KAJIAN TEMATIK SURAT AL-JINN—Ayat 4

Oleh Masykur Sarmian

بسم الله الرحمن الرحيم

وَأَنَّهُ كَانَ يَقُولُ سَفِيهُنَا عَلَى اللَّهِ شَطَطًا

“Dan sesungguhnya orang yang kurang akal di antara kami selalu mengatakan perkataan yang melampaui batas terhadap Allah.”
—QS. Al-Jinn Ayat 4

Penjelasan Tematik

Setelah menyatakan keimanan kepada Allah dan menyucikan-Nya dari segala kekurangan, para jin mulai melakukan evaluasi terhadap masa lalu mereka. Mereka menyadari bahwa selama ini kesesatan yang mereka jalani bukan semata-mata lahir dari ketidaktahuan, tetapi juga karena mereka mengikuti ucapan-ucapan yang keliru tentang Allah tanpa pernah mengujinya dengan kebenaran.

Allah mengabadikan pengakuan mereka :

وَأَنَّهُ كَانَ يَقُولُ سَفِيهُنَا عَلَى اللَّهِ شَطَطًا

“Sesungguhnya orang yang bodoh di antara kami selalu mengatakan perkataan yang melampaui batas terhadap Allah.”

Pengakuan ini menunjukkan sebuah keberanian moral yang sangat tinggi. Orang yang telah memperoleh hidayah tidak hanya berani mengakui kebenaran, tetapi juga berani mengakui bahwa dirinya pernah tersesat. Ia tidak sibuk mencari kambing hitam, melainkan jujur melihat akar kesalahannya.

Kesesatan Sering Berasal dari Pemimpin yang Tidak Bijaksana

Kata سَفِيهُنَا (safīhunā) berarti “orang yang bodoh”, “dangkal akalnya”, atau “tidak memiliki kebijaksanaan”. Sebagian ulama tafsir menjelaskan bahwa yang dimaksud adalah pemimpin atau tokoh di kalangan jin yang mengajak kepada kesesatan, bahkan ada yang menafsirkannya sebagai Iblis.

Apa pun makna yang dipilih, ayat ini menunjukkan bahwa kebodohan yang paling berbahaya bukanlah kurangnya pengetahuan, melainkan ketika seseorang berbicara tentang Allah tanpa ilmu, lalu diikuti oleh banyak orang.

Sepanjang sejarah, kerusakan besar sering kali bermula dari tokoh yang disegani, tetapi kehilangan kejujuran. Ucapannya dipercaya, pendapatnya diikuti, sementara isi perkataannya justru menjauhkan manusia dari petunjuk Allah.

Karena itu, Islam mengajarkan agar setiap pendapat diukur dengan wahyu, bukan semata-mata dengan siapa yang mengucapkannya.

Berbicara tentang Allah Tanpa Ilmu Adalah Penyimpangan Besar

Para jin mengakui bahwa pemimpin mereka dahulu telah berkata:

عَلَى اللَّهِ شَطَطًا

“Perkataan yang sangat melampaui batas terhadap Allah.”

Kata شَطَطًا (syathathā) menggambarkan sesuatu yang sangat jauh dari kebenaran, melampaui batas, dan menyimpang secara ekstrem.

Ayat ini mengingatkan bahwa dosa terbesar bukan sekadar berbuat salah, tetapi mengatasnamakan Allah untuk membenarkan kesalahan. Ketika manusia mulai berbicara tentang halal dan haram tanpa ilmu, mengatasnamakan agama demi kepentingan pribadi, atau menggambarkan Allah sesuai hawa nafsunya, saat itulah penyimpangan menjadi semakin berbahaya.

Al-Qur’an berkali-kali memperingatkan agar manusia tidak mengatakan sesuatu tentang Allah tanpa dasar ilmu. Sebab kesalahan dalam memahami Allah akan melahirkan kesalahan dalam memahami agama, lalu berujung pada rusaknya kehidupan.

Keberanian Mengoreksi Keyakinan Lama

Ayat ini juga mengajarkan bahwa hidayah melahirkan keberanian untuk mengoreksi keyakinan yang selama ini dianggap benar.

Tidak mudah bagi seseorang untuk mengakui bahwa pandangan yang diwarisi sejak lama ternyata keliru. Ego sering kali membuat manusia lebih memilih mempertahankan kesalahan daripada mengakui kebenaran.

Dalam psikologi dikenal konsep belief revision, yaitu kemampuan seseorang memperbaiki keyakinannya ketika menemukan bukti yang lebih benar. Orang yang matang secara intelektual dan spiritual tidak takut mengubah pendapat apabila kebenaran telah tampak jelas.

Sebaliknya, orang yang diperbudak oleh ego akan terus mempertahankan kesalahan hanya karena tidak ingin kehilangan gengsi.

Pelajaran Kehidupan

Ayat ini mengajarkan agar kita tidak mudah menerima setiap informasi hanya karena datang dari tokoh yang kita kagumi. Islam menghormati ulama, guru, dan pemimpin, tetapi penghormatan itu tidak berarti menghilangkan sikap kritis yang dibimbing oleh Al-Qur’an dan Sunnah.

Setiap manusia dapat benar dan dapat pula keliru. Karena itu, ukuran kebenaran bukanlah popularitas seseorang, melainkan kesesuaiannya dengan petunjuk Allah.

Di sisi lain, ayat ini mengajarkan kerendahan hati untuk mengakui kekeliruan masa lalu. Tidak ada kehinaan dalam mengakui kesalahan. Justru itulah awal dari pertumbuhan dan kematangan. Orang yang enggan mengoreksi dirinya akan sulit berkembang, sedangkan orang yang berani mengakui kekeliruannya sedang membuka pintu menuju kebijaksanaan.

Saudara…

Banyak manusia tersesat bukan karena mereka membenci kebenaran, tetapi karena terlalu mudah mempercayai orang yang salah.

Mereka mengikuti tanpa berpikir, membenarkan tanpa mengkaji, dan menerima tanpa menimbang.

Al-Qur’an mengajarkan sikap yang berbeda. Hormatilah para ulama, cintailah para guru, dengarkan nasihat orang-orang saleh, tetapi tetap jadikan wahyu sebagai ukuran terakhir.

Jangan pernah membiarkan kekaguman kepada manusia mengalahkan ketaatan kepada Allah.

Dan apabila suatu hari Allah memperlihatkan kepada kita bahwa ada keyakinan atau kebiasaan yang selama ini ternyata keliru, janganlah malu untuk memperbaikinya.

Sebab kemuliaan seseorang tidak diukur dari sedikitnya kesalahan yang pernah ia lakukan, tetapi dari keberaniannya kembali kepada kebenaran ketika Allah telah menunjukkannya.

Karena pada akhirnya, hidayah bukan hanya mengubah apa yang kita ketahui, tetapi juga mengubah keberanian kita untuk meninggalkan kesalahan dan berjalan di atas jalan yang diridhai Allah.

Wallahu A’lam.
Samarinda, 24 Juli 2026

Loading