BANYUWANGI – Suguh, gupuh, lungguh. Tiga kata ini menjadi filosofi masyarakat Suku Using dalam menyambut tamu. Kearifan lokal yang diwariskan turun-temurun tersebut kembali dihidupkan melalui Festival Ngopi Sepuluh Ewu Cangkir di Desa Kemiren, Kecamatan Glagah, Banyuwangi, Sabtu malam (7/11/2026).
Memasuki tahun ke-13 sejak pertama digelar pada 2014, festival ini menjadi salah satu agenda budaya yang dinanti wisatawan. Ribuan pengunjung, termasuk wisatawan mancanegara, memadati jalan utama desa dan disambut hangat oleh warga di halaman setiap rumah.
Ribuan cangkir kopi disajikan gratis. Pengunjung juga bisa menikmati aneka kudapan tradisional Using, seperti kucur, tape ketan berbungkus daun kemiri, hingga pisang goreng.
Ketua Panitia Festival, Moh Edy Saputro, mengungkapkan bahwa kemeriahan tradisi minum kopi ini didukung oleh hasil bumi unggulan daerah. Pihaknya telah menyiapkan sebanyak 1 kuintal biji kopi robusta berkualitas tinggi yang berasal langsung dari perkebunan lokal di Banyuwangi.
“Kopi itu nanti akan kami sebar ke warga yang tinggal di kanan-kiri jalan sebelum festival,” jelas Edy mengenai mekanisme distribusi kepada warga.
Daya tarik utama perhelatan ini berakar dari warisan turun-temurun yang sarat nilai historis. Setiap keluarga di desa adat tersebut menyimpan cangkir keramik khusus sebagai harta pusaka keluarga.
“Ketika seorang perempuan menikah, dia akan mendapat warisan berupa cangkir dan perlengkapan pecah belah dari orang tuanya,” tutur Edy. Dengan estimasi 1.100 kepala keluarga saat ini, jumlah cangkir kuno yang berputar di Kemiren diproyeksikan menembus lebih dari 10.000 unit.
Kepala Desa Kemiren Muhammad Arifin mengatakan, Festival Ngopi Sepuluh Ewu bukan sekadar menyajikan ribuan cangkir kopi, melainkan menggambarkan karakter masyarakat Osing yang menjunjung tinggi keramahan dalam menerima tamu.
“Kami diajarkan suguh, gupuh, lungguh dalam menerima tamu,” ungkap Arifin.
Ia menjelaskan, suguh berarti memberikan suguhan atau hidangan kepada tamu, meski hanya berupa minuman. Gupuh bermakna antusias dan sigap menyambut kedatangan tamu, sedangkan lungguh berarti menyediakan tempat duduk yang layak agar tamu merasa nyaman.
“Ngopi Sepuluh Ewu ini merupakan wujud kearifan lokal, budaya, dan adat istiadat masyarakat Osing dalam menerima tamu. Kearifan ini perlu terus kita rawat dan wariskan kepada anak cucu,” pungkasnya.
![]()

