TADABBUR SURAT AL-WĀQI’AH —Ayat 21
Oleh Masykur Sarmian
وَلَحْمِ طَيْرٍ مِمَّا يَشْتَهُونَ
_”Dan daging burung dari apa yang mereka inginkan.”_
—QS. Al-Wāqi’ah: 21
Penjelasan Tematik
Setelah menyebut buah-buahan yang mereka pilih, Allah melanjutkan dengan makanan lain yang lebih spesifik:
وَلَحْمِ طَيْرٍ مِمَّا يَشْتَهُونَ
“dan daging burung
dari apa yang mereka inginkan.”
Ada dua kata yang menarik untuk diperhatikan: يَتَخَيَّرُون
pada ayat sebelumnya dan يَشْتَهُونَ pada ayat ini. Yang pertama berkaitan dengan memilih, sedangkan yang kedua berkaitan dengan sesuatu yang diinginkan atau disukai oleh jiwa. Dengan demikian, Al-Qur’an menggambarkan kenikmatan surga bukan sebagai sesuatu yang dipaksakan kepada penghuninya. Mereka mendapatkan kenikmatan yang sesuai dengan pilihan dan keinginan mereka.
Namun gambaran ini sekaligus mengingatkan kita bahwa manusia memang memiliki desire, dorongan untuk menginginkan sesuatu. Keinginan itu sendiri bukan dosa. Makan, minum, memiliki tempat tinggal yang nyaman, mencintai pasangan, menikmati keindahan, dan mencari kehidupan yang baik merupakan bagian dari fitrah manusia.
Persoalannya bukan apakah manusia memiliki keinginan, tetapi siapa yang mengendalikan keinginan tersebut.
Ketika keinginan berada di bawah kendali akal dan wahyu, ia dapat menjadi energi untuk membangun kehidupan. Tetapi ketika manusia sepenuhnya dikendalikan oleh keinginan, ia dapat berubah menjadi budak hawa nafsunya sendiri.
Dalam psikologi modern dikenal istilah wanting versus liking. Seseorang dapat sangat menginginkan sesuatu tanpa benar-benar memperoleh kepuasan yang sepadan setelah mendapatkannya. Sistem motivasi manusia dapat terus mendorong pencarian sesuatu yang baru, bahkan ketika kebutuhan sebenarnya sudah terpenuhi.
Fenomena ini sangat mudah ditemukan dalam kehidupan modern. Seseorang membeli sesuatu bukan karena benar-benar membutuhkannya, tetapi karena melihat orang lain memilikinya. Setelah mendapatkannya, rasa senang hanya berlangsung sebentar. Kemudian muncul keinginan baru. Siklus itu terus berjalan.
Al-Qur’an tidak mengajarkan manusia untuk membunuh seluruh keinginannya. Islam justru mengajarkan tazkiyatun-nafs, penyucian jiwa: bukan menghapus keinginan, tetapi mendidiknya agar tunduk kepada nilai yang lebih tinggi.
Allah berfirman:
وَنَهَى النَّفْسَ عَنِ الْهَوَىٰ فَإِنَّ الْجَنَّةَ هِيَ الْمَأْوَىٰ
“Dan dia menahan dirinya dari keinginan hawa nafsunya, maka sungguh, surgalah tempat tinggalnya.”
(QS. An-Nāzi’āt: 40–41)
Perhatikan hubungan yang sangat indah ini. Al-Wāqi’ah menggambarkan penghuni surga mendapatkan apa yang mereka inginkan. Al-Qur’an di tempat lain menjelaskan bahwa untuk mencapai surga, manusia harus belajar menahan hawa nafsu yang membawa kepada keburukan.
Artinya, orang yang berhasil mengendalikan keinginannya di dunia akan memperoleh kenikmatan yang sempurna di akhirat.
Dunia adalah tempat pendidikan keinginan. Surga adalah tempat pemenuhan kenikmatan.
Munāsabah dan Penguatan Dalil
Allah berfirman:
فِيهَا مَا تَشْتَهِيهِ الْأَنْفُسُ وَتَلَذُّ الْأَعْيُنُ
“Di dalamnya terdapat apa yang diingini oleh jiwa dan yang menyenangkan mata.”
