JAKARTA – Dunia pers nasional kehilangan salah satu putra terbaiknya. H. Diapari Sibatangkayu, sosok wartawan senior yang dikenal teguh dalam menjaga marwah profesi dan etika jurnalistik, mengembuskan napas terakhir di RS Polri, Jakarta, Sabtu (4/7/2026) pukul 10.40 WIB, dalam usia 63 tahun.

Kabar kepergian pria kelahiran Padang Sidempuan, 8 Mei 1963 ini, menyisakan duka mendalam bagi insan pers tanah air. Tidak ada tanda-tanda sakit yang berarti; bahkan, rekan sejawat masih mengingat dengan jelas bagaimana sosok yang akrab disapa Sibatangkayu ini masih tampak bugar saat bertugas sebagai penguji Uji Kompetensi Wartawan (UKW) di Bandung, pekan lalu.

“Innalillahi wa inna ilaihi raji’un. Minggu lalu kami baru saja bersama-sama menguji di Bandung. Beliau sosok yang sangat aktif dan berkomitmen tinggi terhadap profesionalisme rekan-rekan wartawan,” ujar Ketua PWI Jaya, Kesit B. Handoyo, dengan nada haru.

Pilar Integritas dan Organisatoris Ulung

Semasa hidupnya, almarhum bukan sekadar jurnalis senior, melainkan organisatoris yang menjadi “jangkar” bagi Persatuan Wartawan Indonesia (PWI). Hingga akhir hayatnya, almarhum menjabat sebagai Anggota Dewan Kehormatan PWI Pusat. Kiprahnya pun tercatat panjang, termasuk saat meletakkan fondasi kuat sebagai Ketua Dewan Kehormatan PWI Jaya periode 2019–2024.

Ketua Umum PWI Pusat, Akhmad Munir, memberikan penghormatan tertinggi bagi almarhum. Menurutnya, dedikasi Sibatangkayu terhadap organisasi adalah pilar penting bagi marwah pers Indonesia.

“PWI sangat kehilangan. Almarhum adalah sosok dengan loyalitas dan integritas tanpa kompromi. Kontribusinya di Dewan Kehormatan Pusat menjadi teladan nyata bagi generasi penerus,” tutur Munir.

Senada dengan itu, Ketua Dewan Kehormatan PWI Pusat, Atal S. Depari, mengenang almarhum sebagai rekan kerja yang kritis namun sangat bersahaja. “Kami kehilangan rekan kerja yang berintegritas tinggi. Rekam jejaknya dalam menegakkan Kode Etik Jurnalistik akan terus menjadi warisan bagi dunia pers,” kenangnya.

Wartawan yang Mencintai Seni
Di balik ketegasan sikapnya dalam membela etika profesi, sosok Sibatangkayu juga dikenal sebagai pribadi yang memiliki sisi humanis yang kental. Selain lihai mengolah kata sebagai wartawan, ia juga memiliki kecintaan pada dunia seni sebagai seorang pencipta lagu.

Sifat hangat almarhum bahkan dirasakan hingga akhir hidupnya. Direktur LUKW PWI Pusat, Aat Surya Safaat, dan Pemred Media Sudut Pandang, Umi Sjarifah, menuturkan bahwa almarhum senantiasa menjalin komunikasi yang baik dengan koleganya, bahkan hingga momen-momen terakhirnya.

Saat ini, jenazah almarhum telah disemayamkan di rumah duka di Jl. Raya Condet 66 Awi No. 28, RT 015/RW 003, Jakarta Timur, dan telah dimakamkan di TPU Kampung Kandang, Jagakarsa, Jakarta Selatan.

Kepergian H. Diapari Sibatangkayu adalah kehilangan besar bagi komunitas pers Indonesia. Selamat jalan, Sang Penjaga Etika. Karya dan dedikasi Anda akan terus menjadi napas perjuangan bagi dunia jurnalistik tanah air.(*/mn)

Loading