KUTAI TIMUR – Di balik senyum ramah Andry Fachriza, tersimpan cerita perjuangan dan petualangan yang menginspirasi. Pemuda kelahiran 30 Agustus 2002 ini tak pernah membayangkan bahwa langkahnya akan membawanya jauh dari kampung halaman di Desa Bukit Harapan, Kecamatan Kaliorang, Kabupaten Kutai Timur, hingga ke Pulau Jawa.

“Saya harus bersabar menunggu waktu 2 bulan untuk menerima hasil seleksi Program Beasiswa Patigat,” kenang Andry, mengingat momen yang mengubah hidupnya. Beasiswa dari PT Indexim Coalindo ini membuka pintu kesempatan baginya untuk menempuh pendidikan di Politeknik Gajah Tunggal (Patigat) di Tangerang, Banten.

Perjalanan Andry dimulai dari bangku SMK Negeri 1 Kaliorang, jurusan Teknik Kendaraan Ringan. Pandemi Covid-19 yang melanda justru membawa berkah tersembunyi, memberinya informasi tentang program beasiswa yang mengantarkannya ke Jurusan Teknik Mesin di Patigat.

Bagi Andry, kuliah di Pulau Jawa bukan sekadar mengejar gelar, tapi juga kesempatan untuk mewujudkan mimpinya menjelajahi Nusantara. “Saya bisa mewujudkannya setelah menyisihkan dari dana bantuan akomodasi selama lebih dari 2,5 tahun kuliah,” ungkapnya, membagikan trik finansialnya.

Dari Bandung hingga Madura, dari Bromo hingga Dieng, Andry memanfaatkan setiap libur akhir pekan untuk mengeksplorasi keindahan dan keragaman budaya Indonesia. Namun, perjalanan Andry tidak selalu mulus. Perbedaan budaya dan bahasa yang awalnya menjadi hambatan, justru menjadi motivasi baginya untuk terus belajar dan berkembang.

“Mengunjungi berbagai tempat dan budaya memberi saya pengalaman belajar dan berinteraksi dengan ragam orang dan budaya yang berbeda. Tantangan terbesar yang saya hadapi saat awal berkuliah ialah beradaptasi dengan lingkungan dan teman-teman yang baru dari berbagai daerah,” akunya.

Sebagai penerima beasiswa, Andry membuktikan diri dengan prestasi akademik yang konsisten. Indeks prestasinya tak pernah turun di bawah 3,00, membuatnya sering dipercaya untuk mengerjakan tugas-tugas khusus. “Putera daerah Kutai Timur, yang mampu bersaing dalam prestasi dengan mahasiswa-mahasiswa dari daerah lainnya,” ujarnya dengan bangga.

Kisah Andry Fachriza adalah potret pemuda Indonesia yang tak hanya mengejar mimpi, tapi juga merangkul keberagaman. Melalui beasiswa dan semangat petualangannya, ia membuktikan bahwa belajar tak hanya terbatas di ruang kelas, tapi juga dalam setiap langkah penjelajahan.

Dalam diri pemuda ini, semangat Bhinneka Tunggal Ika terus berkobar, menjadi inspirasi bagi generasi muda Indonesia untuk berani bermimpi dan menjelajah.

“Saya ingin terus mengembara, belajar, dan suatu hari nanti, membawa ilmu dan pengalaman ini kembali untuk membangun Kutai Timur,” ujarnya dengan tersenyum penuh tekad. (*/Q)

Loading