JEMBER – Dr. Ir. Bambang Marhaenanto, M.Eng., IPM. ASEAN Eng., saat sedang menguji coba sistem smart greenhouse milik sebuah instansi di luar kota, ia mencoba mengendalikan lampu dan peralatan dari rumah melalui smartphone. Tak lama berselang, koneksi terputus. Usut punya usut, penjaga malam di lokasi tersebut panik dan langsung memutus aliran listrik (MCB) karena mengira terjadi korsleting saat melihat lampu dan kipas tiba-tiba menyala sendiri tanpa ada orang di sana.
Kisah “hantu” di greenhouse tersebut menjadi bumbu dalam perjalanan panjang Prof. Bambang yang resmi dikukuhkan sebagai Guru Besar bidang Otomasi dan Informatika Pertanian di Fakultas Teknologi Pertanian (FTP) Universitas Jember.
Eksperimen Prof. Bambang dengan teknologi jarak jauh sebenarnya sudah dimulai jauh sebelum istilah Internet of Things (IoT) populer. Pada tahun 2010, saat menempuh studi di Thailand, dari jarak jauh ia sudah mampu memantau suhu, kelembaban, hingga menyiram tanaman di greenhouse Jember secara real-time.
Bermodalkan PC bekas, sistem operasi Windows, dan jaringan internet statis, inovasi “tangan dingin” ini sukses membawa karyanya mewakili institusi di ajang pameran internasional yang diselenggarakan Pemerintah Kerajaan Thailand di Bangkok pada tahun 2012. Kini, teknologi yang dulunya memerlukan komputer besar tersebut telah ia ringkas menjadi sistem berbasis mikrokontroler yang jauh lebih murah dan efisien.
Ketertarikan Prof. Bambang pada otomasi berakar dari hobinya memperbaiki perangkat elektronik sejak SMP. Meski menempuh jalur pendidikan pertanian, obsesinya menjadi “insinyur” tetap mengalir melalui skripsi alat sortasi buah otomatis hingga pendirian Laboratorium Instrumentasi di FTP UNEJ.
Dedikasinya tidak hanya menghasilkan gelar profesor, tetapi juga kontribusi nyata bagi institusi. Fasilitas Smart Greenhouse yang ia kembangkan menjadi salah satu faktor kunci yang mendukung Program Studi Teknik Pertanian UNEJ meraih akreditasi internasional dari lembaga ASIIN.
Dalam orasi ilmiahnya yang berjudul “Implementasi Smart Greenhouse pada Budidaya Sayuran Hidroponik”, Prof. Bambang menekankan pentingnya adaptasi cepat terhadap teknologi informasi untuk meningkatkan produktivitas pangan. Di balik pencapaian akademik ini, ia mengakui peran besar keluarga sebagai sumber motivasi dan penyeimbang hidup.
“Tanpa dukungan moral, doa, dan pengertian keluarga terhadap waktu yang saya curahkan untuk penelitian, pencapaian ini tentu tidak akan terwujud dengan baik,” ungkapnya.
Melalui pengukuhan ini, Prof. Bambang berkomitmen untuk terus menghadirkan solusi praktis bagi dunia pendidikan dan masyarakat, memastikan bahwa teknologi otomasi bukan sekadar teori di atas kertas, melainkan alat bantu nyata bagi masa depan pertanian Indonesia.
![]()

