KUTAI KARTANEGARA — Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) melanda kawasan Taman Hutan Lindung (Tahura) Bukit Soeharto, tepatnya di sekitar Km 55 hingga Km 58, Kecamatan Loa Janan, Kabupaten Kutai Kartanegara. Lambatnya penanganan pada Kamis (24/9/2026) dini hari menyebabkan kobaran api meluas hingga melalap sekitar 13 hingga 14 hektare area vegetasi dan menimbulkan kerugian ekologi yang signifikan.

Api yang mulai membesar sejak Kamis dini hari sempat tidak tertangani dengan maksimal akibat minimnya ketersediaan pasokan air dan keterbatasan personel awal di lokasi.
Ketua Relawan Siaga Batuah (RSB), Bustan Nur Arifin, mengungkapkan bahwa timnya telah mengupayakan pemadaman sejak malam hari, namun kewalahan karena kehabisan stok air di unit tangki pemadam.
“Beberapa kali kami langsir air menggunakan unit tangki pemadam RSB, tapi kewalahan. Sementara pihak yang berwenang tidak tampak di lokasi,” ujar Bustan saat mendampingi proses pemadaman di lapangan.

Keterlambatan penanganan dari instansi terkait juga memicu keluhan dari warga sekitar. Yulianti, warga Batuah, menuturkan bahwa hingga Kamis pagi titik api bekas kebakaran hari sebelumnya kembali menyala dan merambat. Menurutnya, relawan bekerja keras secara mandiri di lapangan tanpa dukungan maksimal sejak awal dari pihak kehutanan.

Menanggapi sorotan tersebut, Babinsa Batuah AIPDA Muhammad Facthur Rayid, menjelaskan bahwa personel Dinas Kehutanan dan Manggala Agni saat kejadian terbagi fokusnya karena juga sedang menangani titik kebakaran di kawasan Bukit Merdeka.
“Dinas Kehutanan terbagi dengan Manggala Agni yang memadamkan di Bukit Merdeka juga. Pada dasarnya semua pihak sudah turun karena ini pekerjaan tim. Dari PT Lembuswana juga turun bolak-balik mengambil air ke lokasi,” jelasnya.
Guna mengendalikan pergerakan api, tim gabungan yang terdiri dari jajaran Polsek Loa Janan, Polsubsektor Tahura, personel Otorita IKN, relawan RSB, Masyarakat Peduli Api (MPA), serta warga setempat akhirnya diterjunkan ke lokasi. Kapolsubsektor Tahura Aiptu Edi Susanto memimpin langsung koordinasi penanganan di area terdampak.
Proses pemadaman menghadapi kendala berat akibat kondisi topografi hutan lindung yang dipenuhi semak belukar kering dan vegetasi yang mudah terbakar. Untuk menyiasati krisis air, pihak swasta seperti PT Lembuswana dan PT BSSR turut menerjunkan bantuan logistik berupa pasokan air tangki bagi para relawan dan petugas.
Petugas gabungan terus melakukan penyisiran, pemadaman secara bertahap, hingga proses pendinginan (cooling down) untuk memastikan tidak ada lagi sisa bara api yang berpotensi memicu kebakaran susulan. Hingga pemantauan terakhir, kondisi di sekitar lokasi terdampak dilaporkan telah relatif aman dan terkendali meski upaya pendinginan masih terus berlanjut.(mn)
![]()

