KAJIAN TEMATIK SURAT NUH—Ayat 13

Oleh Masykur Sarmian

بسم الله الرحمن الرحيم

مَا لَكُمْ لَا تَرْجُونَ لِلَّهِ وَقَارًا

“Mengapa kamu tidak memiliki rasa pengagungan (takzim) kepada Allah ?”
—QS. Nuh Ayat 13

Penjelasan Tematik

Setelah pada ayat-ayat sebelumnya Nabi Nuh berbicara tentang istighfar dan berbagai keberkahan yang Allah janjikan, kini arah pembicaraan berubah menjadi jauh lebih mendalam.

Nabi Nuh tidak lagi berbicara tentang hujan.

√ Tidak lagi tentang harta.
√ Tidak lagi tentang anak-anak.

Beliau langsung menyentuh akar persoalan manusia.

مَا لَكُمْ

“Ada apa dengan kalian?”

Kalimat ini bukan sekadar pertanyaan. Ia adalah ungkapan keheranan yang lahir dari kasih sayang. Seolah Nabi Nuh berkata,

“Mengapa kalian sampai kehilangan sesuatu yang paling mendasar dalam kehidupan?”

Lalu beliau menyebut inti persoalan itu.

لَا تَرْجُونَ لِلَّهِ وَقَارًا

“Kalian tidak memiliki rasa pengagungan kepada Allah.”

Di sinilah letak penyakit terbesar manusia.

Bukan kurangnya ilmu.

Bukan kurangnya harta.

Bukan kurangnya kecerdasan.

Tetapi hilangnya waqār, yaitu rasa hormat, takzim, dan pengagungan kepada Allah yang memenuhi hati.

Ketika Allah Menjadi Kecil di Dalam Hati

Ayat ini tidak mengatakan bahwa mereka tidak mengenal Allah.

~ Mereka mengenal-Nya.
~ Mereka mengetahui nama-Nya.

Namun pengetahuan itu tidak melahirkan pengagungan.

Inilah perbedaan antara mengenal Allah dengan menghadirkan Allah dalam kehidupan.

Betapa banyak manusia yang lisannya menyebut nama Allah, tetapi keputusan hidupnya seolah-olah Allah tidak pernah ada.

√ Ia mudah berdusta.
√ Mudah berkhianat.
√ Mudah menzalimi.
√ Mudah sombong.

Karena di dalam hatinya, dunia telah menjadi lebih besar daripada Tuhannya.

Padahal ketika Allah benar-benar menjadi Yang Mahabesar di dalam hati, segala sesuatu yang lain akan menemukan ukurannya yang tepat.

√ Jabatan tidak lagi membuat angkuh.
√ Harta tidak lagi membuat tamak.
√ Pujian tidak lagi membuat mabuk.

Dan hinaan tidak lagi membuat hancur.

Takzim Melahirkan Integritas

Rasa takzim kepada Allah bukan sekadar perasaan religius.

Ia adalah fondasi akhlak.

Seseorang yang benar-benar mengagungkan Allah akan menjaga lisannya meskipun tidak ada yang mendengar.

Ia menjaga amanah meskipun tidak ada yang mengawasi.

Ia menolak berbuat zalim meskipun memiliki kesempatan.

Mengapa?

Karena yang ia hormati bukan manusia.

Melainkan Allah.

Dalam psikologi modern terdapat konsep self-regulation, yaitu kemampuan mengendalikan diri berdasarkan nilai yang diyakini. Namun Al-Qur’an mengajarkan sesuatu yang lebih tinggi.

Seorang mukmin tidak hanya mengendalikan dirinya demi citra diri atau aturan sosial, tetapi karena ia hidup dalam kesadaran bahwa Allah selalu melihatnya.

Inilah yang disebut oleh para ulama sebagai muraqabah, kesadaran terus-menerus akan pengawasan Allah. Dari sinilah lahir integritas sejati, yaitu tetap benar meskipun tidak ada seorang pun yang melihat.

Hilangnya Takzim adalah Awal Keruntuhan Peradaban

Jika direnungkan lebih luas, hampir semua kerusakan di muka bumi berawal dari hilangnya rasa takzim kepada Allah.

Ketika manusia tidak lagi mengagungkan Allah, ia mulai mengagungkan dirinya sendiri.

Ketika dirinya menjadi pusat segala sesuatu, lahirlah keserakahan, korupsi, penindasan, kerusakan alam, dan berbagai bentuk kezaliman.

Peradaban tidak runtuh pertama kali karena miskin teknologi.

Peradaban runtuh ketika kehilangan kompas moral.

Dan kompas moral itu bermula dari satu hal :

Apakah manusia masih memiliki rasa hormat yang mendalam kepada Penciptanya?

Pelajaran Kehidupan

Ayat ini mengajak kita melakukan muhasabah yang sangat jujur. Jangan hanya bertanya, “Apakah aku masih beribadah?”

Tetapi bertanyalah, “Seberapa besar Allah hadir dalam setiap keputusan hidupku?”

Sebab ukuran pengagungan kepada Allah tidak hanya tampak ketika seseorang berada di masjid.

Ukuran itu justru terlihat ketika ia berada di pasar, di kantor, di rumah, atau ketika tidak ada seorang pun yang melihatnya.

Semakin besar Allah di dalam hati, semakin kecil godaan dunia di mata kita.

Sebaliknya, ketika dunia terasa begitu besar hingga membuat kita berani melanggar perintah Allah, itu pertanda bahwa rasa takzim di dalam hati sedang melemah.

Karena itu, jangan hanya memperbanyak pengetahuan tentang Allah. Berusahalah menghadirkan kebesaran-Nya ke dalam hati.

Sebab hati yang dipenuhi pengagungan kepada Allah akan lebih mudah melahirkan kejujuran, kesabaran, kerendahan hati, dan ketenangan.

Saudara…

Mungkin selama ini kita sering bertanya,

“Mengapa manusia semakin berani berbuat zalim?”

“Mengapa kebohongan semakin biasa?”

“Mengapa amanah semakin mudah dikhianati?”

Ayat ini memberikan jawabannya.

Karena rasa takzim kepada Allah mulai memudar.

Ketika manusia tidak lagi merasa kecil di hadapan Allah, ia mulai merasa besar di hadapan sesamanya.

Dan ketika ego menjadi tuhan baru, kerusakan hanya tinggal menunggu waktu.

Maka sebelum kita sibuk memperbaiki dunia, marilah kita memperbaiki hati.

Besarkan kembali Allah di dalam jiwa kita.

Karena hati yang dipenuhi keagungan Allah tidak akan mudah diperbudak oleh hawa nafsu.

Dan orang yang telah menjadikan Allah sebagai Yang Mahabesar dalam hidupnya, tidak akan mudah ditaklukkan oleh apa pun selain ridha-Nya.

Wallahu A’lam.
Samarinda, 4 Juli 2026

Loading