TADABBUR SURAT AL-WĀQI’AH—Ayat 6

Oleh Masykur Sarmian

فَكَانَتْ هَبَاءً مُنْبَثًّا

“Maka jadilah gunung-gunung itu debu yang beterbangan.”

—QS. Al-Wāqi’ah: 6

Penjelasan Tematik

Ayat ini merupakan kelanjutan yang sangat erat dari ayat sebelumnya. Setelah Allah menggambarkan bumi yang diguncangkan dan gunung-gunung yang dihancurkan, kini Al-Qur’an memperlihatkan hasil akhir dari kehancuran tersebut: sesuatu yang selama ini kita kenal sebagai gunung tidak lagi memiliki bentuk, struktur, maupun kekokohan. Ia berubah menjadi هَبَاءً مُنْبَثًّا, debu atau partikel-partikel halus yang beterbangan dan tersebar.

Gambaran ini semakin memperdalam pesan tiga ayat sebelumnya. Al-Wāqi’ah tidak hanya mengatakan bahwa dunia akan berakhir, tetapi secara bertahap membongkar fondasi psikologis manusia yang merasa bahwa dunia adalah tempat yang permanen. Bumi yang selama ini kokoh akan diguncangkan, gunung yang selama ini menjadi simbol keteguhan akan dihancurkan, kemudian gunung itu sendiri akan kehilangan identitasnya sebagai gunung. Sesuatu yang dahulu tampak begitu besar dan kuat akhirnya menjadi sesuatu yang ringan, kecil, dan tersebar tanpa daya.

Kata هَبَاءً (habā’an) menggambarkan sesuatu yang sangat halus dan ringan, seperti partikel kecil yang tampak ketika cahaya masuk melalui celah sebuah ruangan. Sedangkan مُنْبَثًّا (munbats-san) memberikan kesan sesuatu yang tersebar luas dan tidak lagi terkumpul dalam satu bentuk. Dengan pilihan bahasa yang sangat kuat ini, Al-Qur’an seakan ingin memperlihatkan bahwa pada hari tersebut bukan hanya benda-benda besar yang hancur, tetapi identitas dan struktur yang selama ini membuat manusia merasa aman juga akan kehilangan bentuknya.

Di sinilah terdapat pelajaran psikologis yang sangat dalam. Manusia cenderung membangun sense of permanence, yaitu perasaan bahwa sesuatu yang sudah lama ada akan tetap ada. Kita tumbuh dengan melihat gunung yang sama, rumah yang sama, tanah yang sama, dan lingkungan yang sama, sehingga keberadaan semuanya terasa seperti sesuatu yang tidak perlu dipertanyakan. Bahkan dalam kehidupan pribadi, manusia sering membuat rencana puluhan tahun seolah-olah dirinya pasti akan sampai ke sana. Padahal kemampuan manusia untuk memprediksi masa depan sangat terbatas.

Dalam psikologi juga dikenal endowment effect, yaitu kecenderungan manusia memberikan nilai yang lebih tinggi kepada sesuatu hanya karena ia merasa sudah memilikinya. Rumah yang kita tempati, tanah yang kita kuasai, harta yang kita kumpulkan, bahkan kedudukan yang kita miliki perlahan menjadi bagian dari identitas diri. Kita tidak lagi sekadar memiliki sesuatu, tetapi merasa bahwa kehilangan sesuatu berarti kehilangan sebagian dari diri kita. Surat Al-Wāqi’ah mengoreksi keterikatan seperti ini dengan menunjukkan bahwa bahkan gunung pun suatu saat akan kehilangan bentuknya. Kalau gunung yang begitu kokoh saja tidak memiliki keabadian, apalagi kepemilikan manusia yang sangat sementara.

Karena itu, ayat ini tidak mengajarkan manusia untuk membenci dunia, melainkan mengajarkan cara memiliki dunia tanpa diperbudak olehnya. Kita boleh membangun rumah, perusahaan, lembaga pendidikan, kota, bahkan peradaban yang besar. Kita boleh memiliki kekayaan dan menggunakan teknologi untuk kemajuan. Namun semua itu harus ditempatkan dalam kesadaran bahwa dunia hanyalah tempat persinggahan dan seluruh kepemilikan pada akhirnya akan kembali kepada Allah. Kesadaran semacam ini justru melahirkan manusia yang lebih bebas, karena ia tidak mudah hancur ketika kehilangan sesuatu yang bersifat sementara.

Allah berfirman:

اعْلَمُوا أَنَّمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا لَعِبٌ وَلَهْوٌ وَزِينَةٌ وَتَفَاخُرٌ بَيْنَكُمْ وَتَكَاثُرٌ فِي الْأَمْوَالِ وَالْأَوْلَادِ

“Ketahuilah, sesungguhnya kehidupan dunia itu hanyalah permainan, sesuatu yang melalaikan, perhiasan, bermegah-megahan di antara kamu, serta berlomba-lomba dalam banyaknya harta dan anak.”
(QS. Al-Hadid: 20)

Ayat tersebut tidak berarti bahwa kehidupan dunia tidak bernilai, tetapi mengingatkan bahwa nilai dunia berubah ketika manusia menjadikannya sebagai tujuan terakhir. Apa yang tampak besar di mata manusia dapat menjadi sangat kecil ketika dibandingkan dengan kehidupan akhirat. Inilah perspektif yang sedang dibangun Surat Al-Wāqi’ah sejak awal: jangan ukur sesuatu hanya dari ukurannya di dunia, tetapi ukurlah dari nilainya di hadapan Allah.

