MADIUN — Kementerian Haji dan Umrah (Kemenhaj) Republik Indonesia mendorong perubahan paradigma pelaksanaan manasik haji dari sekadar rutinitas teori menjadi proses pembentukan jemaah yang mandiri. Calon jemaah diharapkan sudah memahami seluruh tata cara ibadah secara matang sebelum melangkah ke Tanah Suci, sehingga tidak bergantung penuh pada pendamping atau Kelompok Bimbingan Ibadah Haji dan Umrah (KBIHU).
Pesan tegas tersebut disampaikan Menteri Haji dan Umrah RI, Mochamad Irfan Yusuf, saat membuka acara Kick Off Manasik Haji Akbar Nasional Tahun 2026 di Stadion Wilis, Kota Madiun, Jumat (25/9/2026). Kegiatan ini menjadi penanda dimulainya rangkaian persiapan ibadah haji untuk musim 1448 H/2027 M secara nasional.
“Kami ingin jemaah kita mandiri dan tidak bergantung kepada KBIHU ketika sudah berada di Tanah Suci. Kita ingin semua calon jemaah haji memahami wajib, rukun, dan sunah haji sejak dari Tanah Air,” tegas Irfan.
Menhaj Mochamad Irfan Yusuf meminta seluruh KBIHU memaksimalkan masa bimbingan dengan memberikan penjelasan sedetail mungkin. Menurutnya, indikator keberhasilan pembimbingan terlihat ketika jemaah mampu bertindak tepat dan tidak lagi mengalami kebingungan mengenai tata cara ibadah saat tiba di Arab Saudi.
“Jangan sampai nanti jemaah sudah berada di sana tetapi masih bingung, ‘Saya harus apa? Umrah wajib bagaimana caranya?’ Semuanya harus sudah siap dari sini,” tambahnya.
Selain pendalaman rukun dan syarat ibadah, Menhaj menginstruksikan agar manasik membekali jemaah dengan pemahaman fikih yang bijak. Penjelasan utuh mengenai perbedaan pendapat (khilafiyah) penting diberikan sejak awal guna mencegah perdebatan antarjemaah di lapangan. Jemaah juga wajib dibekali pemahaman terkait kebijakan operasional haji, seperti skema layanan tanazul dan murur.
Acara Kick Off Manasik Haji Akbar Nasional yang dirangkaikan dengan Expo UMKM dan Ekosistem Haji & Umrah ini diikuti secara luring di Madiun serta disaksikan oleh ribuan calon jemaah haji dari berbagai daerah di Indonesia secara daring.(rls/mn)
![]()

