TADABBUR SURAT AL-WĀQI’AH —Ayat 40
Oleh Masykur Sarmian
وَثُلَّةٌ مِّنَ الْآخِرِينَ
“Dan segolongan besar pula dari orang-orang yang kemudian.”
—QS. Al-Wāqi’ah : 40
Penjelasan Tematik
Ayat ini merupakan pasangan yang sangat indah dengan ayat sebelumnya. Setelah Allah menyebut ثُلَّةٌ مِّنَ الْأَوَّلِينَ, “segolongan besar dari orang-orang yang terdahulu”, kini Allah menyebut وَثُلَّةٌ مِّنَ الْآخِرِينَ, “dan segolongan besar pula dari orang-orang yang kemudian.” Pengulangan kata ثُلَّة menjadi pesan yang sangat kuat bahwa rahmat Allah tidak berhenti pada generasi masa lalu. Sebagaimana ada banyak orang saleh dari generasi terdahulu, akan selalu ada pula orang-orang beriman dari generasi yang datang kemudian. Cahaya petunjuk Allah tidak pernah menjadi milik eksklusif suatu zaman.
Di sini Al-Qur’an mengajarkan sebuah perspektif sejarah yang sangat penting. Manusia sering terjebak dalam romantisme masa lalu. Kita mudah mengatakan bahwa generasi dahulu lebih baik, lebih kuat, lebih sederhana, atau lebih dekat dengan nilai agama, lalu tanpa sadar memandang generasi setelahnya sebagai generasi yang semakin rusak. Padahal ayat ini justru memperlihatkan bahwa di antara orang-orang yang datang kemudian juga terdapat ثُلَّةٌ, kelompok besar yang memperoleh kemuliaan. Ini berarti setiap zaman memiliki peluang untuk melahirkan manusia-manusia terbaiknya.
Dalam psikologi sosial terdapat fenomena generational stereotyping, yaitu kecenderungan memberi label tertentu kepada satu generasi secara keseluruhan. Generasi tua dapat menganggap generasi muda malas, dangkal, atau tidak berkarakter; sementara generasi muda dapat menganggap generasi tua ketinggalan zaman dan tidak relevan. Jika stereotip ini dibiarkan, hubungan antargenerasi menjadi penuh kecurigaan. Padahal manusia tidak dapat membangun masa depan dengan memutus hubungan antara pengalaman masa lalu dan energi generasi baru.
Ayat ini justru menghadirkan keseimbangan :
ثُلَّةٌ مِّنَ الْأَوَّلِينَ وَثُلَّةٌ مِّنَ الْآخِرِينَ.
Ada banyak orang baik dahulu dan ada banyak pula orang baik kemudian. Artinya, tugas generasi bukan saling merendahkan, tetapi saling meneruskan kebaikan.
Allah berfirman :
وَالَّذِينَ جَاءُوا مِن بَعْدِهِمْ
“Dan orang-orang yang datang setelah mereka…”
Kemudian mereka berdoa :
رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالْإِيمَانِ
“Ya Tuhan kami, ampunilah kami dan saudara-saudara kami yang telah lebih dahulu beriman daripada kami.”
(QS. Al-Ḥasyr : 10)
Inilah hubungan antar generasi yang sehat dalam pandangan Al-Qur’an. Generasi baru tidak menghina generasi lama, tetapi mendoakan mereka. Generasi lama tidak merasa memiliki monopoli atas kebaikan, tetapi memberi ruang bagi generasi baru untuk melanjutkan perjuangan. Ada kesinambungan, bukan persaingan yang memutus.
Dalam konteks pendidikan, hal ini sangat penting. Setiap generasi membawa tantangan yang berbeda. Generasi terdahulu mungkin berjuang menghadapi keterbatasan sarana, penjajahan, kemiskinan, atau akses ilmu yang terbatas. Generasi sekarang menghadapi banjir informasi, teknologi digital, perubahan budaya, krisis identitas, dan kompleksitas global. Cara menghadapi tantangan boleh berubah, tetapi prinsip iman dan akhlak tidak boleh hilang.
Di sinilah konsep intergenerational learning menjadi penting dalam psikologi pendidikan, yaitu proses ketika generasi saling belajar satu sama lain. Yang muda membutuhkan kebijaksanaan pengalaman, sedangkan yang tua membutuhkan energi, kreativitas, dan perspektif baru dari generasi muda. Peradaban akan tumbuh ketika keduanya saling melengkapi.
Rasulullah Muhammad SAW bersabda :
لَيْسَ مِنَّا مَنْ لَمْ يَرْحَمْ صَغِيرَنَا وَيُوَقِّرْ كَبِيرَنَا
“Bukan termasuk golongan kami orang yang tidak menyayangi yang muda dan tidak menghormati yang tua.”
(HR. At-Tirmidzi)
Hadis ini memberikan fondasi etika hubungan antar generasi. Anak muda tidak boleh kehilangan hormat kepada pengalaman, sementara orang tua tidak boleh kehilangan kasih sayang kepada energi dan pertumbuhan generasi muda.
