SAMARINDA — Menyucikan diri sebelum beribadah kerap kali hanya dianggap sebagai rutinitas fisik penggugur kewajiban. Padahal, jika diresapi dengan kesadaran penuh, setiap tetesan air wudu memiliki kekuatan spiritual untuk menenangkan jiwa dan membersihkan noda dosa manusia.

Pesan mendalam tersebut disampaikan oleh Ustadzah Hayati Fashiha usai mengisi Kajian Fiqih Wanita di Masjid Nurul Mu’minin Pemprov Kalimantan Timur, Samarinda, Jumat (25/9/2026).

Ustadzah Hayati mengimbau umat Islam untuk tidak menyucikan diri secara terburu-buru atau dalam keadaan emosi. Menurutnya, kesempurnaan wudu tidak hanya terletak pada terpenuhinya rukun dan sunah, melainkan pada kemampuan menghadirkan rasa khusyuk dan kesadaran hati sejak awal basuhan.

“Wudu itu harus benar, rukun dan sunahnya kalau bisa dipenuhi. Ketika berwudu, jangan terburu-buru agar hati ikut menjadi lebih tenang,” ujar Ustadzah Hayati.

Ustadzah Hayati Fashiha saat ceramah pada kejian fiqih wanita di Masjid Nurul Mu’minin pemprov Kaltim, Jumat (25/9/2026).(foto: Jalia/jurnalborneo)

Ia membeberkan rahasia wudu yang berdampak pada ketenangan jiwa, yakni dengan memahami doa serta meresapi bahwa tiap anggota tubuh yang dibasuh sedang dibersihkan dari dosa. Ketika membasuh wajah, seorang hamba seyogianya memohon ampun atas dosa pandangan dan lisan. Begitu pula saat membasuh tangan, hati dihadirkan untuk memohon pembersihan dari perbuatan salah yang pernah dilakukan oleh tangan.

Persiapan batin melalui wudu yang tenang ini menjadi kunci utama dalam meraih kualitas salat yang khusyuk. Menurut Ustadzah Hayati, salat yang didasari dengan ketenangan hati akan menjadi benteng sekaligus tempat mengadu terbaik bagi manusia di tengah himpitan persoalan hidup sehari-hari.

“Jadikan setiap ibadah sebagai kesempatan menghadirkan Allah dalam kehidupan sehari-hari,” pungkasnya menutup kajian.(ja/mn)

Loading