TADABBUR SURAT AL-WĀQI’AH—Ayat 47

Oleh Masykur Sarmian
وَكَانُوا يَقُولُونَ أَإِذَا مِتْنَا وَكُنَّا تُرَابًا وَعِظَامًا أَإِنَّا لَمَبْعُوثُونَ
“Dan mereka selalu berkata, ‘Apakah apabila kami telah mati, menjadi tanah dan tulang belulang, apakah kami benar-benar akan dibangkitkan?”
—QS. Al-Wāqi’ah: 47
Penjelasan Tematik
Setelah Allah menjelaskan bahwa Ashḥābusy-Syimāl dahulu hidup dalam kemewahan dan terus-menerus mempertahankan dosa besar, ayat ini membuka akar pemikiran yang membuat mereka berani hidup tanpa kendali: mereka tidak percaya bahwa kehidupan akan berakhir pada kebangkitan dan pertanggungjawaban. Pertanyaan mereka, أَإِذَا مِتْنَا وَكُنَّا تُرَابًا وَعِظَامًا أَإِنَّا لَمَبْعُوثُونَ, bukan sekadar pertanyaan tentang proses biologis setelah kematian. Di baliknya terdapat persoalan yang jauh lebih mendalam: Bagaimana mungkin manusia yang telah hancur menjadi tanah dan tulang akan hidup kembali?
Mereka melihat kematian sebagai akhir karena ukuran yang mereka gunakan adalah pengalaman manusia. Ketika tubuh telah membusuk, daging hilang, tulang menjadi rapuh, dan akhirnya kembali menjadi unsur tanah, bagi mereka tidak masuk akal jika manusia yang sama dapat hidup kembali. Mereka menggunakan pengalaman terhadap sesuatu yang diciptakan untuk menilai kemampuan Zat Yang Menciptakan.
Inilah salah satu bentuk keterbatasan cara berpikir manusia. Kita sering mengira bahwa sesuatu mustahil hanya karena kita belum mampu membayangkan bagaimana prosesnya terjadi. Padahal ketidakmampuan memahami mekanisme tidak otomatis berarti ketidakmungkinan secara hakikat.
Allah mengabadikan pertanyaan serupa:
مَن يُحْيِي الْعِظَامَ وَهِيَ رَمِيمٌ قُلْ يُحْيِيهَا الَّذِي أَنشَأَهَا أَوَّلَ مَرَّةٍ
“Siapakah yang dapat menghidupkan tulang-belulang yang telah hancur ? Katakanlah, ‘Yang akan menghidupkannya ialah Zat yang menciptakannya pertama kali.'”
(QS. Yāsīn: 78–79)
Jawaban Al-Qur’an sangat sederhana tetapi sangat mendasar: yang menciptakan pertama kali tentu mampu menciptakan kembali.
Persoalannya bukan pada kemampuan Allah, tetapi pada keterbatasan manusia dalam memahami kekuasaan-Nya.
Dalam psikologi modern terdapat konsep cognitive closure, yaitu kecenderungan manusia ingin segera memperoleh jawaban yang terasa pasti dan sesuai dengan kerangka pengetahuannya. Ketika seseorang tidak mampu menjelaskan sesuatu berdasarkan pengalaman yang ia miliki, ia cenderung menolaknya daripada mengakui keterbatasan pengetahuannya. Ada pula availability heuristic, kecenderungan menilai kemungkinan sesuatu berdasarkan apa yang mudah ditemukan dalam pengalaman atau ingatan. Karena manusia tidak pernah melihat seseorang yang telah menjadi tanah lalu hidup kembali dalam kehidupan dunia, maka pikirannya mengatakan, “Itu mustahil.”
Namun Al-Qur’an mengajarkan bahwa pengalaman manusia bukanlah batas seluruh realitas. Ada wilayah yang berada di luar jangkauan indera, tetapi tetap merupakan kebenaran. Iman kepada akhirat adalah salah satu bentuk penerimaan bahwa realitas tidak berhenti pada apa yang dapat kita lihat dan ukur.
Allah berfirman:
الَّذِينَ يُؤْمِنُونَ بِالْغَيْبِ
“Yaitu mereka yang beriman kepada yang gaib.”
(QS. Al-Baqarah: 3)
Iman kepada yang gaib bukan berarti percaya tanpa dasar. Ia berarti mengakui bahwa kemampuan indera dan akal manusia memiliki batas, sementara wahyu Allah memberikan informasi tentang realitas yang tidak dapat dijangkau manusia melalui pengalaman biasa.
Karena itu, persoalan Ashḥābusy-Syimāl bukan hanya kesalahan intelektual. Ada persoalan moral di balik penolakan mereka. Jika tidak ada kebangkitan, maka manusia merasa bebas dari pertanggungjawaban. Tidak mengherankan jika orang yang ingin hidup tanpa batas moral akan lebih mudah menolak adanya hari pembalasan.
Al-Qur’an menyebut:
بَلْ يُرِيدُ الْإِنسَانُ لِيَفْجُرَ أَمَامَهُ يَسْأَلُ أَيَّانَ يَوْمُ الْقِيَامَةِ
“Bahkan manusia hendak terus berbuat maksiat sepanjang hidupnya. Dia bertanya, ‘Kapankah hari Kiamat itu ?'”
