SAMARINDA — Minggu sore (13/9/2026), di ambang senja menjelang Maghrib, ruang perawatan Rumah Sakit Dirgahayu Samarinda diselimuti keheningan yang sarat duka. Suhari, seorang lelaki sepuh berusia 72 tahun, mengembuskan napas terakhirnya. Selama tiga hari terakhir, sejak Kamis malam (10/9/2026), ia berjuang melawan sakit hingga akhirnya garis akhir hidupnya harus ditutup.

Bagi generasi relawan muda di Samarinda, nama Suhari bin Slamet mungkin asing di telinga. Namun, di balik kesahajaan hidupnya sebagai penjual pentol keliling, tersimpan sebuah legasi kemanusiaan yang luar biasa dan telah mengakar selama lebih dari tiga dekade di Kota Tepian.

Ia bukan sekadar pendiri, melainkan denyut nadi dari Tenaga Bantuan (Taban) Diponegoro, sebuah wadah kerelawanan yang ia dirikan sejak tahun 1992.

Kisah Taban bermula dari rasa gelisah yang menohok nurani Suhari muda pada masa itu. Ketika musibah kebakaran melanda, ia kerap mendapati warga sekitar hanya berdiri menjadi penonton. Jiwanya terusik. Ia ingin mengubah tontonan itu menjadi uluran tangan.

“Tahun 1978 saya sudah menjadi sopir taksi (angkutan kota). Kegiatan sehari-hari sebagai pekerja bangunan, dan jika libur, berjualan pentol,” kenang Suhari semasa hidupnya, mengisahkan bagaimana ia menopang hidup sekaligus dapur pergerakannya, Minggu sore (16/2/2025) silam.

Tanpa proposal, tanpa kotak sumbangan, dan tanpa pernah sekalipun mengetuk pintu warga untuk meminta donasi—Suhari membiayai seluruh denyut perjuangan kelompoknya dari tetesan keringatnya sendiri. Upah dari kuli bangunan dan hasil jualan pentol dialirkannya untuk menghidupkan semangat gotong royong anak-anak muda di Jalan Diponegoro Gang Musyawarah, yang mayoritas direkrutnya dari bangku SMP PGRI.

Pahlawan di Balik Gulungan Selang
Di masa-masa awal, Taban hadir tanpa armada mobil pemadam atau sirine yang meraung-raung. Mereka datang dalam wujud tenaga manusia yang tulus. Di bawah naungan Dinas Kebakaran saat itu, almarhum Pak Saman, Suhari mengerahkan anggotanya untuk terjun langsung ke titik api: mengangkat selang yang berat, menerobos asap pekat, hingga menggulungnya kembali tatkala api telah jinak.

Posko mereka berawal dari kawasan Jalan Diponegoro dekat Bioskop Garuda—yang kini telah berubah menjadi Hotel Bumi Senyiur. Selama bertahun-tahun, Taban konsisten menjadi bayangan yang mengokohkan langkah Barisan Pemadam Kebakaran (BPK) di lapangan.

Waktu terus bergulir. Setelah 33 tahun berjalan dalam kesunyian, Taban kini bertransformasi melengkapi diri dengan peralatan pemadam dan satu unit mobil Kijang sebagai sarana mobilisasi, bermarkas di Jalan Imam Bonjol, Gang H. Masyur, Kelurahan Pelabuhan, Kecamatan Samarinda Kota. Namun, prinsip dasarnya tidak pernah bergeser: ketulusan di atas segalanya.

Rumah kediaman almarhum Suhari yang juga Sekretariat Taban Diponegoro 1992 yang terletak di jalan Imam Bonjol Gang H. Masyur, Kelurahan Pelabuhan, Samarinda Kota.

Kepergian Seorang Teladan Sejati

Kepergian Suhari menyisakan duka mendalam bagi rekan sesama insan kebencanaan. Syaiful, atau yang akrab disapa Raja-13, relawan Pokdar Kamtibmas Sungai Pinang, mengenang Suhari sebagai sosok relawan tanpa pamrih yang mendedikasikan napas hidupnya untuk sesama.

Almarhum Suhari bin Slamet saat diberangkatkan menuju masjid Ar Rasyid untuk disholatkan.
Mengantarkan almarhum Suhari bin Slamet ke pemakaman Muslimin Padat Karya Sambutan.

“Bang Suhari itu memang sudah lama di relawan pemadam. Beliau sungguh luar biasa menghidupkan relawan Tenaga Bantuan, yang menyediakan tenaga pada saat itu untuk membantu dinas pemadam turun ke lapangan padamkan api,” ungkap Syaiful dengan nada penuh takzim.

Syaiful berharap, api pengabdian dan jiwa kerelawanan murni yang diwariskan oleh almarhum Suhari tidak ikut padam bersama kepergiannya, melainkan terus menyala di dada generasi relawan masa kini.

Suhari telah berpulang, diantarkan rekan relawan, kini menunggu hari akhir di pemakaman Muslimin Padat Karya, Kelurahan Sambutan, Senin (14/9/2026). Ia pergi meninggalkan rombong pentol, kenangan tentang gulungan selang di tengah amukan si jago merah, serta warisan moral tentang arti kemanusiaan yang sesungguhnya—bahwa kepedulian sejati tidak pernah menuntut pamrih, melainkan lahir dari ketulusan hati yang paling dalam.

Selamat jalan, Pejuang Kemanusiaan.(mn)

Loading