KAJIAN TEMATIK SURAT AL-QALAM—Ayat 37

Oleh Masykur Sarmian

بسم الله الرحمن الرحيم

أَمْ لَكُمْ كِتَابٌ فِيهِ تَدْرُسُونَ

“Ataukah kalian mempunyai sebuah kitab yang kalian membacanya (sehingga kalian mengambil keputusan seperti itu) ?”

—QS. Al-Qalam Ayat 37

 

Penjelasan Tematik

Ayat ini melanjutkan teguran tajam dari ayat sebelumnya. Setelah mempertanyakan cara berpikir manusia, kini Al-Qur’an menantang dasar rujukan mereka. Seolah Allah bertanya : keputusan yang kalian buat itu, sebenarnya bersandar pada apa ?

أَمْ لَكُمْ كِتَابٌ

“Ataukah kalian memiliki sebuah kitab…”

Ini bukan sekadar pertanyaan literal tentang buku. Ini adalah pertanyaan tentang otoritas kebenaran. Apakah kalian memiliki wahyu ? Apakah kalian punya sumber yang sah yang membenarkan cara berpikir kalian ?

Karena kebenaran tidak lahir dari perasaan semata. Ia membutuhkan rujukan yang kokoh.

 

Kebenaran Harus Memiliki Landasan

Setiap keputusan besar dalam hidup membutuhkan dasar. Tanpa landasan, manusia mudah tergelincir oleh opini, tekanan sosial, atau keinginan pribadi.

Ayat ini mengingatkan bahwa tidak cukup berkata, “Saya merasa ini benar.” Pertanyaannya : benar menurut apa ? Menurut siapa ?

Jika standar kebenaran hanya berasal dari diri sendiri, maka setiap orang akan memiliki versinya masing-masing—dan di situlah kekacauan dimulai.

 

Ilmu vs Pembenaran

فِيهِ تَدْرُسُونَ

“Yang kalian pelajari di dalamnya…”

Kata tadrusuun menunjukkan proses belajar yang berulang, mendalam, dan serius. Artinya, jika seseorang benar-benar memiliki dasar, maka itu lahir dari proses pencarian ilmu, bukan sekadar asumsi.

Ayat ini sekaligus menyindir : apakah kalian benar-benar belajar, atau hanya mencari pembenaran ?

Dalam kehidupan, ada dua jenis orang: yang mencari kebenaran, dan yang mencari alasan untuk membenarkan dirinya. Keduanya terlihat mirip, tetapi arahnya berbeda.

Bahaya “Self-Justification”

Dalam psikologi modern, ini dekat dengan self-justification —kecenderungan manusia membenarkan keputusan yang sudah diambil, meskipun sebenarnya keliru.

Seseorang tidak lagi mencari apakah sesuatu itu benar, tetapi mencari cara agar apa yang ia lakukan tampak benar.

Ini sangat berbahaya, karena membuat kesalahan terasa sah.

 

Tidak Semua Keyakinan Layak Diikuti

Banyak orang sangat yakin dengan pendapatnya. Namun keyakinan bukan jaminan kebenaran.

Ayat ini mengajarkan bahwa keyakinan harus diuji : apakah ia punya dasar ? apakah ia bersumber dari wahyu atau sekadar warisan kebiasaan ? apakah ia lahir dari ilmu atau hanya ikut arus ?

Karena seseorang bisa sangat yakin, tetapi sangat keliru.

 

Tantangan untuk Berpikir Jujur

Ayat ini bukan hanya ditujukan kepada kaum tertentu di masa lalu. Ia juga berbicara kepada setiap pembaca hari ini :

Apa dasar keputusan kita ?

Dari mana kita mengambil nilai ?

Apakah kita benar-benar belajar, atau hanya mengikuti lingkungan ?

Apakah kita mencari kebenaran, atau hanya mempertahankan kenyamanan ?

 

Pelajaran Kehidupan

Jangan jadikan perasaan sebagai satu-satunya kompas. Jangan jadikan kebiasaan sebagai satu-satunya standar. Carilah ilmu, carilah kebenaran, dan uji keyakinan dengan kejujuran.

Karena hidup yang dibangun tanpa dasar yang benar akan mudah runtuh ketika diuji.

Ia mungkin tampak megah di permukaan, berdiri tegak dengan hiasan pencapaian dan pengakuan, tetapi di dalamnya rapuh.

Seperti bangunan indah yang berdiri di atas pasir. Ketika angin kecil berembus, ia masih terlihat kokoh.

Namun saat badai datang, barulah terlihat bahwa kekuatannya selama ini hanyalah ilusi yang tertunda.

Banyak orang membangun hidup di atas fondasi yang salah.

Ambisi tanpa nilai, kesuksesan tanpa kejujuran, relasi tanpa ketulusan, bahkan spiritualitas tanpa kedalaman.

Semua itu bisa berjalan dalam waktu tertentu, bahkan menghasilkan pujian dan kekaguman.

Tetapi ujian hidup tidak pernah bisa ditipu.

Ia akan datang menguji keaslian, mengguncang apa yang palsu, dan memisahkan mana yang kuat dari yang sekadar tampak kuat.

Dasar yang benar bukan hanya tentang apa yang terlihat, tetapi tentang apa yang tidak terlihat.

Niat yang lurus, prinsip yang kokoh, dan kedekatan kepada Tuhan yang menjadi penopang saat segalanya goyah.

Orang yang membangun dari dalam mungkin tidak selalu terlihat paling cepat, tetapi ia akan menjadi yang paling tahan.

Karena ketika badai datang, ia tidak hanya mengandalkan kekuatan luar, tetapi memiliki jangkar yang tertanam dalam.

Maka jangan tergoda untuk membangun hidup dengan cara instan yang mengabaikan fondasi.

Lebih baik lambat tetapi kokoh, daripada cepat tetapi rapuh.

Sebab ujian hidup tidak bertanya seberapa tinggi kita berdiri, tetapi seberapa kuat kita bertahan.

Dan pada akhirnya, yang akan tetap tegak bukanlah yang paling mencolok, melainkan yang dibangun di atas dasar yang benar.

Saudara…,

Ayat ini seperti mengetuk akal :

Tidak semua yang terasa benar itu benar.

Tidak semua yang diyakini itu layak diikuti.

Tidak semua yang biasa itu seharusnya.

 

Jika suatu hari kita membela sesuatu dengan keras, cobalah bertanya pelan :

“Aku berdiri di atas apa ?”

Jika jawabannya kosong, maka mungkin yang perlu diperbaiki bukan dunia di luar sana, tetapi fondasi di dalam diri.

Dan dari situlah perjalanan menuju kebenaran dimulai.

Wallahu A‘lam…

Samarinda, 05 Mei 2026

Loading