TADABBUR SURAT AL-WĀQI’AH —Ayat 50

Oleh Masykur Sarmian

لَمَجْمُوعُونَ إِلَىٰ مِيقَاتِ يَوْمٍ مَّعْلُومٍ

“Pasti akan dikumpulkan pada waktu yang telah ditentukan pada hari yang sudah diketahui.”

—QS. Al-Wāqi’ah: 50

Penjelasan Tematik

Ayat ini menyempurnakan pernyataan pada ayat sebelumnya. Setelah Allah menyebut al-awwalīn wal-ākhirīn, manusia terdahulu dan manusia kemudian, kini Allah menegaskan, لَمَجْمُوعُونَ, “pasti akan dikumpulkan.” Kata ini mengandung penegasan yang sangat kuat. Kebangkitan bukan kemungkinan, bukan simbol, dan bukan sekadar gagasan tentang kehidupan setelah mati. Seluruh manusia akan dikumpulkan.

Tetapi Al-Qur’an tidak berhenti pada kepastian peristiwa. Allah melanjutkan dengan kalimat:

إِلَىٰ مِيقَاتِ يَوْمٍ مَّعْلُومٍ
“pada waktu yang telah ditentukan pada hari yang sudah diketahui.”

Ini memberikan dimensi lain yang sangat penting: akhirat bukan peristiwa yang kacau atau tidak teratur. Ia berada dalam ketetapan Allah yang sempurna.

Manusia hidup dengan kalender, jam, jadwal, dan tenggat waktu. Kita membuat janji karena waktu memiliki nilai. Kita menentukan kapan pekerjaan dimulai, kapan rapat berlangsung, kapan perjalanan dilakukan, dan kapan sebuah proyek harus selesai. Tetapi ada satu “jadwal” yang tidak pernah bisa kita ubah, yaitu jadwal perjumpaan dengan Allah.

Tidak ada seorang pun yang mengetahui kapan tepatnya kiamat terjadi. Allah menyimpan waktunya dalam ilmu-Nya. Rasulullah Muhammad SAW sendiri ketika ditanya tentang kapan kiamat akan terjadi tidak memberikan tanggal atau tahun, tetapi menjelaskan tanda-tandanya.

Allah berfirman:

إِنَّ اللَّهَ عِندَهُ عِلْمُ السَّاعَةِ

“Sesungguhnya Allah, hanya di sisi-Nya ilmu tentang hari Kiamat.”
(QS. Luqmān: 34)

Ini mengajarkan sebuah disiplin spiritual yang sangat penting : manusia harus hidup dengan kesadaran terhadap sesuatu yang pasti, meskipun waktunya tidak diketahui.

Dalam psikologi modern terdapat konsep future orientation, yaitu kemampuan seseorang mempertimbangkan konsekuensi masa depan ketika mengambil keputusan pada masa kini. Orang dengan orientasi masa depan yang baik cenderung lebih mampu menunda kepuasan sesaat demi tujuan jangka panjang.

Islam membentuk manusia dengan orientasi masa depan yang jauh lebih dalam. Bukan hanya masa depan dunia, tetapi masa depan akhirat. Seorang mukmin belajar menunda sebagian kesenangan hari ini demi keselamatan yang lebih besar di kemudian hari. Ia menahan diri dari sesuatu yang haram meskipun menguntungkan. Ia bersedekah meskipun harta berkurang secara kasat mata. Ia menjaga amanah meskipun tidak ada yang melihat. Mengapa ? Karena ia hidup dengan kesadaran bahwa ada hari yang telah ditentukan.

Sebaliknya, manusia yang hanya berorientasi pada kepuasan sekarang mudah terjebak dalam present bias, yaitu kecenderungan memilih keuntungan segera meskipun keputusan itu merugikan masa depan.

Kita dapat melihat fenomena ini dalam banyak hal. Seseorang mengetahui bahwa kesehatan penting, tetapi tetap mengorbankannya demi kenikmatan sesaat. Seseorang mengetahui bahwa utang berlebihan berbahaya, tetapi tetap membeli demi gengsi. Sebuah masyarakat mengetahui bahwa lingkungan harus dijaga, tetapi terus mengeksploitasi sumber daya demi keuntungan jangka pendek.

Kesadaran akhirat memperbaiki cara manusia menghitung nilai. Ia mengajarkan bahwa tidak semua keuntungan adalah keuntungan, dan tidak semua kerugian adalah kerugian.

Allah berfirman:

وَالْآخِرَةُ خَيْرٌ وَأَبْقَىٰ

“Padahal kehidupan akhirat itu lebih baik dan lebih kekal.”
(QS. Al-A’lā: 17)

Ayat ini mengubah horizon manusia. Dunia bukan tujuan akhir, melainkan perjalanan menuju kehidupan yang lebih panjang dan lebih menentukan.

