BALIKPAPAN — Udara Kota Balikpapan terasa sedikit lebih berat hari itu. Di grup-grup WhatsApp, lini masa media sosial, hingga sudut-sudut kantor redaksi, sebuah kabar duka berembus cepat, membawa rasa perih yang sulit disembunyikan. Jumat pagi, (31/7/2026), dunia jurnalistik Kalimantan Timur kehilangan salah satu putera terbaiknya.

Baharuddin—atau yang jauh lebih akrab disapa publik dengan nama Bang Benny Sanger—telah mengembuskan napas terakhirnya.

Ia berpulang di Rumah Sakit Kanujoso Djatiwibowo (RSKD) Balikpapan setelah berjuang melawan sakit yang menderanya selama beberapa bulan terakhir. Sempat ada asa ketika kondisinya dikabarkan membaik beberapa waktu lalu, namun takdir berkata lain. Tubuhnya yang lelah akhirnya menyerah, meninggalkan jejak langkah panjang yang telanjur berurat akar di bumi Kaltim.

Dari Udara RSPD hingga Menjadi “Beni Sanger” yang Abadi

Banyak yang mengenal nama itu, tetapi sedikit yang tahu dari mana ia bermula. Ahmad Yani, rekan sejawatnya di Asosiasi Media Siber Indonesia (AMSI) Kaltim, merajut kembali kenangan tentang sang almarhum dalam sebuah catatan penuh kehangatan.

“Nama asli beliau itu Baharuddin bin Sampe Barande, namun lebih akrab dengan sebutan Beni Sanger,” kenang Yani.

Beni Sanger (duduk paling kanan) bersama rekan-rekan wartawan di Kota Balikpapan.

Nama belakang yang melegenda itu rupanya lahir dari bilik-bilik penyiaran Radio Siaran Pemerintah Daerah (RSPD) Balikpapan antara tahun 2000 hingga 2006. Di sanalah, di balik mikrofon tua, Baharuddin kerap membuai pendengar setia dengan alunan lagu-lagu legendaris dari Panbers, band kesayangannya besutan mendiang Benny Panjaitan. Seiring waktu, udara radio meresap ke dalam identitas personalnya. Nama panggung itu melekat begitu erat, hingga terbawa resmi ke lembar KTP, sementara ijazah sekolah tetap mencatatkan nama aslinya: Baharuddin.

Bagi mereka yang hidup membersamainya, Bang Benny bukan sekadar seorang pewarta berita. Ia adalah sebuah simfoni sosial yang bergerak di berbagai orkestra kehidupan.

Di dunia pers, ia dipercaya menakhodai Ikatan Wartawan Balikpapan (IWB) periode 2022–2026 sebagai Ketua I. Di kancah olahraga, ia aktif mengawal cabang wushu di bawah bendera KONI Balikpapan. Jaringannya kian luas lewat keaktifannya di ORARI Balikpapan dengan call sign kebanggaannya: YC7VMD, hingga perannya sebagai pengurus AMSI Kaltim Bidang Koordinator Daerah.

Lebih dari dua dekade ia mendedikasikan hidupnya di atas rel etika jurnalistik. Di mata para jurnalis muda, Bang Benny adalah sosok pembimbing yang tidak pelit ilmu. Tangannya terbuka lebar untuk merangkul, mengoreksi tulisan-tulisan yang masih mentah, dan memompa semangat ketika rekan seprofesinya mulai lelah digerus deadline.

“Beliau memiliki kepedulian tinggi terhadap perkembangan dunia jurnalistik, khususnya dalam membina wartawan muda,” tutur Danial karibnya di AMSI Kaltim, dengan nada suara yang menyiratkan kehilangan mendalam, sebagaimana dilansir kaltimkita.com.

Kini, kursi kerjanya telah kosong. Suara tawanya yang renyah—perpaduan antara ketegasan seorang senior dan kehangatan seorang sahabat—tinggal gema di ruang-ruang redaksi. Ia meninggalkan seorang istri tercinta dan tiga orang putri yang kini harus melanjutkan hari-hari tanpa dekap sang kepala keluarga.

Matahari Balikpapan perlahan tenggelam, namun cerita tentang Bang Benny Sanger tidak akan ikut padam bersama senja. Ia telah menanam kebaikan di setiap jengkal tanah liputannya, merajut persaudaraan di frekuensi udara maupun di daratan kota.

Selamat jalan, Bang Benny Sanger. Mikrofon dunia boleh jadi telah dimatikan, namun gelombang kebaikanmu akan terus mengudara di hati kami selamanya.(mn)

Loading