KAJIAN TEMATIK SURAT AL-MULK—Ayat 6
Oleh Masykur Sarmian

بسم الله الرحمن الرحيم
وَلِلَّذِينَ كَفَرُوا بِرَبِّهِمْ عَذَابُ جَهَنَّمَ* ۖ
وَبِئْسَ الْمَصِيرُ
“Dan bagi orang-orang yang kafir kepada Tuhannya azab Jahannam. Dan itulah seburuk-buruk tempat kembali.”
—QS. Al-Mulk Ayat 6
Penjelasan Tematik
Setelah Allah menunjukkan keindahan dan keteraturan langit, kini Al-Qur’an membawa manusia kepada kenyataan yang lebih serius :
bahwa hidup bukan sekadar perjalanan dunia, tetapi ada konsekuensi akhir dari pilihan manusia.
وَلِلَّذِينَ كَفَرُوا بِرَبِّهِمْ
“Dan bagi orang-orang yang kufur kepada Tuhan mereka…”
Ayat ini berbicara tentang manusia yang menolak Allah, menolak petunjuk, dan hidup seakan tidak ada pertanggungjawaban setelah kematian.
Maka Allah menyebutkan akibat akhirnya :
عَذَابُ جَهَنَّمَ
“Azab Jahannam.”
Makna Kufur : Bukan Sekadar Tidak Percaya
Kata kufur dalam Al-Qur’an bukan hanya berarti tidak percaya.
Secara bahasa, kafara berarti “menutupi.”
Artinya, seseorang sebenarnya melihat tanda-tanda kebenaran, tetapi memilih menutup hati dari petunjuk itu.
Ia melihat nikmat, tetapi lupa bersyukur.
Ia melihat keteraturan alam, tetapi tidak mau mengenal Penciptanya.
Ia hidup dengan tubuh yang Allah beri, tetapi hati dan hidupnya jauh dari Allah.
Masalah Terbesar Manusia Adalah Hati yang Mati
Salah satu tragedi terbesar dalam hidup bukan miskin, bukan gagal, bukan kehilangan.
Tetapi ketika hati perlahan kehilangan kemampuan merasakan kehadiran Allah.
Dalam psikologi modern, ada istilah spiritual numbness — keadaan ketika jiwa menjadi tumpul secara spiritual.
Manusia tetap hidup secara fisik, tetapi batinnya kosong.
Ia tertawa, tetapi tidak tenang. Ia sibuk, tetapi tidak merasa bermakna.
Dan sering kali keadaan itu lahir karena hati terlalu lama jauh dari Allah.
Mengapa Al-Qur’an Berbicara tentang Neraka ?
Sebagian orang bertanya : mengapa Al-Qur’an berbicara tentang azab ?
Karena manusia tidak cukup hanya diberi harapan.
Kadang manusia juga membutuhkan peringatan.
Sebagaimana rambu bahaya di jalan dibuat bukan karena kebencian, tetapi agar manusia tidak celaka.
Begitu pula ancaman dalam Al-Qur’an adalah bentuk kasih sayang Allah agar manusia tidak berjalan menuju kehancuran tanpa sadar.
“Wa Bi’sal Mashiir” : Seburuk-Buruk Tempat Kembali
وَبِئْسَ الْمَصِيرُ
“Dan itulah seburuk-buruk tempat kembali.”
Kata mashiir berarti tempat kembali.
Ayat ini mengingatkan bahwa semua manusia sedang menuju satu tempat kembali.
Dunia hanyalah persinggahan. Jabatan akan selesai. Tubuh akan melemah. Popularitas akan hilang.
Dan pada akhirnya manusia akan kembali kepada Allah SWT.
Manusia Modern dan Kehilangan Kesadaran Akhirat
Salah satu ciri zaman modern adalah manusia semakin sibuk memikirkan kehidupan dunia, tetapi semakin jarang memikirkan akhir perjalanan hidupnya.
Target dunia dipersiapkan sangat serius. Tetapi kematian sering dianggap jauh.
Padahal kematian tidak menunggu usia tertentu.
Dalam psikologi modern, ada istilah death denial — kecenderungan manusia menghindari kesadaran tentang kematian karena dianggap menakutkan atau mengganggu kenyamanan hidup.
Akibatnya manusia hidup terlalu tenggelam dalam dunia dan lupa bahwa hidup ini sementara.
Padahal kesadaran tentang akhirat justru membuat hidup lebih bijak.
Azab Adalah Akibat, Bukan Kezaliman
Penting dipahami : Allah tidak menzalimi manusia.
Manusialah yang memilih jalannya sendiri.
Sebagaimana seseorang yang terus berjalan menuju jurang setelah diperingatkan berkali-kali, maka akibat itu lahir dari pilihannya sendiri.
Allah telah memberi akal. Memberi hati. Memberi petunjuk. Memberi kesempatan kembali.
Tetapi manusia tetap diberi kebebasan memilih.
Ketika Dunia Menjadi Segalanya
Masalah terbesar manusia sering kali bukan karena terlalu sedikit dunia, tetapi karena menjadikan dunia sebagai tujuan utama.
Ketika dunia menjadi pusat hidup, maka manusia akan takut kehilangan segalanya.
Takut kehilangan harta. Takut kehilangan status. Takut kehilangan pengakuan.
Padahal semua itu sementara.
Dan hati yang terlalu melekat kepada dunia biasanya akan sulit merasakan ketenangan spiritual.
Pelajaran Kehidupan
Maka jangan biarkan hati terlalu lama jauh dari Allah.
Karena hati yang terus-menerus tenggelam dalam dunia perlahan bisa kehilangan sensitivitas spiritualnya.
Selain itu, manusia perlu belajar bahwa hidup bukan hanya tentang sukses lahiriah, tetapi tentang keselamatan akhir perjalanan.
Karena ada orang yang terlihat berhasil di dunia, tetapi jiwanya kosong dan jauh dari petunjuk Allah SWT.
Ayat ini juga mengajarkan bahwa peringatan bukanlah bentuk kebencian Allah kepada manusia.
Justru karena Allah peduli, maka manusia diperingatkan sebelum terlambat.
Sebab yang paling berbahaya bukan ketika manusia berbuat salah, tetapi ketika ia tidak lagi merasa perlu kembali kepada Allah.
Kadang manusia terlalu sibuk mengejar dunia hingga lupa mempersiapkan dirinya untuk kematian.
Padahal setiap hari umur sebenarnya sedang berkurang, dan setiap langkah kehidupan sedang mendekatkan manusia kepada akhir perjalanannya.
Karena itu jangan tunggu tua untuk kembali kepada Allah.
Jangan tunggu hancur untuk sadar.
Dan jangan menunggu kehilangan segalanya baru mencari Tuhan.
Saudara…,
Ayat ini mengingatkan bahwa hidup bukan permainan tanpa arah.
Ada surga. Ada neraka. Ada pertanggungjawaban.
Dan semua manusia sedang berjalan menuju tempat kembalinya masing-masing.
Karena itu jangan hanya sibuk memperindah kehidupan dunia, tetapi perhatikan juga ke mana jiwa ini akan pulang.
Sebab sebesar apa pun dunia yang dimiliki manusia, semuanya akan ditinggalkan.
Dan pada akhirnya, yang paling penting bukan seberapa lama kita hidup, tetapi bagaimana keadaan kita saat kembali kepada Allah SWT.
Wallahu A‘lam.
Samarinda, 27 Mei 2026
![]()

