KAJIAN TEMATIK SURAT NUH — Ayat 10

Oleh Masykur Sarmian

بسم الله الرحمن الرحيم

فَقُلْتُ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ إِنَّهُ كَانَ غَفَّارًا

“Maka aku berkata (kepada mereka), ‘Mohonlah ampun kepada Tuhanmu. Sesungguhnya Dia Maha Pengampun.'”
—QS. Nuh Ayat 10

Penjelasan Tematik

Setelah Nabi Nuh menjelaskan betapa panjang dan beragam cara yang telah beliau tempuh dalam berdakwah—siang dan malam, terang-terangan maupun secara sembunyi-sembunyi—akhirnya Al-Qur’an memperlihatkan inti dari seluruh ajakan beliau.

Bukan ajakan untuk mengagungkan seorang nabi.

Bukan pula ajakan untuk membangun peradaban yang megah.

Yang pertama kali beliau tawarkan justru sesuatu yang sangat sederhana, tetapi menjadi awal dari seluruh perubahan manusia.

اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ

“Mohonlah ampun kepada Tuhanmu.”

Kalimat ini mengandung pesan yang sangat dalam. Nabi Nuh memahami bahwa akar persoalan kaumnya bukan semata-mata kebodohan, melainkan hati yang telah lama menjauh dari Allah. Dan hati yang jauh tidak akan kembali hanya dengan tambahan pengetahuan. Ia harus dipulihkan terlebih dahulu.

Karena itu, sebelum berbicara tentang perubahan sosial, beliau mengajak mereka melakukan perubahan spiritual. Sebelum memperbaiki dunia, beliau mengajak mereka memperbaiki hubungan dengan Tuhannya.

Mengapa Harus Dimulai dengan Istighfar ?

Istighfar sering dipahami hanya sebagai ucapan Astaghfirullah. Padahal Al-Qur’an memaknainya jauh lebih luas.

Istighfar adalah keberanian mengakui bahwa diri ini tidak sempurna.

Keberanian menerima bahwa kita pernah salah.

Dan keberanian membuka pintu untuk menjadi manusia yang lebih baik.

Selama seseorang masih merasa dirinya tidak pernah keliru, selama itu pula pintu perbaikan akan tetap tertutup.

Karena tidak ada yang dapat diperbaiki pada diri seseorang yang merasa dirinya sudah sempurna.

Itulah sebabnya istighfar bukan sekadar zikir lisan.

Ia adalah kerendahan hati yang hidup di dalam jiwa.

Allah Memperkenalkan Diri-Nya sebagai Al-Ghaffār

Nabi Nuh melanjutkan seruannya dengan kalimat yang penuh harapan.

إِنَّهُ كَانَ غَفَّارًا

“Sesungguhnya Dia Maha Pengampun.”

Yang menarik, Allah tidak hanya disebut Ghafir (Yang Mengampuni), tetapi Ghaffār, yaitu Dzat Yang terus-menerus mengampuni, berulang kali mengampuni, tanpa merasa lelah menerima hamba yang kembali kepada-Nya.

Seolah-olah Allah ingin menghapus lebih dahulu rasa putus asae yang mungkin telah memenuhi hati manusia.

Sebab sering kali yang menghalangi seseorang untuk kembali bukan karena pintu Allah tertutup.

Tetapi karena ia mengira pintu itu telah tertutup.

Padahal yang lelah memohon ampun adalah manusia.

Allah tidak pernah lelah mengampuni.

Selama napas masih berhembus dan pintu taubat belum ditutup, rahmat Allah selalu lebih luas daripada dosa manusia.

Penyakit Terbesar Bukan Dosa, tetapi Putus Asa

Ada dua jenis manusia yang sama-sama jauh dari Allah.

Yang pertama adalah mereka yang meremehkan dosa.

Yang kedua adalah mereka yang terlalu membesar-besarkan dosanya hingga merasa mustahil diampuni.

Keduanya sama-sama keliru.

Yang satu tidak menghargai keadilan Allah.

Yang lain tidak percaya kepada keluasan rahmat Allah.

Padahal Al-Qur’an selalu menjaga keseimbangan antara rasa takut dan harapan.

Dalam psikologi modern dikenal istilah self-compassion, yaitu kemampuan menerima kelemahan diri tanpa terjebak dalam kebencian terhadap diri sendiri. Namun Al-Qur’an melangkah lebih jauh.

Istighfar bukan hanya berdamai dengan diri sendiri, tetapi kembali kepada Allah yang mampu membersihkan jiwa dan mengangkat kembali martabat manusia.

Karena itu, seorang mukmin tidak hidup dalam rasa bersalah yang berkepanjangan.

Ia menjadikan penyesalan sebagai jembatan menuju perubahan, bukan sebagai penjara yang membuatnya berhenti melangkah.

Pelajaran Kehidupan

Ayat ini mengajarkan bahwa setiap perubahan besar selalu dimulai dari keberanian untuk mengakui kesalahan.

Tidak ada keluarga yang dapat diperbaiki jika setiap anggotanya selalu merasa paling benar.

Tidak ada organisasi yang berkembang jika para pemimpinnya anti terhadap kritik. Dan tidak ada jiwa yang bertumbuh jika ia kehilangan kemampuan untuk berkata, “Ya Allah, aku telah keliru.”

Istighfar sesungguhnya bukan tanda kelemahan, melainkan tanda kematangan.

Orang yang lemah adalah mereka yang terus mempertahankan kesalahannya demi menjaga gengsi.

Sebaliknya, orang yang kuat adalah mereka yang berani meruntuhkan tembok egonya agar cahaya Allah dapat kembali masuk ke dalam hatinya.

Karena itu, jangan biasakan mengukur besarnya dosa. Ukurlah besarnya rahmat Allah.

Jangan terlalu lama menangisi masa lalu hingga lupa membangun masa depan. Allah tidak meminta kita kembali menjadi manusia yang tidak pernah berdosa.

Allah hanya meminta kita menjadi hamba yang tidak pernah lelah kembali kepada-Nya.

Saudara…

Jika ada satu kalimat yang paling sering diucapkan oleh para nabi, mungkin salah satunya adalah ajakan untuk kembali kepada Allah.

Dan jalan pulang itu selalu dimulai dengan satu langkah kecil.

“Astaghfirullah.”

Barangkali yang membuat hidup terasa berat bukan karena Allah menjauh dari kita.

Mungkin justru karena kita terlalu lama menjauh dari Allah.

Dan barangkali yang paling dibutuhkan hati kita hari ini bukan tambahan kesibukan, bukan pula tambahan harta, tetapi keberanian untuk berhenti sejenak, menundukkan kepala, lalu berkata dengan penuh kejujuran,

“Ya Allah… aku ingin pulang.”

Sebab Allah tidak pernah menutup pintu bagi hamba yang datang membawa penyesalan.

Yang tertutup hanyalah pintu yang tidak pernah diketuk.

Dan istighfar adalah ketukan pertama menuju kehidupan yang kembali dipenuhi cahaya.

Wallahu A’lam.
Samarinda, 1 Juli 2026

Loading