TADABBUR SURAT AL-WĀQI’AH—Ayat 13
Oleh Masykur Sarmian
ثُلَّةٌ مِنَ الْأَوَّلِينَ
_”Segolongan besar dari orang-orang yang terdahulu.”_
—QS. Al-Wāqi’ah: 13
Penjelasan Tematik
Setelah Allah menjelaskan bahwa As-Sābiqūn adalah Al-Muqarrabūn, orang-orang yang didekatkan kepada-Nya dan ditempatkan dalam surga-surga kenikmatan, kini Al-Wāqi’ah mulai menjelaskan komposisi kelompok mulia tersebut. Allah berfirman:
ثُلَّةٌ مِنَ الْأَوَّلِينَ
” segolongan besar dari orang-orang yang terdahulu.”
Kata ثُلَّة (tsullah) menunjukkan kelompok yang banyak. Karena itu, ayat ini memberikan kesan bahwa di antara generasi-generasi terdahulu terdapat sejumlah besar manusia yang berhasil mencapai kedudukan tinggi di sisi Allah. Mereka adalah orang-orang yang datang lebih awal dalam sejarah iman dan menjadi pelopor dalam kebaikan.
Namun ayat ini tidak sekadar berbicara tentang urutan waktu. “Orang-orang terdahulu” juga dapat dipahami sebagai mereka yang lebih dahulu merespons kebenaran, lebih dahulu beriman, dan lebih dahulu berkorban ketika jalan kebenaran belum menjadi jalan yang mudah.
Di sinilah terdapat prinsip penting dalam sejarah perubahan. Hampir setiap perubahan besar selalu dimulai oleh minoritas pelopor yang bersedia melakukan sesuatu sebelum mayoritas melihat hasilnya. Mereka tidak memiliki jaminan bahwa perjuangan mereka akan segera berhasil. Mereka bergerak karena percaya bahwa apa yang mereka lakukan benar.
Dalam psikologi sosial dikenal konsep minority influence, yaitu kemampuan kelompok kecil yang konsisten dalam mempertahankan keyakinan untuk memengaruhi kelompok yang lebih besar. Sejarah manusia menunjukkan bahwa perubahan dalam ilmu, moral, pendidikan, bahkan peradaban sering kali dimulai dari sekelompok kecil manusia yang berani mempertahankan prinsip ketika masyarakat belum menerimanya.
Namun Al-Qur’an memberi dimensi yang lebih tinggi. Menjadi pelopor bukan sekadar berani berbeda. Pelopor sejati adalah orang yang berani berada di depan dalam kebenaran.
Para sahabat generasi awal adalah contoh yang sangat jelas. Mereka menerima dakwah Rasulullah Muhammad SAW ketika Islam belum memiliki kekuatan politik, belum memiliki kekuasaan, dan bahkan ketika menerima Islam berarti harus menghadapi tekanan sosial dan ekonomi. Mereka tidak menunggu Islam menjadi kuat untuk kemudian bergabung. Mereka bergabung ketika perjuangan masih berat.
Karena itu, nilai seseorang tidak hanya ditentukan oleh apa yang ia lakukan ketika kebaikan sudah populer, tetapi juga oleh apa yang ia lakukan ketika kebenaran membutuhkan keberanian.
Dalam kehidupan modern, kita sering terjebak dalam social proof, yaitu kecenderungan menganggap sesuatu benar atau layak hanya karena banyak orang melakukannya. Jika mayoritas menyukai sesuatu, kita merasa aman untuk ikut. Jika sedikit yang melakukan, kita ragu. Padahal kebenaran tidak pernah ditentukan oleh jumlah pengikutnya.
Al-Qur’an mengingatkan:
وَإِنْ تُطِعْ أَكْثَرَ مَنْ فِي الْأَرْضِ يُضِلُّوكَ عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ ۚ إِنْ يَتَّبِعُونَ إِلَّا الظَّنَّ
“Jika engkau mengikuti kebanyakan orang di bumi, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah. Mereka hanya mengikuti persangkaan.”
(QS. Al-An’ām: 116)
Ayat ini tidak berarti mayoritas selalu salah, tetapi menegaskan bahwa kebenaran tidak memperoleh legitimasi hanya karena jumlah. Seorang mukmin harus memiliki kemampuan berpikir dan menilai berdasarkan wahyu, bukan sekadar mengikuti arus.
Munāsabah dan Penguatan Dalil
Allah berfirman:
وَالسَّابِقُونَ الْأَوَّلُونَ مِنَ الْمُهَاجِرِينَ وَالْأَنْصَارِ وَالَّذِينَ اتَّبَعُوهُمْ بِإِحْسَانٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ
“Dan orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) dari kalangan Muhajirin dan Ansar serta orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah rida kepada mereka dan mereka pun rida kepada-Nya.”
(QS. At-Taubah: 100)
Ayat ini menjadi munāsabah yang sangat kuat dengan istilah As-Sābiqūn. Allah secara eksplisit menyebut generasi awal Muhajirin dan Ansar sebagai As-Sābiqūn Al-Awwalūn, orang-orang yang terdahulu dan pertama-tama beriman.
Rasulullah Muhammad SAW juga bersabda:
خَيْرُ النَّاسِ قَرْنِي، ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ، ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ
“Sebaik-baik manusia adalah generasiku, kemudian generasi setelah mereka, kemudian generasi setelah mereka.”
(HR. Al-Bukhari dan Muslim)
Hadis ini menunjukkan keutamaan generasi awal umat Islam yang menerima, memperjuangkan, dan mengamalkan Islam secara langsung bersama Rasulullah Muhammad SAW.
Pelajaran Kehidupan
Ayat ini mengajarkan kita untuk tidak selalu menunggu keadaan menjadi sempurna sebelum melakukan kebaikan. Jangan menunggu semua orang peduli baru kita peduli. Jangan menunggu masyarakat jujur baru kita jujur. Jangan menunggu orang lain memulai pendidikan, dakwah, pelayanan, atau kepedulian sosial.
Ada saatnya kita harus menjadi orang yang pertama.
Menjadi As-Sābiqūn bukan berarti harus menjadi terkenal. Banyak pelopor kebaikan yang namanya tidak pernah masuk buku sejarah manusia, tetapi amalnya tercatat dalam sejarah langit.
Renungan Peradaban
Setiap peradaban besar membutuhkan manusia-manusia yang bersedia menjadi generasi pembuka jalan. Mereka menanam sesuatu yang mungkin belum sempat mereka nikmati. Mereka mendidik generasi yang mungkin tidak sempat mereka lihat dewasa. Mereka membangun institusi yang mungkin baru menghasilkan manfaat puluhan tahun kemudian.
Itulah mentalitas peradaban.
Masyarakat yang hanya memikirkan keuntungan hari ini akan sulit membangun masa depan. Sebaliknya, masyarakat yang memiliki manusia-manusia visioner akan berani melakukan pengorbanan yang hasilnya mungkin baru dirasakan generasi berikutnya.
Al-Wāqi’ah mengajarkan bahwa Allah menghargai mereka yang berada di depan dalam kebaikan. Maka jangan takut menjadi sedikit ketika yang sedikit itu berada di jalan yang benar.
Sebab sering kali sejarah perubahan dimulai bukan dari kerumunan besar, tetapi dari segelintir manusia yang berani melangkah lebih dahulu.
Dan pertanyaan untuk kita sederhana: kebaikan apa yang hari ini sedang menunggu seseorang untuk menjadi yang pertama memulainya ?
Wallāhu A’lam
Samarinda, 3 Oktober 2026
![]()

