KUTAI TIMUR – Di sebuah wartel kecil di Solo, tahun 2001, seorang pemuda berusia 19 tahun menangis tersedu-sedu sambil menelepon ibunya. Suaranya bergetar ketika mengucapkan kalimat yang berat: “Ma, Izin enggak lulus.”
Pemuda itu adalah Fauzan Arianto. Kini, 24 tahun kemudian, pria yang sama duduk di kursi Kapolres Kutai Timur dengan pangkat AKBP, memimpin salah satu wilayah strategis di Kalimantan Timur. Perjalanannya dari air mata kegagalan hingga puncak kesuksesan adalah cermin bahwa takdir Allah kadang tersembunyi di balik ujian yang paling berat.
Cerita dimulai di Marabahan, sebuah kota kecil di Kabupaten Barito Kuala, Kalimantan Selatan. Tanggal 7 November 1982, lahirlah seorang anak yang kelak akan membuktikan bahwa prestasi tidak mengenal batas geografis.
Rumah sederhana keluarga Fauzan terletak tidak jauh dari tepian Sungai Barito. Ayahnya bekerja sebagai pegawai bank BRI, sementara ibunya mengabdikan diri sebagai guru SD. Kehidupan mereka jauh dari kata mewah, namun kaya akan nilai-nilai pendidikan dan kasih sayang.
“Kami bukan dari keluarga berada, orang-orang biasa saja,” kenang Fauzan dengan kerendahan hati yang masih melekat hingga kini.
Namun ada yang istimewa dari anak kedua ini. Di usia yang belum genap 5 tahun, ketika anak-anak seusianya masih belajar mengenal huruf, Fauzan sudah lancar membaca. Sang ibu, dengan naluri seorang pendidik, menyadari potensi luar biasa anaknya.
“TK sudah bisa baca. Alhamdulillah umur 5 tahun mungkin belum genap 5 tahun sudah sekolah SD kelas 1,” cerita Fauzan, mata berbinar mengingat masa kecilnya.
Prestasi demi prestasi mulai mengalir. SD, SMP, hingga SMA – konsisten peringkat pertama. Bukan sekadar pintar, Fauzan juga atlet yang handal. Sepak bola, basket, tenis – semua olahraga ia kuasai. Orang tuanya, meski dengan keterbatasan ekonomi, selalu mendukung.
“Apapun yang saya pengen asal terkait mau mencari prestasi pasti dipenuhin. Saya suka tenis dibeliin raket tenis. Saya suka basket dibeliin bola basket,” kenangnya dengan penuh rasa syukur.
Mimpi Pertama yang Kandas
Lulus SMA di usia 16 tahun dengan prestasi gemilang, Fauzan justru bingung menentukan masa depan. Cita-cita jadi polisi? Sama sekali tidak pernah terlintas. Yang ada di benaknya saat itu adalah seragam putih TNI Angkatan Laut.
“Cita-cita saya pertama kali malah pengen jadi tentara, jadi TNI. Pengennya naik KRI Dewaruci karena ngerasa keren kan?,” tuturnya.
Sembari menunggu pendaftaran TNI AL, ia kuliah di Universitas Lambung Mangkurat melalui jalur PMDK, mengambil Teknik Arsitektur. Tahun 2001 tiba, saatnya mewujudkan mimpi menjadi perwira TNI AL.
Tes demi tes dilaluinya dengan percaya diri. Hingga Pantukhir (Penilaian Panitia Penentu Akhir) semuanya berjalan lancar. Namun takdir berkata lain. Pengumuman final: tidak lulus.
“Enggak lulus, sedih, nangis lah ya kan. Waktu itu saya masih naik angkot, saya ingat banget,” kenangnya.
Dalam perjalanan pulang naik angkot, mata Fauzan yang masih sembab tertuju pada sebuah spanduk di depan Polrestabes Banjarmasin: “Telah dibuka kesempatan bagi putra-putri terbaik Indonesia untuk mengikuti pendidikan Taruna Akademi Kepolisian”.
“Keren juga nih jadi Taruna Akademi Kepolisian, itulah yang ada dalam pemikiran saya waktu itu. Padahal saya enggak ngerti juga apa itu Taruna Akademi Kepolisian,” kataya sambil sedikit tersenyum.
Dukungan datang dari tempat yang tidak disangka. AKBP Sukri Pasaribu, Kapolres Barito Kuala saat itu, mendengar ada putra daerah yang ingin masuk Akpol. Fauzan dijemput langsung ke rumah, dilatih psikologi, TPA, bahkan bahasa Inggris.
Namun sekali lagi, takdir seolah mengujinya. Tes Akpol 2001 berakhir dengan kegagalan. Perjalanan pulang dari Semarang ke Kalimantan menjadi episode paling pahit dalam hidupnya.
