TADABBUR SURAT AL-WĀQI’AH—Ayat 52

Oleh Masykur Sarmian

لَآكِلُونَ مِن شَجَرٍ مِّن زَقُّومٍ

“Pasti akan makan dari pohon zaqqum.”

—QS. Al-Wāqi’ah: 52

Penjelasan Tematik

Setelah Allah menyebut mereka sebagai الضَّالُّونَ الْمُكَذِّبُونَ, orang-orang yang sesat dan mendustakan, ayat ini membawa gambaran yang sangat konkret: لَآكِلُونَ مِن شَجَرٍ مِّن زَقُّومٍ “Pasti akan makan dari pohon zaqqum.” Al-Qur’an tidak lagi berbicara dalam bentuk konsep abstrak. Ia menghadirkan gambaran yang dapat dirasakan manusia: makanan, sesuatu yang biasanya menjadi simbol kenikmatan dan sumber kehidupan, justru berubah menjadi bagian dari azab.

Pohon pada umumnya adalah simbol kehidupan. Ia memberi buah, naungan, udara, dan manfaat. Tetapi zaqqum menjadi kebalikan dari semua itu. Ia bukan sumber kenyamanan, melainkan bagian dari hukuman. Gambaran ini membuat kita memahami bahwa di akhirat, manusia akan berhadapan dengan konsekuensi yang sepenuhnya berbeda dari apa yang ia kenal di dunia.

Menariknya, Al-Qur’an menggunakan kata لَآكِلُونَ, “sungguh mereka akan memakan.” Ada penegasan yang sangat kuat. Ini bukan sekadar kemungkinan, tetapi kepastian bagi kelompok yang terus mendustakan dan mempertahankan jalan tersebut hingga kematian.

Gambaran tentang zaqqum juga disebutkan di tempat lain:

إِنَّ شَجَرَتَ الزَّقُّومِ ۝ طَعَامُ الْأَثِيمِ

“Sesungguhnya pohon zaqqum itu adalah makanan bagi orang yang banyak berbuat dosa.”
(QS. Ad-Dukhān: 43–44)

Dalam Surat Aṣ-Ṣāffāt, Allah juga menjelaskan:

إِنَّهَا شَجَرَةٌ تَخْرُجُ فِي أَصْلِ الْجَحِيمِ

“Sesungguhnya ia adalah pohon yang keluar dari dasar neraka Jahim.”
(QS. Aṣ-Ṣāffāt: 64)

Dengan demikian, gambaran zaqqum bukan sekadar metafora tentang penderitaan. Al-Qur’an menyebutnya sebagai bagian dari realitas azab akhirat yang Allah kabarkan kepada manusia.

Dalam psikologi modern terdapat konsep aversive conditioning, yaitu proses ketika seseorang belajar menghubungkan suatu stimulus dengan konsekuensi yang sangat tidak menyenangkan sehingga muncul dorongan untuk menghindarinya. Peringatan Al-Qur’an tentang neraka memiliki dimensi pendidikan moral semacam ini: manusia diberi gambaran tentang konsekuensi agar tidak memilih jalan yang mengarah kepadanya.

Namun Al-Qur’an tidak hanya mendidik manusia melalui rasa takut. Ia juga menyeimbangkannya dengan harapan, rahmat, dan gambaran kenikmatan surga. Dengan demikian terbentuk keseimbangan antara targhīb dan tarhīb: dorongan melalui harapan dan peringatan melalui rasa takut.

Allah berfirman:

نَبِّئْ عِبَادِي أَنِّي أَنَا الْغَفُورُ الرَّحِيمُ ۝ وَأَنَّ عَذَابِي هُوَ الْعَذَابُ الْأَلِيمُ

“Kabarkanlah kepada hamba-hamba-Ku bahwa Aku-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang, dan bahwa azab-Ku adalah azab yang sangat pedih.”
(QS. Al-Ḥijr: 49–50)

Dua sisi ini harus berjalan bersama. Jika hanya takut, manusia dapat putus asa. Jika hanya berharap tanpa rasa takut, manusia dapat meremehkan dosa. Al-Qur’an membangun keseimbangan agar hati berjalan antara khauf dan raja’.

Di sisi lain, ayat ini juga memberikan pelajaran psikologis yang dalam tentang consequence blindness, kecenderungan manusia mengabaikan konsekuensi jangka panjang ketika sedang mengejar keinginan saat ini. Seseorang mungkin mengetahui bahwa kebiasaan tertentu merusak dirinya, tetapi tetap melakukannya karena kenikmatan sesaat terasa lebih nyata daripada akibat yang masih jauh.

Inilah yang terjadi ketika manusia hidup tanpa kesadaran akhirat. Ia hanya melihat “makanan” yang ada di depan mata, tetapi tidak melihat konsekuensi yang menunggu di belakangnya.

Karena itu, iman kepada akhirat berfungsi sebagai moral horizon. Ia memperluas pandangan manusia agar tidak hanya melihat apa yang menguntungkan sekarang, tetapi juga apa yang akan terjadi setelah kehidupan dunia berakhir.

