan pintas seperti bunuh diri.
Apa yang menyebabkan orang Kaltim lagi cemas dan sakit hati? Sebenarnya kita sudah tahu dan sudah merasakannya di hari-hari sekarang.
Fenomena El Nino yang sangat ekstrim sekarang, menyebabkan kemarau panjang. Hujan hampir tidak pernah turun. Kalaupun turun hanya sebentar dengan volume air yang tidak banyak. Akibatnya, tanaman dan hutan jadi kering kerontang dan kita susah mendapatkan air bersih atau air minum. Mahakam sudah disusupi air laut. Air Waduk Manggar makin menurun. Sementara kebakaran hutan dan lahan (karhutla) menjadi-jadi sampai asap atau jerebunya mengganggu negara tetangga.

Pengeluaran rumah tangga pasti bertambah. Beli tandon dan beli air. Biasanya harga air swasta yang diambil dari air tanah langsung melonjak.
Di saat kita dalam kondisi seperti itu, ada fenomena lain yang rasanya sangat tidak masuk akal. Kita harus antri BBM dan pemadaman listrik bergiliran. Kembali ke zaman dulu lagi. Listrik mati, banyak UMKM yang terpukul, anak-anak tak bisa belajar.


Katanya kita penyumbang migas terbanyak, katanya kilang minyak Pertamina Balikpapan terbesar di Indonesia, kok bisa-bisanya kita sulit mendapat BBM. Kita harus antri berjam-jam bahkan sampai tengah malam. Malah ada isyarat harga BBM bakal naik lagi.
Sudah tidak adil dalam distribusi BBM, kita juga dicekik dengan kebijakan Dana Bagi Hasil (DBH) Migas yang sangat menyakitkan. TKD-nya dipangkas Rp20 triliun. Kemudian Kaltim semakin meringis, karena Pusat juga tidak mau membayar DBH yang sudah menjadi hak daerah (DBH Kurang Salur). Besarnya sekitar Rp5,8 triliun. Akibatnya, Pemprov Kaltim tak bisa bayar TPP ribuan Nakes.
Katanya kita pemasok batu bara berjuta ton kepada berbagai negara di dunia, tapi kok bisa-bisanya PLN kita ngos-ngosan beroperasi karena kesulitan mendapatkan batu bara. Kita dipaksa harus menerima kenyataan dengan diterapkannya kebijakan pemadaman bergilir. Masyallah, kita kembali ke zaman byar pet lagi.
Kalau Salim Dower tahu, pasti sejuta sumpah serapah kotor nyerocos dari mulutnya. Pasti dia bilang kita “bungul dan tambuk.” Kita hanya “makondo” tapi tak punya otak. Bahkan mungkin sampai diludahi sama Salim Dower.
Selain cobaan dari Tuhan, ini juga potret buram dari pengelolaan alam yang tidak bijak dan cerdas. Katanya sumber daya alam untuk kemakmuran kita semua, buktinya hanya segelintir orang yang merasakan. Itu pun sebagian besar orang dari luar.
Berkaitan BBM, ada yang bilang ini juga ujian “kesaktian” dari Gubernur Rudy Mas’ud dengan Bani Mas’ud-nya. Bukankah mereka pemain minyak. Keluarga Raja Minyak yang sukses dari Kampung Baru. Apalagi bosnya di Jakarta adalah Bahlil Lahadalia, yang juga Ketua Umum DPP Golkar.
“Masa Rudy, Hasanuddin dan Rahmad Mas’ud yang berpuluh tahun bisnis minyak dan memimpin Golkar di Kaltim, tak bisa merengek kepada Bahlil,” kata seorang warganet.
Menyelamatkan masalah BBM di Kaltim tak bisa lagi dengan hitung-hitungan resmi. Harus ada kebijakan khusus dari Pusat. Pertimbangannya hanya satu. “Masa Kaltim yang menjadi ladang minyak nasional tapi rakyat daerahnya harus mengemis untuk mendapatkan setetes BBM. Sangat ironis dan tak masuk akal.”
Syukur rakyat Kaltim orang sabar. Tak ada niat memblokade kilang minyak Balikpapan. Tak ada niat menahan ratusan tongkang di Sungai Mahakam. Tapi apa rakyat Kaltim harus mati di lumbungnya sendiri. Sudah IKN-nya tak pernah ditengok-tengok lagi. Kita sepertinya sudah di ambang putus asa yang paling dalam. Ternyata kita benar-benar lagi tidak bahagia. Stres dan sakit hati.(*)
![]()

