SAMARINDA – Musim kemarau ekstrem yang dipicu oleh fenomena El Niño kategori sangat kuat terus melanda Provinsi Kalimantan Timur (Kaltim). Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprakirakan kedatangan musim hujan 2026/2027 di wilayah Kaltim akan mengalami pergeseran atau mundur hingga satu bulan dibandingkan pola normal.
Forecaster BMKG, Bai’at Alhadid, menjelaskan bahwa penguatan El Niño tercatat memuncak dengan anomali suhu muka laut di Samudra Pasifik bagian tengah dan timur mencapai positif 3,07 pada September 2026. Kondisi ini membuat paparan angin monsun Australia yang kering masih mendominasi kawasan Kaltim, sehingga curah hujan menurun tajam sejak Juli lalu.

“Agustus 2026 menjadi bulan terkering karena hampir seluruh wilayah mengalami curah hujan rendah. Awal musim hujan di sebagian besar wilayah diprakirakan baru akan berlangsung bertahap mulai akhir Oktober hingga akhir November 2026,” ujar Bai’at dalam rilis pers daring Prediksi Musim Hujan 2026/2027 Provinsi Kaltim, Jumat (9/10/2026).

Dampak berkurangnya curah hujan terasa sangat berat di sejumlah titik. BMKG mencatat beberapa daerah telah mengalami Hari Tanpa Hujan (HTH) dengan durasi panjang melebihi 60 hari berturut-turut hingga akhir September 2026.
Daerah yang mengalami kekeringan paling parah meliputi Kabupaten Paser (Kecamatan Batu Enggau, Batu Sopang, Tanah Grogot, Kuaro, dan Muara Samu), Kota Samarinda (Kecamatan Sambutan dan Palaran), serta beberapa kawasan di Kutai Kartanegara dan Kutai Barat.
BMKG memprediksi curah hujan sepanjang Oktober 2026 masih dalam kriteria rendah di bawah rerata klimatologisnya. Peningkatan hujan baru mulai memasuki kategori menengah pada November 2026, meski kuantitas keseluruhannya diprakirakan tetap di bawah normal.
Awal musim hujan di Kaltim akan terjadi secara tidak serentak akibat perbedaan karakteristik zona musim. Pada akhir Oktober 2026, Wilayah Kaltim bagian barat hingga tengah mulai memasuki musim hujan, pertengahan November 2026, ebagian besar wilayah Kaltim lainnya disusul masuk musim hujan, akhir November 2026, Wilayah Kabupaten Paser diproyeksikan menjadi daerah terakhir yang memasuki musim hujan.
Selain kedatangannya yang terlambat, BMKG memprakirakan musim hujan kali ini memiliki durasi berkisar antara 6 hingga 10 bulan (19–30 dasarian) dengan dua puncak musim hujan. Puncak pertama diprediksi terjadi pada Desember 2026 hingga Januari 2027, sedangkan puncak kedua berpotensi berlangsung pada Maret hingga Mei 2027.
“Mengingat fenomena El Niño diperkirakan bertahan hingga awal 2027—seperti halnya peristiwa El Niño kuat tahun 1997 dan 2015—BMKG mengimbau masyarakat dan pemerintah daerah untuk tetap waspada serta meningkatkan langkah mitigasi terhadap potensi kekeringan dan krisis air bersih selama masa peralihan ini.” pungkas Bai’at.(*/mn)
![]()