(QS. Al-Qiyāmah: 5–6)
Perhatikan hubungan yang sangat dalam antara dua hal tersebut. Keinginan untuk terus melakukan dosa dapat mendorong manusia mempertanyakan hari kiamat. Jadi, terkadang manusia bukan terlebih dahulu menolak akhirat lalu hidup bebas; justru keinginan untuk hidup bebas dapat membuatnya mencari alasan untuk menolak akhirat.
Dalam psikologi moral terdapat konsep motivated reasoning, yaitu kecenderungan manusia menggunakan kemampuan berpikir bukan semata-mata untuk menemukan kebenaran, tetapi untuk mempertahankan kesimpulan yang sudah diinginkannya. Seseorang dapat memiliki kecerdasan tinggi, tetapi kecerdasannya digunakan untuk mencari pembenaran bagi keinginan, bukan untuk mencari kebenaran.
Inilah mengapa Al-Qur’an tidak hanya mengajak manusia berpikir, tetapi juga membersihkan hati. Akal membutuhkan kejujuran moral agar mampu menerima kebenaran.
Rasulullah Muhammad SAW bersabda:
الْكَيِّسُ مَنْ دَانَ نَفْسَهُ وَعَمِلَ لِمَا بَعْدَ الْمَوْتِ
“Orang yang cerdas adalah orang yang mengevaluasi dirinya dan beramal untuk kehidupan setelah kematian.”
(HR. At-Tirmidzi)
Kecerdasan dalam perspektif Islam bukan hanya kemampuan memahami dunia, tetapi kemampuan melihat kehidupan secara utuh sampai kepada akhirat.
Munāsabah dan Penguatan Dalil
Allah berfirman:
أَيَحْسَبُ الْإِنسَانُ أَلَّن نَّجْمَعَ عِظَامَهُ بَلَىٰ قَادِرِينَ عَلَىٰ أَن نُّسَوِّيَ بَنَانَهُ
“Apakah manusia mengira bahwa Kami tidak akan mengumpulkan tulang-belulangnya ? Bahkan Kami mampu menyusun kembali ujung-ujung jarinya.”
(QS. Al-Qiyāmah: 3–4)
Ayat ini bahkan membawa manusia lebih jauh: bukan hanya mengembalikan tulang, tetapi Allah mampu mengembalikan detail manusia dengan sempurna.
Allah juga berfirman:
وَهُوَ الَّذِي يَبْدَأُ الْخَلْقَ ثُمَّ يُعِيدُهُ وَهُوَ أَهْوَنُ عَلَيْهِ
“Dan Dialah yang memulai penciptaan, kemudian mengulanginya kembali, dan mengulanginya itu lebih mudah bagi-Nya.”
(QS. Ar-Rūm: 27)
Rasulullah Muhammad SAW juga bersabda:
يُحْشَرُ النَّاسُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ حُفَاةً عُرَاةً غُرْلًا
“Manusia akan dikumpulkan pada hari Kiamat dalam keadaan tidak beralas kaki, tidak berpakaian, dan belum disunat.”
(HR. Al-Bukhari dan Muslim)
Hadis ini memperkuat kepastian bahwa manusia benar-benar akan dikumpulkan kembali setelah kematian.
Pelajaran Kehidupan
Jangan menjadikan keterbatasan pengalaman sebagai ukuran keterbatasan kekuasaan Allah. Banyak hal yang dahulu dianggap mustahil oleh manusia akhirnya menjadi kenyataan setelah ilmu berkembang. Namun kebangkitan bukan sesuatu yang harus menunggu pembuktian teknologi manusia. Ia adalah janji Allah yang kebenarannya berdiri di atas wahyu.
Yang lebih penting adalah pertanyaan berikut: Jika saya benar-benar yakin bahwa suatu hari akan dibangkitkan, bagaimana saya akan menjalani hidup hari ini ?
Keyakinan terhadap akhirat seharusnya mengubah cara kita memperlakukan manusia, menggunakan harta, memegang jabatan, berbicara, dan mengambil keputusan. Sebab tidak ada satu pun yang benar-benar selesai ketika kehidupan dunia berakhir.
Renungan Peradaban
Peradaban yang kehilangan kesadaran akhirat akan mudah terjebak dalam present bias, yaitu kecenderungan manusia memberikan nilai yang terlalu besar kepada keuntungan sekarang dibandingkan konsekuensi jangka panjang.
Itulah sebabnya seseorang dapat merusak lingkungan demi keuntungan hari ini, mengambil hak masyarakat demi kekayaan pribadi, atau mengorbankan generasi mendatang demi kepentingan politik sesaat. Ia melihat masa kini, tetapi tidak menghitung masa depan.
Iman kepada hari kebangkitan membentuk cara berpikir yang berbeda. Seorang mukmin tidak hanya menghitung keuntungan dunia, tetapi juga memperhitungkan pertanggungjawaban di hadapan Allah.
Karena itu, ayat أَإِذَا مِتْنَا وَكُنَّا تُرَابًا وَعِظَامًا bukan hanya pertanyaan orang-orang kafir pada masa lalu. Ia juga menjadi pertanyaan bagi manusia modern: apakah kita hidup seolah-olah kematian adalah akhir, atau hidup dengan kesadaran bahwa kematian hanyalah pintu menuju pertanggungjawaban yang lebih besar?
Jawaban atas pertanyaan itu akan menentukan bukan hanya bagaimana kita mati, tetapi bagaimana kita menjalani seluruh kehidupan.
Wallāhu A’lam
Samarinda, 2 November 2026
![]()