Rasulullah Muhammad SAW bersabda:

كُنْ فِي الدُّنْيَا كَأَنَّكَ غَرِيبٌ أَوْ عَابِرُ سَبِيلٍ

“Jadilah engkau di dunia seperti orang asing atau seorang musafir.”
(HR. Al-Bukhari)

Seorang musafir tidak membangun seluruh hidupnya di tempat persinggahan. Ia menggunakan tempat tersebut, mengambil bekal, menjaga perjalanan, lalu melanjutkan menuju tujuan.

Begitulah seharusnya seorang mukmin memandang dunia. Kita bekerja, membangun keluarga, mencari ilmu, mengembangkan ekonomi, dan membangun peradaban. Tetapi hati tetap sadar bahwa semua itu bukan terminal terakhir.

Munāsabah dan Penguatan Dalil

Allah berfirman:

وَأَنَّ السَّاعَةَ آتِيَةٌ لَّا رَيْبَ فِيهَا وَأَنَّ اللَّهَ يَبْعَثُ مَن فِي الْقُبُورِ

“Dan sungguh, hari Kiamat itu pasti datang, tidak ada keraguan padanya, dan sungguh, Allah akan membangkitkan siapa pun yang ada di dalam kubur.”
(QS. Al-Ḥajj: 7)

Ayat ini hampir menjadi penjelasan langsung bagi QS. Al-Wāqi’ah ayat 50 : kiamat pasti datang, dan manusia yang berada di kubur akan dibangkitkan.

Allah juga berfirman:

يَوْمَ يَجْمَعُكُمْ لِيَوْمِ الْجَمْعِ ۖ ذَٰلِكَ يَوْمُ التَّغَابُنِ

“Pada hari ketika Dia mengumpulkan kalian untuk menghadapi hari pengumpulan. Itulah hari ditampakkannya kesalahan-kesalahan.”
(QS. At-Taghābun: 9)

Perhatikan hubungan yang sangat indah dengan Surat Al-Wāqi’ah. Hari itu adalah yaum al-jam‘, hari pengumpulan. Semua manusia dari berbagai zaman akan berada dalam satu peristiwa yang sama.

Rasulullah Muhammad SAW juga bersabda:

مَنْ أَحَبَّ لِقَاءَ اللَّهِ أَحَبَّ اللَّهُ لِقَاءَهُ

“Barang siapa mencintai pertemuan dengan Allah, Allah mencintai pertemuannya.”
(HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Hadis ini memberikan dimensi spiritual yang sangat indah. Pertemuan dengan Allah yang bagi sebagian manusia merupakan sesuatu yang menakutkan, bagi orang beriman dapat menjadi puncak kerinduan.

Pelajaran Kehidupan

Jangan menunggu “nanti” untuk memperbaiki hidup. Kita tidak tahu kapan waktu kita berakhir. Yang kita tahu hanya satu: waktunya pasti datang.

Karena itu, setiap hari seharusnya memiliki nilai akhirat. Bekerja bisa menjadi ibadah. Mengurus keluarga bisa menjadi ibadah. Mendidik anak bisa menjadi ibadah. Berdagang dengan jujur bisa menjadi ibadah. Bahkan istirahat pun dapat bernilai ibadah jika diniatkan agar tubuh memiliki kekuatan untuk melakukan kebaikan.

Persoalannya bukan berapa lama kita hidup, tetapi untuk apa waktu yang diberikan Allah kita gunakan.

Renungan Peradaban

Peradaban yang kehilangan orientasi masa depan akan mudah menjadi peradaban yang konsumtif. Ia mengambil sebanyak mungkin hari ini dan meninggalkan beban sebanyak mungkin untuk generasi berikutnya.

Peradaban Qur’ani berpikir jauh lebih panjang. Ia membangun masjid yang mungkin tidak ia nikmati sendiri. Menanam pohon yang buahnya mungkin dimakan generasi berikutnya. Mendidik anak yang kelak melanjutkan perjuangan. Menulis ilmu yang mungkin dibaca orang setelah ia wafat.

Kesadaran akhirat justru membuat manusia menjadi lebih visioner, bukan lebih pasif.

Karena ia tahu bahwa hidupnya akan berakhir, maka ia ingin meninggalkan sesuatu yang tetap bernilai setelah dirinya tiada.

Inilah paradoks iman: kesadaran akan kematian justru membuat manusia lebih serius membangun kehidupan yang sesungguhnya,
sebab seorang mukmin tidak hanya bertanya, “Apa yang akan saya dapatkan hari ini?”

Ia bertanya lebih jauh:
“Apa yang akan saya bawa ketika seluruh manusia dikumpulkan pada waktu yang telah Allah tetapkan?”

Pertanyaan itu mengubah cara kita menggunakan waktu, harta, ilmu, kekuasaan, dan seluruh kesempatan yang Allah titipkan.

Dan ketika manusia benar-benar memahami makna مِيقَاتِ يَوْمٍ مَّعْلُومٍ, ia akan sadar bahwa hidup ini bukan tanpa jadwal.
Bahwa ada satu pertemuan yang pasti.
Dan tidak seorang pun yang akan mengalami keterlambatan.

Wallāhu A’lam
Samarinda, 05 November 2026

Loading