SAMARINDA – Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Kalimantan Timur bergerak cepat merespons ancaman penurunan prestasi olahraga Benua Etam di kancah nasional. Menggandeng Lembaga Kajian Olahraga Prestasi (LeKop) Kaltim, KONI dijadwalkan menggelar diskusi olahraga strategis pada Selasa, 2 Juni 2026 mendatang di Kolam Ulin Arya, Jalan PM Noor, Samarinda.

Forum ini didesain khusus sebagai laboratorium gagasan untuk merumuskan cetak biru (blueprint) dan exit strategy jangka panjang. Langkah taktis ini diambil demi menjaga harga diri dan tradisi posisi papan atas Kaltim pada PON XXII/2028 di Nusa Tenggara Barat (NTB) dan Nusa Tenggara Timur (NTT), plus klaster pendukung di Jakarta.

Ide besar ini lahir dari pemikiran tokoh olahraga senior Kaltim, H. Achmad Husry, yang langsung direspons matang oleh Ketua KONI Kaltim, Rusdiansyah Aras.

“Dengan adanya transisi kepemimpinan organisasi ke depan serta dinamika fiskal (anggaran) daerah, Kaltim dihadapkan pada tantangan besar. Kita harus berani memetakan strategi agar harga diri dan tradisi posisi papan atas tetap terjaga,” tegas Rusdiansyah Aras, Rabu (27/5/2026).

Lima Poin Evaluasi dan Strategi Radikal Kaltim Menuju PON 2028
KONI Kaltim bersama LeKop mencatat sedikitnya ada lima poin analisis strategis yang akan dibedah secara mendalam dalam diskusi 2 Juni nanti untuk mengantisipasi situasi darurat:

Antisipasi Manajemen Tiga Klaster: Berbeda dengan edisi sebelumnya, PON 2028 dipisahkan ke dalam tiga klaster besar (NTB, NTT, dan Jakarta) yang berpotensi membengkakkan biaya akomodasi dan transportasi. Solusinya, Kaltim berencana membentuk sub-satgas di masing-masing klaster sejak dini.

Rasionalisasi Anggaran Berbasis Data: Fluktuasi Dana Bagi Hasil (DBH) daerah menuntut efisiensi anggaran berbasis output tinggi. Paradigma pembinaan diubah total dari kuantitas ke kualitas melalui kemitraan indikator performa ilmiah bersama LeKop.

Pengetatan Passing Grade (Zona Medali): Menyiasati keterbatasan dana, Kaltim akan menerapkan seleksi super ketat pada Babak Kualifikasi (Pra-PON). Kebijakan eksekusinya adalah hanya mengirimkan atlet yang secara statistik masuk dalam zona medali (emas, perak, perunggu), bukan sekadar lolos kuota kelulusan.

Maksimalisasi Lumbung Medali Cabor Beladiri: Rumpun cabor beladiri (Gulat, Kempo, Pencak Silat, Taekwondo, Karate, Tarung Derajat, dan Muaythai) secara historis menyumbang 60% hingga 70% total emas Kaltim. Sektor ini didorong menjadi lumbung utama dengan target moderat akumulatif 70 medali emas.

Penerapan Sport Science Tanpa Kompromi Politik: Ajang Porprov VIII di Paser akhir tahun nanti akan menjadi laboratorium utama. Hasil Porprov harus disaring jernih secara data objektif untuk mengukur kapasitas fisik dan mental atlet sebelum masuk TC jangka panjang.

Panel Pakar dan Rekomendasi Pengurus Periode 2026–2030
Untuk menghasilkan keputusan yang tajam, diskusi ini akan menghadirkan panel narasumber berkompeten. Selain Achmad Husry, forum bakal diisi oleh Plt Kepala Dinas Pemuda dan Olahraga (Kadispora) Kaltim Rasman Rading, S.E., M.Si., pakar olahraga Dr. Rohandy, serta Ketua Pengprov Bowling Kaltim Dr. H. Rusman Yakub.

Mantan Direktur Kaltim Post tersebut menambahkan, seluruh hasil rekomendasi dan kajian teknis dari diskusi ini nantinya tidak akan menjadi dokumen pajangan, melainkan disumbangkan secara resmi sebagai peta jalan wajib bagi jajaran pengurus KONI Kaltim masa bakti 2026–2030 yang akan datang.

“Fondasi yang kita letakkan hari ini harus bertumpu pada transparansi dan objektivitas data. Karakter petarung Benua Etam hanya bisa bersinar di NTB-NTT jika kita berani mengambil keputusan taktis yang rasional dan efisien mulai sekarang,” pungkas Rusdi.(*/mn)

Loading