SAMARINDA — Kawasan perbatasan antara Kelurahan Mugirejo dan Kelurahan Sambutan di Kota Samarinda kembali membara. Dalam dua hari berturut-turut, tepatnya pada Kamis (5/11/2026) dan Jumat (6/11/2026), amukan si jago merah melalap puluhan hektare lahan milik Kelompok Tani Rahayu di wilayah Kalan Luas, Jalan masuk Mugirejo Ujung.

Aksi pembakaran ini bukan sekadar musibah kemarau biasa. Para petani setempat dengan tegas mencium bau busuk praktik sabotase yang disengaja dan menduga kuat pelakunya adalah bagian dari sindikat mafia tanah yang ingin merusak ruang hidup warga.

Api kembali menghanguskan lahan seluas 8 hektar pada hari Jumat (6/11/2026) sore, diduga sengaja di bakar oleh mafia tanah.

Berdasarkan kronologi di lapangan, kebakaran pertama terjadi pada Kamis sore (5/11/2026) sekitar pukul 15.25 WITA di wilayah Mugirejo. Belum genap sehari berselang, kobaran api kembali mengamuk pada Jumat (6/11/2026) pukul 17.15 WITA dengan cakupan yang jauh lebih luas, yakni menghanguskan sekitar 8 hektare lahan serta meratakan satu unit gubuk milik warga bernama Pak Kahar.

Petani Gigih Padamkan Api Sendiri, Saksi Mata Pergoki Oknum Mafia Tanah Berkeliaran

Di tengah kepanikan, para petani harus berjibaku menyelamatkan aset pertanian mereka seorang diri sebelum bantuan petugas tiba. Junaidi, salah seorang petani setempat, bahkan harus mempertaruhkan keselamatan untuk mengamankan instalasi kabel listrik, selang, dan mesin pompa air senilai lebih dari Rp10 juta dari pinggir kolam agar tidak ikut hangus.

Kemarahan warga kelompok tani memuncak setelah saksi mata melihat seorang oknum warga berinisial M (warga RT 16 Mugirejo, Kecamatan Sungai Pinang) sengaja meninggalkan lokasi sesaat setelah api membesar. Oknum tersebut dilaporkan kerap berkeliaran di area lahan pertanian dan dicurigai kuat menjadi aktor intelektual di balik rentetan teror pembakaran berulang ini.

“Kami kesulitan menindak terduga pelaku karena diduga kuat terkait dengan jaringan mafia tanah. Kejadian seperti ini sudah berulang kali terjadi,” ujar Ahmad Karni, pegiat lingkungan yang turut memantau situasi di lapangan, Minggu (8/11/2026).

Teror 20 Hektare Lahan Kering dan Desakan Penegakan Hukum

Ketakutan kini menyelimuti para petani Kelompok Tani Rahayu. Pasalnya, masih terdapat lebih dari 20 hektare lahan kering di kawasan Kalan Luas yang berpotensi menjadi sasaran pembakaran berikutnya demi melancarkan syahwat penguasaan lahan oleh para spekulan tanah.

Meskipun laporan resmi telah dilayangkan ke aparat berwajib, mulai dari tingkat RT, Bhabinkamtibmas, hingga Dinas Pemadam Kebakaran, para petani mendesak kepolisian bergerak cepat menangkap terduga pelaku tanpa pandang bulu. Warga memperingatkan bahwa jika aparat terus lamban, ancaman kerusakan ekologis dan konflik agraria di tingkat akar rumput akan semakin tak terkendali.

Aksi karhutla di Kalan Luas ini sebelumnya sempat viral di berbagai platform digital dan menuai kecaman luas dari publik, menuntut negara hadir membasmi jaringan mafia tanah yang tega mengorbankan keselamatan lingkungan dan peri kehidupan petani demi kepentingan segelintir orang.(mn)

Loading