Munāsabah dan Penguatan Dalil

Gambaran gunung yang berubah menjadi sesuatu yang ringan dan tersebar juga dijelaskan dalam firman Allah:

وَتَكُونُ الْجِبَالُ كَالْعِهْنِ الْمَنْفُوشِ

“Dan gunung-gunung menjadi seperti bulu yang dihambur-hamburkan.”
(QS. Al-Qāri’ah: 5)

Allah juga berfirman:

وَكَانَتِ الْجِبَالُ كَثِيبًا مَهِيلًا

“Dan gunung-gunung menjadi seperti gundukan pasir yang berhamburan.”
(QS. Al-Muzzammil: 14)

Ayat-ayat tersebut memperlihatkan satu gambaran yang konsisten: sesuatu yang selama ini menjadi simbol kekuatan akan kehilangan seluruh kekuatannya ketika berhadapan dengan kedahsyatan hari kiamat.

Rasulullah Muhammad SAW juga mengingatkan manusia agar tidak tertipu oleh kenikmatan dunia melalui sabdanya:

مَا لِي وَلِلدُّنْيَا، مَا أَنَا فِي الدُّنْيَا إِلَّا كَرَاكِبٍ اسْتَظَلَّ تَحْتَ شَجَرَةٍ ثُمَّ رَاحَ وَتَرَكَهَا

“Apa urusanku dengan dunia? Aku di dunia hanyalah seperti seorang pengendara yang berteduh di bawah sebuah pohon, kemudian ia pergi meninggalkannya.”
(HR. At-Tirmidzi)

Hadis ini memberikan perspektif yang sangat kuat terhadap ayat keenam. Dunia bukan tempat tinggal yang kekal, melainkan persinggahan yang harus dimanfaatkan sebelum perjalanan dilanjutkan.

Pelajaran Kehidupan

Kesadaran bahwa segala sesuatu akan berubah seharusnya membuat kita lebih bijaksana dalam memiliki dan melepaskan. Jangan sampai harta menjadi sumber kesombongan ketika datang dan menjadi sumber kehancuran ketika pergi. Jangan sampai jabatan membuat kita merasa lebih tinggi daripada orang lain, lalu ketika jabatan itu hilang kita merasa kehilangan harga diri. Jangan pula menjadikan pencapaian dunia sebagai satu-satunya sumber identitas, karena semua yang bersifat duniawi memiliki masa berlakunya.

Manusia yang memahami ayat ini akan tetap bersungguh-sungguh dalam membangun kehidupan, tetapi hatinya tidak bergantung kepada hasil duniawi. Ia bekerja keras tanpa menyembah hasil kerja, memiliki tanpa merasa memiliki secara mutlak, dan menikmati nikmat tanpa melupakan Sang Pemberi nikmat.

Renungan Peradaban

Peradaban manusia sering kali diukur dari sesuatu yang tampak: gedung yang tinggi, kota yang luas, teknologi yang canggih, kekayaan yang besar, dan kekuatan yang mampu menguasai wilayah. Semua itu memang penting sebagai bagian dari pembangunan kehidupan, tetapi Surat Al-Wāqi’ah mengingatkan bahwa ukuran material tidak pernah cukup untuk menentukan nilai sebuah peradaban. Gunung pun dapat menjadi debu. Maka sebesar apa pun bangunan yang didirikan manusia, ia tetap tidak akan mampu menjadi ukuran keabadian.

Peradaban yang matang justru adalah peradaban yang memahami kefanaan. Kesadaran bahwa semua yang dibangun akan ditinggalkan membuat manusia tidak mudah mabuk oleh keberhasilan. Ia akan bertanya untuk apa kekayaan dikumpulkan, untuk siapa ilmu dikembangkan, ke mana kekuasaan diarahkan, dan apa yang akan tersisa setelah generasi berikutnya mengambil alih semua yang telah dibangun. Dari pertanyaan semacam itulah lahir peradaban yang tidak hanya mengejar kemajuan, tetapi juga mengejar keberkahan.

Ayat keenam akhirnya mengajarkan sebuah pembalikan perspektif yang sangat kuat: yang tampak besar belum tentu kekal, dan yang tampak kecil belum tentu tidak bernilai. Gunung dapat menjadi debu, tetapi amal yang ikhlas dapat tetap bernilai di sisi Allah. Karena itu, jangan habiskan hidup hanya untuk menjadi besar di mata manusia. Jadilah bernilai di hadapan Allah, sebab pada hari Al-Wāqi’ah seluruh ukuran dunia akan runtuh dan hanya ukuran-Nya yang tetap berlaku.

Wallāhu A’lam
Samarinda, 26 September 2026

Loading