Namun ayat ini juga membawa optimisme besar. Kadang-kadang seseorang merasa zaman sudah terlalu rusak sehingga tidak mungkin lagi lahir generasi yang baik. Al-Qur’an tidak mengajarkan pesimisme seperti itu. Selama manusia masih hidup, selalu ada peluang lahirnya ثُلَّةٌ مِّنَ الْآخِرِينَ, kelompok besar dari generasi kemudian yang menjaga iman dan kebaikan.
Karena itu, tugas kita bukan hanya mengeluhkan keadaan generasi sekarang, tetapi mendidik generasi yang akan datang. Jika kita ingin melihat anak-anak yang mencintai Al-Qur’an, jangan hanya mengkritik mereka ketika jauh dari Al-Qur’an, ciptakan rumah yang membuat Al-Qur’an terasa hidup. Jika kita ingin generasi yang jujur, jangan hanya mengajarkan kejujuran melalui kata-kata, tunjukkan kejujuran dalam perilaku sehari-hari. Jika kita ingin mereka mencintai ilmu, jangan hanya memerintahkan mereka belajar, jadilah manusia yang sendiri mencintai ilmu.
Munāsabah dan Penguatan Dalil
Allah berfirman :
وَجَعَلْنَاهُمْ أَئِمَّةً يَهْدُونَ بِأَمْرِنَا
“Dan Kami menjadikan mereka pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah Kami.”
(QS. Al-Anbiyā’ : 73)
Ayat ini memperlihatkan bahwa Allah dapat melahirkan generasi yang menjadi pembawa petunjuk bagi generasi berikutnya.
Allah juga berfirman :
وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا
“Dan jadikanlah kami pemimpin bagi orang-orang yang bertakwa.”
(QS. Al-Furqān : 74)
Doa ini menunjukkan bahwa seorang mukmin seharusnya memiliki orientasi generasional : bukan hanya menjadi baik sendirian, tetapi menjadi sumber kebaikan bagi orang lain.
Rasulullah Muhammad SAW bersabda :
إِنَّ اللَّهَ لَيَبْعَثُ لِهَذِهِ الْأُمَّةِ عَلَى رَأْسِ كُلِّ مِائَةِ سَنَةٍ مَنْ يُجَدِّدُ لَهَا دِينَهَا
“Sesungguhnya Allah akan mengutus bagi umat ini pada setiap penghujung seratus tahun seseorang yang memperbarui bagi mereka urusan agama mereka.”
(HR. Abu Dawud)
Hadis ini memberi optimisme bahwa perjalanan umat tidak berhenti. Dalam sejarah selalu ada orang-orang yang Allah jadikan sebab bagi pembaruan, kebangkitan, dan penjagaan agama.
Pelajaran Kehidupan
Jangan pernah mengatakan, “Generasi sekarang sudah tidak bisa diselamatkan.” Kalimat seperti itu justru dapat menjadi alasan untuk berhenti mendidik. Setiap anak membawa kemungkinan. Setiap generasi membawa peluang. Yang belum baik hari ini belum tentu tetap buruk esok hari.
Karena itu, tugas orang tua, guru, dai, dan pemimpin bukan sekadar menghakimi generasi, tetapi membangun ekosistem yang memungkinkan mereka tumbuh menjadi generasi terbaik. Jangan hanya bertanya, “Mengapa anak-anak sekarang seperti ini ?” Tanyakan juga, “Warisan seperti apa yang sedang kita berikan kepada mereka ?”
Renungan Peradaban
Peradaban besar tidak dibangun dengan nostalgia. Ia dibangun ketika satu generasi mampu mewariskan nilai kepada generasi berikutnya sambil memberi mereka kebebasan untuk menemukan cara baru dalam menghadapi zamannya.
Generasi terdahulu memberikan akar. Generasi kemudian menumbuhkan cabang. Jika akar diputus, pohon kehilangan kekuatan. Jika cabang dilarang tumbuh, pohon kehilangan masa depan. Karena itu, hubungan antara generasi harus seperti pohon : akar tetap kuat, tetapi pertumbuhan terus berlangsung.
ثُلَّةٌ مِّنَ الْآخِرِينَ
adalah pesan optimisme bahwa Allah selalu membuka ruang bagi lahirnya generasi yang baik. Jangan takut kepada masa depan selama masih ada manusia yang mau menanam iman, ilmu, akhlak, dan keteladanan hari ini.
Sebab mungkin saja generasi yang kita anggap “belum jadi apa-apa” hari ini, justru menjadi generasi yang kelak Allah pilih untuk membawa umat menuju kebangkitan.
Dan boleh jadi, tugas kita bukan menjadi generasi yang paling terkenal dalam sejarah, tetapi menjadi generasi yang berhasil melahirkan generasi yang lebih baik daripada dirinya.
Wallāhu A’lam
Samarinda, 30 Oktober 2026
![]()

