SAMARINDA – Sekelompok remaja di Samarinda, alih-alih menghabiskan waktu dengan berselancar di dunia maya, mereka justru memilih menantang diri di alam terbuka melalui kegiatan Rimba Adventure Batch 2 di kawasan Batu Besaung, Sempaja Utara, Samarinda, pada Minggu (5/7/2026) menjadi hari yang tak biasa.
Kegiatan yang diinisiasi oleh Sekolah Rimba Samarinda ini memang dirancang khusus untuk memutus ketergantungan remaja terhadap gawai. Selama satu hari penuh, para peserta dipaksa keluar dari zona nyaman mereka untuk bersentuhan langsung dengan hutan, terjalnya tebing gunung, dan tantangan fisik yang menguji mental.
“Tujuannya sederhana, kami ingin mereka merasakan sensasi hidup yang sebenarnya. Tidak ada gawai, tidak ada distraksi, hanya ada diri mereka sendiri dan alam,” ujar Yurni Handayani, penggagas Sekolah Rimba, di sela-sela kegiatan.
Rintangan Fisik hingga Edukasi Hasil Hutan
Petualangan dimulai pukul 08.00 WITA. Setelah pemanasan dengan senam Gemu Famire yang meriah, peserta langsung digembleng dengan berbagai rintangan fisik yang menuntut ketangkasan, mulai dari teknik merayap ala militer hingga meniti tali antar pohon yang menguji adrenalin. Suasana sempat riuh dengan teriakan tawa sekaligus ketegangan peserta saat melintasi jalur yang menantang.


Tak hanya soal fisik, kegiatan ini juga menjadi ajang edukasi. Peserta diajak menyelami kearifan lokal dengan mencari durian jatuhan, biji kemiri, hingga kapulaga. Di sini, mereka tidak sekadar memetik, tetapi juga diajari cara mengolah hasil hutan tersebut hingga menjadi bumbu dapur siap pakai.
Agenda yang sangat menyenangkan ini ditutup dengan makan bersama di atas daun pisang menambah kebersamaan dan saling akrab antar peserta.
Sinergi Keamanan dan Penanganan Darurat
Di balik keseruan tersebut, faktor keselamatan menjadi prioritas utama. Menggandeng relawan medis dari Satu Nadi Kalimantan (SANAK), pihak penyelenggara memastikan bahwa setiap langkah peserta terpantau dengan standar keamanan yang ketat.
Kesiapsiagaan tersebut terbukti saat salah satu peserta mengalami kelelahan ekstrem dan pusing. Tim medis yang dipimpin oleh Rakha Fakhriansyah (Ahzar) segera melakukan tindakan evakuasi menggunakan scoop schecter dari area lembah menuju titik aman.

“Kami tidak mau ambil risiko. Kami siagakan tim medis serta ambulans dari Satria Nakula Sadewa dan PWI Kaltim Peduli di titik terdekat. Syukurlah, setelah diberikan terapi oksigen dan istirahat, kondisi peserta tersebut stabil dan kembali pulih,” ungkap Ahzar.
Bagi para penyelenggara, insiden kecil tersebut justru menjadi pelajaran berharga bagi para remaja tentang pentingnya kerja sama tim dan tanggung jawab.
“Rimba Adventure ini membuktikan bahwa di tengah tantangan hutan, karakter ketangguhan remaja dapat dibentuk melalui pengalaman nyata—sesuatu yang mustahil didapatkan hanya melalui layar gawai.” pungkas Ahzar.(mn)
![]()