(QS. Az-Zukhruf: 71)
Ayat ini menjadi munāsabah yang sangat kuat. Kenikmatan surga sesuai dengan fitrah dan keinginan penghuni surga, tetapi semuanya berada dalam keadaan yang sempurna dan tidak menimbulkan dosa maupun kerusakan.
Allah juga berfirman:
كُلُوا وَاشْرَبُوا هَنِيئًا بِمَا أَسْلَفْتُمْ فِي الْأَيَّامِ الْخَالِيَةِ
“Makan dan minumlah dengan nikmat sebagai balasan atas apa yang telah kalian kerjakan pada hari-hari yang telah berlalu.”
(QS. Al-Hāqqah: 24)
Ayat ini menghubungkan kenikmatan akhirat dengan amal yang dilakukan di dunia. Kenikmatan itu bukan sesuatu yang diperoleh tanpa perjalanan, tetapi merupakan buah dari kehidupan yang telah dijalani dengan iman dan amal saleh.
Rasulullah Muhammad SAW bersabda:
مَنْ خَافَ أَدْلَجَ، وَمَنْ أَدْلَجَ بَلَغَ الْمَنْزِلَ، أَلَا إِنَّ سِلْعَةَ اللَّهِ غَالِيَةٌ، أَلَا إِنَّ سِلْعَةَ اللَّهِ الْجَنَّةُ
“Barang siapa takut terhadap sesuatu, ia akan berangkat lebih awal; dan barang siapa berangkat lebih awal, ia akan sampai pada tempat tujuan. Ketahuilah, sesungguhnya barang dagangan Allah itu mahal. Ketahuilah, barang dagangan Allah adalah surga.”
(HR. At-Tirmidzi)
Hadis ini menggambarkan bahwa tujuan yang besar membutuhkan kesungguhan. Surga bukan sekadar angan-angan, tetapi tujuan yang harus diperjuangkan.
Pelajaran Kehidupan
Ayat ini mengajarkan kepada kita agar tidak memusuhi keinginan, tetapi mendidik keinginan.
Kita boleh menginginkan kekayaan, tetapi jangan sampai kekayaan menguasai hati. Kita boleh menginginkan jabatan, tetapi jangan sampai jabatan membuat kita zalim. Kita boleh menikmati makanan, tetapi jangan sampai selera mengalahkan kesehatan. Kita boleh mencintai manusia, tetapi jangan sampai cinta kepada manusia mengalahkan cinta kepada Allah.
Kedewasaan spiritual bukan ketika seseorang tidak lagi memiliki keinginan, melainkan ketika ia mampu berkata:
“Aku memiliki keinginan, tetapi keinginanku tidak menjadi tuhanku.”
Itulah makna pengendalian diri yang sesungguhnya.
Renungan Peradaban
Salah satu persoalan besar masyarakat konsumtif adalah ketika manusia tidak lagi sekadar membeli barang, tetapi membeli identitas dan kepuasan psikologis. Produk tidak hanya dijual sebagai benda, tetapi sebagai simbol keberhasilan, status, kecantikan, kebebasan, bahkan kebahagiaan.
Akibatnya, ekonomi dapat berubah menjadi mesin yang terus memproduksi keinginan baru.
Di sinilah peradaban Qur’ani menawarkan keseimbangan. Islam tidak memerintahkan manusia meninggalkan dunia, tetapi mengajarkan agar manusia memiliki dunia tanpa diperbudak dunia.
Keinginan adalah energi. Jika dididik, ia melahirkan karya. Jika dibiarkan, ia dapat melahirkan kerakusan.
Maka pendidikan peradaban seharusnya bukan hanya mengajarkan manusia bagaimana mendapatkan apa yang diinginkannya, tetapi juga bagaimana menentukan apa yang pantas diinginkannya.
Sebab manusia yang tidak mampu mengendalikan keinginan akan selalu merasa kekurangan, meskipun memiliki banyak.
Sedangkan manusia yang jiwanya telah dididik oleh iman mampu menikmati apa yang halal, bersyukur atas apa yang dimiliki, dan meninggalkan apa yang merusaknya.
Dan ketika perjalanan dunia berakhir, Allah menjanjikan kepada hamba-hamba-Nya kenikmatan yang sempurna—kenikmatan yang tidak lagi bercampur dengan dosa, kehilangan, penyesalan, ataupun rasa takut.
Wallāhu A’lam
Samarinda, 11 Oktober 2026
![]()