Air Mata di Wartel Solo: Titik Balik Kehidupan
Tidak punya uang untuk tiket pesawat, Fauzan terpaksa pulang dengan kereta api dan kapal laut. Perjalanan yang melelahkan membawanya singgah di Solo. Di sebuah wartel kecil, ia akhirnya memberanikan diri menelepon orang tua.
“Sambil menangis tersedu-sedu bilang, ‘Ma, Izin enggak lulus’,” kenangnya, suara mulai bergetar mengingat masa kelam itu.
Suara ibunya di seberang sana begitu lembut: “Sabar, sabar.”
Keluar dari wartel, ia bertanya pada petugas: “Mbak, berapa?”
“Selikur Ewu (Dua Puluh Satu Ribu) Mas,” jawab mbak-mbaknya. Fauzan yang tak memahami Bahasa Jawa mengernyitkan kening mendengar kata tersebut, namun masih deengan penuh kesopanan kembali bertanya kepada penjaga wartel.
“Berapa itu Selikur Ewu?,” tanya Fauzan bingung dengan Bahasa indonesia.
Momen kecil itu tersimpan dalam memori sebagai simbol kebingungan dan ketidakberdayaan seorang anak kampung di tanah rantau.
Perjalanan berlanjut ke Surabaya, ke terminal Bungurasih yang penuh preman. Pengalaman pahit berhadapan dengan calo tiket kapal yang seenaknya menetapkan harga membakar semangat dalam hatinya: “Kurang ajar juga preman-preman nih. Awas lu kalau gua jadi polisi”.
Tahun 2002, Fauzan memberanikan diri mencoba lagi. Kali ini, persiapan dilakukan diam-diam. Teman kuliah tidak ada yang tahu, bahkan keluarga pun tidak terlalu berharap tinggi.
Hari Selasa pagi, ia hadir di Polda Kalimantan Selatan untuk tes. Namun sebuah kesalahan komunikasi nyaris menggagalkan segalanya. Fauzan salah mendengar pengumuman. Saat datang untuk tes, ternyata sudah berlangsung sehari sebelumnya.
“Sudah kemarin sore tes nya,” kata Mayor Sri dengan nada kesal.
Fauzan terduduk lemas di depan kantor Ditpers Polda Kalimantan Selatan. Satu jam setengah ia duduk termenung, memikirkan nasib dan masa depan yang terasa suram. Tiba-tiba, lima orang anggota Brimob tamtama datang berlari-lari. Mereka juga terlambat, hendak mengikuti tes susulan karena memiliki hak istimewa sebagai anggota yang berprestasi.
Mayor Sri melihat Fauzan masih duduk di luar. “Ya sudah, kamu ikut juga nih di sini. Berenam.”
Keajaiban terjadi. Tes susulan itu mengantarkan Fauzan hingga lolos seleksi daerah, kemudian ke Semarang, dan akhirnya diterima sebagai Taruna Akpol angkatan 2005.
“Ini gabung. Tes tes tes tes. Alhamdulillah di daerah lulus, di Semarangnya lulus.”
Empat tahun di Akpol mengubah anak kampung dari Marabahan menjadi perwira yang percaya diri. Bukan hanya soal disiplin dan pengetahuan kepolisian, tetapi juga kepercayaan diri yang membuatnya berani mendekati teman kuliahnya yang cantik dari Fakultas Ekonomi.
“Terus karena mungkin jadi taruna mulai agak PD lah, ya kan. Mungkin kalau saya enggak jadi taruna mungkin enggak PD juga sama cewek,” kenangnya sambil tersenyum.
Wanita itu kini menjadi istri setianya, pendamping dalam perjalanan karir yang panjang.
Setelah lulus tahun 2005, perjalanan karir Fauzan dimulai dari tingkat paling bawah. Setiap posisi yang diembannya menjadi sekolah kehidupan yang berharga.
Sebagai Kapolsek di Batu Ampar dan Takisung, ia belajar memahami dinamika masyarakat grassroot. Pengalaman sebagai Kasatlantas di Polres Tabalong dan Tanah Laut memberikan pemahaman tentang pentingnya ketertiban berlalu lintas di wilayah dengan aktivitas ekonomi tinggi.
Yang paling berkesan adalah pengalamannya di Divisi Hubungan Masyarakat (Divhumas) Polri, menangani media sosial dan produk kreatif. Di sinilah ia belajar bahwa komunikasi adalah kunci dalam tugas kepolisian modern.
“Kebetulan setiap hari memang sudah kita berdiskusi, kita berdialog dengan rekan-rekan media. Media itu mitra strategis kita,” ucapnya.