Rasulullah Muhammad SAW bersabda:

لَوْ أَنَّ قَطْرَةً مِنَ الزَّقُّومِ قَطَرَتْ فِي دَارِ الدُّنْيَا لَأَفْسَدَتْ عَلَى أَهْلِ الدُّنْيَا مَعَايِشَهُمْ، فَكَيْفَ بِمَنْ يَكُونُ طَعَامَهُ

“Seandainya setetes dari zaqqum diteteskan ke dunia, niscaya akan merusak kehidupan penduduk dunia. Maka bagaimana dengan orang yang zaqqum menjadi makanannya ?”
(HR. At-Tirmidzi)

Hadis ini memperkuat betapa beratnya gambaran azab tersebut.

Munāsabah dan Penguatan Dalil

Allah berfirman:

هَٰذَا نُزُلُهُمْ يَوْمَ الدِّينِ

“Itulah hidangan untuk mereka pada hari pembalasan.”
(QS. Al-Wāqi’ah: 56)

Ayat ini nantinya akan menjadi penutup rangkaian gambaran makanan dan minuman bagi kelompok tersebut. Sebutan نُزُل biasanya menunjuk kepada hidangan atau jamuan yang disiapkan bagi seorang tamu. Tetapi di sini istilah tersebut digunakan secara ironis: “jamuan” mereka adalah bagian dari azab.

Allah juga berfirman:

إِنَّ شَجَرَتَ الزَّقُّومِ ۝ طَعَامُ الْأَثِيمِ

“Sesungguhnya pohon zaqqum itu adalah makanan orang yang banyak berbuat dosa.”
(QS. Ad-Dukhān: 43–44)

Rasulullah Muhammad SAW bersabda:

إِنَّ الْحَمِيمَ لَيُصَبُّ عَلَى رُءُوسِهِمْ فَيَنْفُذُ الْحَمِيمُ حَتَّى يَخْلُصَ إِلَى جَوْفِهِ فَيَسْلُتُ مَا فِي جَوْفِهِ

“Sesungguhnya air yang sangat panas akan dituangkan ke atas kepala mereka, lalu menembus hingga ke dalam tubuh mereka dan menghancurkan apa yang ada di dalam perut mereka.”
(HR. At-Tirmidzi)

Hadis-hadis tentang azab semacam ini tidak dimaksudkan untuk sekadar menakut-nakuti, tetapi untuk membangunkan kesadaran moral sebelum manusia menghadapi kenyataan yang tidak dapat lagi dihindari.

Pelajaran Kehidupan

Jangan menilai sebuah pilihan hanya berdasarkan kenikmatan yang terasa sekarang. Tanyakan juga: ke mana pilihan ini membawa saya ?

Ada keputusan yang terasa berat hari ini tetapi menyelamatkan masa depan. Ada pula keputusan yang terasa menyenangkan hari ini tetapi perlahan menghancurkan kehidupan.

Menolak kezaliman mungkin membuat kita kehilangan keuntungan. Menjaga kejujuran mungkin membuat kita kehilangan kesempatan. Menahan diri dari sesuatu yang haram mungkin terasa berat. Tetapi seorang mukmin belajar melihat lebih jauh daripada kenikmatan sesaat.

Ia belajar bertanya bukan hanya, “Apa yang saya dapat ?”, tetapi “Apa akibatnya kelak di hadapan Allah ?”

Renungan Peradaban

Peradaban yang hanya mengejar konsumsi tanpa menghitung konsekuensi akan menghancurkan dirinya sendiri. Kita melihat bagaimana kerakusan terhadap sumber daya dapat merusak lingkungan, bagaimana budaya konsumtif menghasilkan limbah, dan bagaimana pengejaran keuntungan jangka pendek dapat menghancurkan masa depan generasi berikutnya.

Karena itu, pesan ayat ini dapat dibaca dalam perspektif peradaban: setiap kenikmatan memiliki konsekuensi moral.

Jika manusia mengubah dunia menjadi tempat konsumsi tanpa batas, maka apa yang hari ini dianggap “kemakmuran” dapat menjadi sumber kehancuran esok hari.

Al-Qur’an mengajarkan manusia untuk tidak menjadi budak kenikmatan. Kenikmatan harus diarahkan, dikendalikan, dan dipertanggungjawabkan.

Zaqqum menjadi simbol yang sangat kuat: sesuatu yang dikonsumsi manusia dapat berubah menjadi sesuatu yang menghancurkan manusia ketika ia hidup tanpa batas moral.

Karenanya jangan hanya bertanya apakah sesuatu itu enak.Akan tetapi tanyakan apakah ia halal.

Jangan hanya bertanya apakah sesuatu itu menguntungkan dan memberi kesenangan dunianya, tapi tanyakan apakah ia diridhai Allah.

Karena sesungguhnya seorang mukmin tidak hidup hanya untuk menikmati apa yang ada di dunia. Ia hidup untuk memastikan bahwa apa yang dinikmatinya, jangan sampai menjadi sebab kehancurannya di akhirat kelak.

Wallāhu A’lam
Samarinda, 07 November 2026

Loading