KAJIAN TEMATIK SURAT AL-QALAM—Ayat 36

Oleh Masykur Sarmian

.  بسم الله الرحمن الرحيم
مَا لَكُمْ كَيْفَ تَحْكُمُونَ

“Mengapa kamu (berbuat demikian)? Bagaimana kamu mengambil keputusan?”
—QS. Al-Qalam Ayat 36

Penjelasan Tematik

Setelah Allah menegaskan bahwa orang yang berserah diri tidak mungkin disamakan dengan para pelaku dosa, ayat ini datang sebagai teguran yang lebih tajam— bukan lagi sekadar menjelaskan, tetapi mempertanyakan cara berpikir manusia itu sendiri.

Ini bukan pertanyaan biasa. Ini adalah pertanyaan yang mengguncang fondasi penilaian.

   مَا لَكُمْ
“Apa yang terjadi dengan kalian ?”

Seolah Allah berkata: ada yang tidak beres dalam cara kalian melihat dunia. Ada sesuatu yang rusak dalam cara kalian menilai benar dan salah.

Krisis Cara Berpikir, Bukan Sekadar Krisis Perilaku

Sering kali manusia fokus memperbaiki tindakan, tetapi lupa bahwa akar dari tindakan adalah cara berpikir. Ayat ini langsung menyentuh akar itu.

Masalahnya bukan hanya pada perbuatan menyamakan yang benar dan yang salah, tetapi pada sistem berpikir yang membuat kesimpulan itu terasa wajar.

Jika cara berpikir rusak, maka keputusan yang lahir darinya pun akan menyimpang.

Ketika Standar Kebenaran Mulai Kabur

     كَيْفَ تَحْكُمُونَ
“Bagaimana kalian memutuskan ?”

Pertanyaan ini menyoroti standar yang digunakan manusia dalam menilai sesuatu. Apakah berdasarkan wahyu, akal sehat, atau sekadar hawa nafsu ?

Di zaman ketika opini bisa lebih kuat dari kebenaran, ayat ini terasa sangat relevan. Banyak orang tidak lagi bertanya “apa yang benar ?”, tetapi “apa yang menguntungkan ?” atau “apa yang disukai banyak orang ?”

Ketika standar bergeser, keputusan pun ikut tersesat.

Distorsi Kognitif dalam Menilai Realitas

Dalam psikologi modern, ayat ini bisa dikaitkan dengan cognitive distortion— penyimpangan dalam cara berpikir yang membuat seseorang melihat realitas secara tidak akurat.

Contohnya :
– membenarkan kesalahan karena banyak yang melakukannya,
– menganggap benar hanya karena terasa nyaman,
– menolak kebenaran karena tidak sesuai keinginan.

Distorsi ini membuat seseorang yakin bahwa ia benar, padahal ia sedang jauh dari kebenaran.

Bahaya Mengikuti Hawa Nafsu sebagai Hakim

Ketika hawa nafsu dijadikan standar, maka keputusan menjadi relatif dan berubah-ubah. Apa yang hari ini dianggap salah bisa besok dianggap biasa. Apa yang dulu memalukan bisa menjadi tren.

Ayat ini mengingatkan bahwa manusia membutuhkan standar yang tetap, bukan standar yang mengikuti keinginan.

Tanpa itu, hidup menjadi liar tanpa arah.

Renungan Singkat

Ayat ini tidak langsung memberi jawaban. Ia justru melemparkan pertanyaan agar manusia berpikir.

Dan pertanyaan ini tidak hanya untuk mereka yang ingkar, tetapi juga untuk siapa saja yang membaca :

Bagaimana aku menilai sesuatu ?
Apa standar yang kupakai ?
Apakah keputusanku lahir dari kebenaran atau dari kenyamanan ?

Pelajaran Kehidupan

Jangan hanya bertanya apakah tindakan kita benar. Tanyakan juga apakah cara berpikir kita sudah benar.

Sekali lagi jangan hanya bertanya apakah tindakan kita benar, tetapi beranilah menyelam lebih dalam : apakah cara berpikir kita sudah benar.

Sebab tindakan hanyalah ujung dari sebuah proses panjang yang berawal dari keyakinan, persepsi, dan cara kita memaknai realitas.

Jika akar berpikirnya keliru, maka kebenaran tindakan sering hanya kebetulan, bukan kesadaran.

Dan kebetulan tidak pernah cukup untuk membangun kehidupan yang kokoh.

Banyak orang merasa benar karena tindakannya tampak baik di permukaan, namun tidak pernah menguji kerangka pikir yang melahirkannya.

Mereka menilai dari hasil, bukan dari proses; dari dampak sesaat, bukan dari arah jangka panjang.

Padahal kesalahan berpikir sering bersembunyi dalam asumsi yang tak pernah dipertanyakan, dalam bias yang dianggap kebenaran, dan dalam ego yang enggan dikoreksi.

Di situlah jebakan terbesar : merasa sudah benar, padahal fondasinya rapuh.

Cara berpikir yang sehat adalah yang terbuka terhadap koreksi, berani menimbang ulang, dan tidak alergi terhadap kebenaran yang datang dari luar diri.

Ia tidak hanya mencari pembenaran, tetapi mencari kebenaran.

Ia tidak sibuk memenangkan argumen, tetapi berusaha meluruskan arah.

Karena orang yang besar bukan yang selalu benar, melainkan yang terus memperbaiki cara berpikirnya agar semakin dekat dengan kebenaran.

Maka sebelum kita menilai langkah yang telah diambil, periksalah peta yang kita gunakan.

Sebelum kita bangga pada keputusan, tanyakan logika yang melahirkannya.

Karena hidup tidak hanya ditentukan oleh apa yang kita lakukan, tetapi oleh bagaimana kita memahami dunia.

Dan ketika cara berpikir menjadi lurus, tindakan akan mengikuti dengan sendirinya.

Bukan sebagai kebetulan, tetapi sebagai konsekuensi dari kesadaran yang utuh.

Karena keputusan yang baik lahir dari pikiran yang jernih, dan pikiran yang jernih lahir dari hati yang lurus.

Saudara…,

Ayat ini seperti cermin yang sangat jujur :

Kadang masalah terbesar manusia bukan karena ia tidak tahu kebenaran, tetapi karena ia telah membiasakan cara berpikir yang menjauh dari kebenaran.

Jika suatu saat kita merasa sesuatu yang salah terasa biasa, atau sesuatu yang benar terasa berat, mungkin bukan kebenaran yang berubah—tetapi cara kita melihatnya. Maka luruskan kembali cara menilai. Kembalikan standar kepada yang benar. Karena hidup ini bukan hanya tentang pilihan, tetapi tentang bagaimana kita menentukan pilihan itu. Dan dari sanalah arah hidup ditentukan.

Wallahu A‘lam.
Samarinda, 4 Mei 2026

Loading