JAKARTA — Menjelang peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) Kemerdekaan Republik Indonesia, lini masa media sosial dihebohkan dengan maraknya konten video aksi demonstrasi. Namun, sebagian besar video tersebut dipastikan merupakan rekaman lama atau hasil suntingan yang disebarkan ulang tanpa keterangan waktu dan konteks yang jelas.
Menyikapi situasi ini, Menteri Komunikasi dan Digital (Menkomdigi) Meutya Hafid mengajak masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan serta tidak mudah mempercayai maupun menyebarluaskan konten-konten hoaks yang berpotensi memicu keresahan publik.
Meutya mengungkapkan, pola penyebaran disinformasi saat ini semakin beragam dan sengaja dirancang untuk membangun narasi keliru. Sebagian informasi dibuat sepenuhnya fiktif, sementara lainnya memanfaatkan material lama atau bahkan kejadian di luar negeri yang diklaim seolah-olah terjadi di Indonesia.
Beberapa unggahan bahkan diiringi narasi seolah-olah tengah terjadi demonstrasi besar yang sengaja ditutup-tutupi oleh media, termasuk tuduhan adanya penghapusan konten secara masif.
“Teman-teman harus melihat videonya. Ada yang betul-betul hoaks karena kejadiannya tidak pernah ada. Ada yang menggunakan gambar lama dengan konteks yang berbeda. Ada pula yang menggabungkan kejadian di negara lain seolah-olah terjadi di Indonesia,” jelas Meutya saat memberikan keterangan di Kantor Kementerian Komdigi, Jakarta Pusat, Senin (3/8/2026).

Ia menambahkan, dampak dari penyebaran informasi palsu ini bukan sekadar persoalan teknis di ruang digital, melainkan langsung memengaruhi psikologis masyarakat sehari-hari, seperti rasa cemas berlebih hingga kekhawatiran saat harus beraktivitas di luar rumah.
Hal tersebut, menurut Meutya, tidak hanya mencederai nilai-nilai demokrasi, tetapi juga merusak semangat nasionalisme yang semestinya dijaga menjelang momen peringatan hari kemerdekaan.
Peran Strategis Media Massa Tangkal Disinformasi
Di tengah gempuran arus informasi palsu tersebut, Meutya menegaskan pentingnya peran media massa sebagai garda terdepan dalam menyajikan informasi yang akurat, berimbang, dan cepat. Kecepatan pemberitaan berbasis verifikasi jurnalistik dinilai menjadi kunci utama untuk menutup ruang bagi masuknya disinformasi yang dapat membingungkan publik.
“Teman-teman media silakan meliput dan memberitakan yang benar dengan cepat agar tidak memberi ruang kepada disinformasi yang masuk,” ujar Meutya.
Ia pun mengajak seluruh elemen bangsa, baik media maupun masyarakat luas, untuk bersama-sama menjaga kesehatan ruang digital. Publik diimbau agar senantiasa bersikap bijak dalam bermedia sosial serta tidak menjadi bagian dari penyebar hoaks yang bertujuan menciptakan ketakutan di tengah masyarakat.
“Maka saya mengimbau, jangan menyebarkan informasi palsu dengan tujuan membuat ketakutan di tengah masyarakat menggunakan data yang tidak benar,” pungkasnya.(rls/mn)
![]()

