JAKARTA – Siapa sangka, bangunan dengan arsitektur kolonial yang berdiri anggun di Jalan Cut Mutia, Menteng, Jakarta Pusat, menyimpan perjalanan sejarah panjang yang melintasi berbagai zaman. Sekilas, orang yang melintas mungkin tidak menyangka bahwa bangunan bergaya klasik Eropa ini adalah sebuah masjid yang menjadi destinasi wisata sejarah sekaligus pusat ibadah umat Muslim di jantung ibu kota.

Syarif Hidayat, seorang marbot yang telah mengabdi di Masjid Cut Meutia sejak 1989, menuturkan bahwa bangunan ini memiliki akar sejarah yang kuat. Berdasarkan catatan sejarah, gedung ini awalnya dibangun sebagai kantor biro arsitektur dan pengembang Belanda, N.V. De Bauploeg, yang rampung pada tahun 1912.

“Bilang orang-orang dulu, bangunan ini jauh sebelum difungsikan sebagai masjid pernah digunakan sebagai kantor pos, kantor Jawatan Kereta Api Belanda, dan kantor Kempetai Angkatan Laut Jepang,” ujar Syarif saat ditemui seusai salat Isya, Jumat (17/7/2026).

Alih Fungsi Berkat Inisiasi AH Nasution

Pasca kemerdekaan, gedung ini sempat berganti-ganti peran. Ia pernah menjadi Kantor Wali Kota Jakarta Pusat, Kantor Perusahaan Daerah Air Minum, hingga kantor Dinas Perumahan Jakarta. Bahkan, gedung ini sempat menjadi kantor Majelis Permusyawaratan Rakyat Sementara (MPRS) era Jenderal AH Nasution. Tak heran, hingga kini aula utama masjid tersebut dikenal sebagai Aula AH Nasution.

Syarif menceritakan, sejarah mencatat bahwa AH Nasution tidak menginginkan gedung tersebut kembali difungsikan sebagai kantor setelah MPRS pindah ke Senayan. “Beliau mengusulkan agar gedung dimanfaatkan masyarakat sekitar sebagai sebuah masjid, karena di sekitar Kebun Sirih masih jarang masjid,” papar Syarif.

Sebelum resmi menjadi rumah ibadah, AH Nasution terlebih dahulu membentuk remaja masjid Cut Meutia pada tahun 1984. Tiga tahun berselang, tepatnya pada 18 Agustus 1987, gedung ini resmi beralih fungsi menjadi masjid melalui Surat Keputusan Gubernur DKI Jakarta Nomor 5184/1987 di masa kepemimpinan Gubernur R. Soeprapto.

Bangunan masjid Cut Mutia tampak dari depan.

Oase di Tengah Hiruk Pikuk Menteng

Kini, Masjid Cut Meutia menjadi oase bagi warga dan pekerja di sekitar Menteng. Lokasinya yang strategis membuat masjid ini selalu ramai didatangi jemaah untuk menunaikan salat fardu maupun sekadar beristirahat di sela kesibukan.

“Adem masjid ini, karena bangunannya tinggi, sirkulasi udaranya juga bagus. Biasanya habis salat zuhur banyak yang istirahat di sini,” ungkap pria asal Tasikmalaya tersebut.

Mihrab masjid Cut Mutia.
Ruang sholat utama untuk pria di masjid Cut Meutia.

Meski begitu, Masjid Cut Meutia tidak melayani jemaah selama 24 jam penuh. Syarif menjelaskan bahwa kebijakan ini diambil demi menjaga kenyamanan dan perawatan bangunan bersejarah tersebut. Bagi musafir yang ingin beristirahat, pihak masjid hanya menyediakan area teras Aula AH Nasution.

Aula AH Nasution Masjid Cut Mutia, banyak warga yang sering tidur dan menginap di sini. 
Lokasi Taman Cut Mutia yang berada di depan masjid sering dijadikan tempat istirahat mereka yang tidak memiliki tempat tinggal.

Syarif mengaku terinspirasi dengan pengelolaan Masjid Jogokariyan di Yogyakarta yang sangat akomodatif bagi jemaah yang bermalam. Namun, ia menyadari adanya tantangan lingkungan yang berbeda. “Kalau di sini belum bisa, lingkungannya yang tidak memungkinkan. Karena jika kami menyatakan buka 24 jam, pasti banyak yang bermalam di sini,” pungkasnya.(mn)

Loading