KAJIAN TEMATIK SURAT AL-JINN—Ayat 3

Oleh Masykur Sarmian

بسم الله الرحمن الرحيم

وَأَنَّهُ تَعَالَىٰ جَدُّ رَبِّنَا مَا اتَّخَذَ صَاحِبَةً وَلَا وَلَدًا

“Dan sesungguhnya Mahatinggi keagungan Tuhan kami. Dia tidak mempunyai istri dan tidak pula mempunyai anak.”
—QS. Al-Jinn Ayat 3

Penjelasan Tematik

Setelah menyatakan keimanan mereka kepada Al-Qur’an dan berjanji tidak akan mempersekutukan Allah, para jin melanjutkan pengakuannya dengan menyucikan Allah dari segala sifat yang tidak layak bagi-Nya. Inilah salah satu ciri utama hidayah. Ketika seseorang benar-benar mengenal Allah, pemahamannya tentang Tuhan akan semakin bersih dari khayalan, mitos, dan berbagai keyakinan yang lahir dari imajinasi manusia.

Allah mengabadikan ucapan mereka:

وَأَنَّهُ تَعَالَىٰ جَدُّ رَبِّنَا

“Dan sesungguhnya Mahatinggi keagungan Tuhan kami.”

Ungkapan ini menunjukkan pengakuan akan kemuliaan, kebesaran, dan keagungan Allah yang berada di atas segala sesuatu. Kata تَعَالَىٰ (ta‘ālā) berarti Mahatinggi, yaitu Allah yang Mahasuci dari segala kekurangan dan tidak dapat disamakan dengan makhluk-Nya. Adapun kata جَدُّ (jadd) dalam ayat ini dipahami oleh para ulama sebagai keagungan, kebesaran, kemuliaan, dan kekuasaan Allah yang sempurna.

Dengan demikian, sebelum berbicara tentang apa yang Allah tidak miliki, Al-Qur’an terlebih dahulu mengajak manusia mengenal siapa Allah sebenarnya. Tauhid selalu dimulai dengan pengenalan terhadap keagungan Allah, bukan sekadar penolakan terhadap kesyirikan.

Allah Tidak Serupa dengan Makhluk

Para jin kemudian berkata:

مَا اتَّخَذَ صَاحِبَةً وَلَا وَلَدًا

“Dia tidak mempunyai istri dan tidak pula mempunyai anak.”

Ayat ini merupakan bantahan terhadap berbagai keyakinan yang berkembang pada masa itu. Sebagian orang Arab meyakini bahwa para malaikat adalah anak-anak perempuan Allah. Sebagian kaum Nasrani meyakini Nabi Isa sebagai anak Allah. Di sisi lain, berbagai tradisi kuno menggambarkan tuhan-tuhan mereka memiliki keluarga, pasangan, bahkan keturunan sebagaimana manusia.

Al-Qur’an menolak seluruh anggapan tersebut karena semuanya berangkat dari kecenderungan manusia memproyeksikan sifat-sifat dirinya kepada Tuhan. Padahal Allah adalah Pencipta, sedangkan seluruh makhluk adalah ciptaan. Yang Mahasempurna tidak membutuhkan pasangan untuk menyempurnakan diri-Nya dan tidak membutuhkan keturunan untuk melanjutkan keberadaan-Nya.

Inilah salah satu fondasi akidah Islam, yaitu tanzih, menyucikan Allah dari segala sifat yang menyerupai makhluk.

Kesalahan Besar Berawal dari Kesalahan Mengenal Allah

Jika diperhatikan, hampir seluruh penyimpangan akidah dalam sejarah manusia berawal dari kesalahan memahami hakikat Tuhan. Ketika manusia membayangkan Allah seperti dirinya, maka lahirlah berbagai keyakinan yang menyimpang. Ada yang menganggap Tuhan memiliki keturunan, ada yang menganggap Tuhan membutuhkan perantara tertentu, bahkan ada yang menganggap makhluk tertentu memiliki sebagian sifat ketuhanan.