Refleksi: Ketika Kegagalan Menjadi Guru Terbaik
Hari ini, ketika duduk di ruang kerjanya sebagai Kapolres Kutai Timur, AKBP Fauzan Arianto kerap mengenang perjalanan panjangnya. Dari anak kampung di tepian Sungai Barito yang bermimpi menjadi perwira TNI AL, hingga akhirnya menjadi pemimpin Polres di salah satu wilayah strategis Indonesia.
“Kayaknya dalam waktu 1 tahun kita latihan-latihan. Latihan pun juga sembunyi-sembunyi enggak ada yang tahu,” kenangnya tentang masa persiapan tes kedua Akpol.
Kegagalan demi kegagalan yang dialaminya bukan halangan, melainkan batu loncatan. Air mata yang pernah menetes di wartel Solo kini menjadi motivasi untuk selalu memberikan yang terbaik bagi masyarakat.
Sosok sederhana yang masih suka makan apa saja tanpa pilih-pilih, yang mengaku sebagai “anak baik” yang tidak pernah nakal, kini memimpin dengan hati. Pengalaman jatuh bangun membuatnya memahami bahwa kepemimpinan sejati bukan tentang kekuasaan, melainkan tentang pelayanan.
Kini, di kursi Kapolres Kutai Timur, Fauzan membawa seluruh pengalaman hidupnya. Dari anak yang pernah menangis di wartel Solo karena kegagalan, hingga pemimpin yang memahami pentingnya empati dan komunikasi.
“Mengelola kamtibmas ini tidak bisa hanya merupakan tanggung jawab Polri semata. Kita butuh dukungan dari berbagai macam stakeholder,” tegasnya dengan kematangan seorang pemimpin.
Pengalaman pahit berhadapan dengan preman di Surabaya membuatnya memahami betul penderitaan rakyat kecil. Kegagalan berkali-kali mengajarkannya untuk tidak mudah menyerah dan selalu memberi kesempatan kedua.
“Kami akan mencoba selalu dekat dengan masyarakat, turun dengan masyarakat, selalu berinteraksi dengan masyarakat,” janjinya dengan tulus.
Pendekatan humanisnya tercermin dalam komitmennya mendukung program strategis pemerintah, termasuk ketahanan pangan dan program makan bergizi gratis. Baginya, tugas polisi bukan hanya menjaga keamanan, tetapi juga berkontribusi pada kesejahteraan masyarakat.
Pengalaman di Divhumas membuatnya paham betul tentang transparansi di era digital. “Kita menyadari di dunia digital atau cyber ini kejelekan dari kepolisian itu tidak bisa ditutup-tutupi. Tapi kebaikan kepolisian juga jangan ditutup-tutupi,” ungkapnya.
Sikap terbuka ini lahir dari pengalaman pribadi seseorang yang pernah jatuh dan bangkit. Ia paham bahwa kepercayaan masyarakat harus dibangun melalui konsistensi kerja nyata, bukan sekadar retorika.
Epilog: Pesan untuk Generasi Penerus
Kisah AKBP Fauzan Arianto adalah testimonial hidup bahwa tidak ada impian yang terlalu tinggi bagi mereka yang mau berusaha dan berdoa. Dari anak yang terlalu cepat sekolah hingga lulus SMA di usia 16 tahun, dari pemuda yang menangis di wartel Solo hingga pemimpin yang dipercaya mengemban amanah besar.
“Memang namanya kalau rezeki ya enggak kemana,” refleksinya dengan kearifan seorang yang telah melewati liku-liku kehidupan.
Bagi masyarakat Kutai Timur, kehadiran sosok seperti Fauzan bukan sekadar pergantian pimpinan rutin. Ia adalah representasi generasi baru pemimpin yang terbentuk dari perjuangan nyata, yang memahami arti kesulitan karena pernah merasakannya langsung.
Ketika melihat Fauzan kini, sulit membayangkan bahwa ia pernah menjadi pemuda yang menangis tersedu-sedu di wartel Solo. Namun justru pengalaman itulah yang membuatnya menjadi pemimpin yang lebih berempati, lebih memahami perjuangan hidup, dan lebih dekat dengan rakyat.
Dari Marabahan untuk Indonesia, dari air mata kegagalan menuju pelayanan yang tulus – itulah perjalanan AKBP Fauzan Arianto yang menginspirasi kita semua bahwa setiap akhir adalah awal yang baru, dan setiap kegagalan adalah pelajaran menuju kesuksesan yang lebih bermakna.
“Kurang ajar juga preman-preman nih. Awas lu kalau gua jadi polisi,” gumam pemuda itu dulu di terminal Bungurasih. Kini, janji itu telah ditunaikan dengan cara yang paling mulia – menjadi pelindung dan pengayom masyarakat dengan sepenuh hati. (Q)
![]()