Padahal Al-Qur’an terus mengingatkan bahwa Allah berada di luar segala keterbatasan makhluk. Dia tidak dilahirkan dan tidak melahirkan. Dia tidak membutuhkan apa pun, sementara seluruh makhluk membutuhkan-Nya.

Dalam filsafat agama, kecenderungan menggambarkan Tuhan dengan sifat-sifat manusia dikenal sebagai anthropomorphism, yaitu memanusiakan Tuhan. Islam justru mengajarkan keseimbangan: Allah dapat dikenal melalui nama-nama dan sifat-sifat-Nya yang mulia, tetapi hakikat Zat-Nya tetap berada di luar jangkauan akal manusia.

Mengenal Allah Melahirkan Kemerdekaan Jiwa

Ayat ini sesungguhnya tidak hanya berbicara tentang akidah, tetapi juga tentang pembebasan manusia.

Ketika seseorang benar-benar memahami bahwa Allah Mahatinggi dan Mahasempurna, ia akan menyadari bahwa tidak ada satu pun makhluk yang layak ditakuti secara mutlak, dipuja secara berlebihan, atau dijadikan tempat bergantung selain Allah.

Tauhid membebaskan manusia dari segala bentuk penghambaan kepada makhluk. Ia tidak lagi diperbudak oleh harta, jabatan, popularitas, atau kekuasaan manusia. Sebab ia mengetahui bahwa semua itu hanyalah ciptaan yang sama-sama bergantung kepada Allah.

Dalam psikologi modern, manusia yang memiliki pusat orientasi hidup yang jelas akan memiliki:

inner security, yaitu ketenangan batin yang tidak mudah terguncang oleh perubahan keadaan. Seorang mukmin memperoleh ketenangan itu karena sandaran hidupnya adalah Allah Yang Mahakekal, bukan sesuatu yang bersifat sementara.

Pelajaran Kehidupan

Ayat ini mengajarkan bahwa mengenal Allah dengan benar adalah fondasi dari seluruh kehidupan. Kesalahan dalam memandang Allah akan melahirkan kesalahan dalam memandang diri sendiri, manusia lain, bahkan kehidupan secara keseluruhan.

Semakin seseorang memahami keagungan Allah, semakin kecil kesombongan dalam dirinya. Ia menyadari bahwa ilmu yang dimilikinya hanyalah setetes dari lautan ilmu Allah, kekuatan yang dimilikinya hanyalah amanah yang suatu saat akan diambil kembali, dan seluruh keberhasilannya hanyalah karunia dari Tuhan Yang Mahamulia.

Itulah sebabnya para ulama sering mengatakan bahwa awal dari seluruh ilmu adalah mengenal Allah. Karena dari sanalah lahir kerendahan hati, rasa syukur, keikhlasan, dan keberanian menjalani kehidupan.

Saudara…

Banyak manusia mengenal Allah hanya sebatas nama, tetapi belum benar-benar mengenal keagungan-Nya. Akibatnya, ketika menghadapi masalah, mereka lebih takut kepada manusia daripada kepada Allah. Mereka lebih berharap kepada makhluk daripada kepada Sang Pencipta.

Padahal semakin kita mengenal Allah, semakin kita merasakan bahwa seluruh makhluk hanyalah hamba seperti diri kita.

Maka perbaikilah cara kita mengenal Allah. Bacalah ayat-ayat-Nya, renungkan nama-nama-Nya yang indah, dan hayatilah kebesaran-Nya dalam setiap peristiwa kehidupan.

Karena ketika hati dipenuhi oleh keagungan Allah, seluruh ketakutan kepada selain-Nya akan mengecil, seluruh kesombongan akan luluh, dan hidup akan dipenuhi ketenangan yang tidak dapat diberikan oleh apa pun selain iman.

Itulah awal dari tauhid yang sejati, yaitu mengenal Allah sebagaimana Dia memperkenalkan diri-Nya kepada hamba-hamba-Nya.

Wallahu A’lam.
Samarinda, 23 Juli 2026

Loading