Oleh: Teuku Taufiqulhadi
Mantan Wartawan Group Media Indonesia
MUKTAMAR NU ke-35 di Jombang sangat menarik, bukan soal hasil keputusannya yang sebagian orang menganggap agak kontroversial.
Tetapi even paling penting organisasi itu telah menyedot perhatian publik terutama kaum nahdhiyin sendiri secara besar-besaran.
Puluhan ribu atau bahkan ratusan ribu manusia dari berbagai penjuru Indonesia memadati arena muktamar yang berlangsung di Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambak Beras, Jombang tersebut.
Ponpes Tambak Beras didirikan oleh KH Abdus Salam pada 1838. KH Abdus Salam atau yang dikenal Mbah Soihah ini adalah kakek dari salah satu ulama terkenal yaitu KH Abdul Wahab Chasbullah.
KH Wahab ini adalah pahlawan nasional dan pendiri NU bersama dengan KH Hasyim Asy’ari dari Ponpes Tebuireng pada 1926.
Melalui cucunya inilah kelak mengekalkan bani Wahab yang identik dengan Ponpes Tambak Beras.
Sementara, Ponpes Tebuireng yang hanya berjarak sekitar sekitar 7 km dari Ponpes Tambak Beras didirikan KH Hasyim Asy’ari pada 1899.
Mbah Hasyim juga adalah pahlawan nasional dan beliau ini kakek dari KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur).
Ponpes Tebuireng ini kini dipimpin oleh KH Abdul Hakim Mahfud atau Gus Kikin, yang merupakan keturunan hadratusssyaikh itu dari garis ibu.
Gus Kikin ini baru saja terpilih sebagai Ketum PB NU ini di Muktamar Tambak Beras tersebut.
Dengan semua alasan di atas itu maka muktamar ke NU ke-35 di Jombang ini menjadi daya tarik sendiri. Sebab Jombang adalah “Mekkah” bagi kaum Nadhiyyin.
Maka mereka yang datang membanjiri Jombang itu, bukan sekedar untuk meramaikan muktamar tapi mereka hadir untuk mendatangi “Mekkah”-nya.
Jadi bayangkan, ada yang datang ke Jombang dari pelosok Papua dan pelosok Kalimantan.
NU memiliki cabang di Serui dan kota-kota kabupaten lain di Papua.
Peserta muktamar yang disebut muktamirin mungkin sekitar 4000 orang tapi puluhan ribu atau bahkan ratusan ribu pengunjung lainlah bisa disebut “romli” (rombongan liar), yang mendampingi utusan atau sekedar meramaikan.
Karena tumpah ruahnya warga masyarakat untuk mengikuti dari dekat muktamar itu, kamar hotel yang terbatas di Jombang habis semua dipesan.
Bahkan semua rumah warga di sekitar lokasi muktamar juga ludes sejak jauh hari.
Warga lokal segera memanfaatkan siatuasi dengan sempurna. Misalnya, kata seorang teman, harga sewa sebuah rumah mungkin sebesar 7 juta perminggu, tapi kini menjadi 50 juta.
Seorang warga Jombang mengatakan seraya menunjukkan kepada sebuah rumah mewah sekitar 1 km dari lokasi muktamar. “Hemat saya, harga sewa rumah itu cukup 25 perminggu tapi kini disewa Rp 250 juta.”
Dengan kenyataan pengunjung yang masif itu, jangan heran, jalan menuju ke arena hanya bisa dilalui dengan jalan kaki saja.
Sekitar 1,5 km sebelum lokasi, mobil harus berhenti. Setelah itu, jika ada, bisa menggunakan sepeda motor untuk jarak tempuh 600 m lagi, sisa harus jalan kaki.
Ada sekitar 1,5 km sebelum arena di jalan yang penuh sesak itu penuh dengan para penjual berbagai jenis makanan dan berbagai jenis suvenir.
Gerobak dan berbagai gerai makan dan minim itu muncul mendadak seperti pasar malam. Mulai dari makanan rakyat hingga makanan asing, yang terbaca seperti nama-nama Jepang, Arab dan Barat.
Pedagang mendadak itu ada yang menjual bakso, gorengan, batagor atau siomai. Gerai berbagai es campur bersebelahan penjual kain sarung dan berbagai jenis kopiah.
Di sebelahnya lagi berdiri dengan gagah sebuah gerobak jamu.
Beberapa ibu yang tertarik mendekati sebuah gerai yang penuh dengan pakaian dan suvenir haji, salah seorang terpaksa menyingkir ke sebelahnya karena anaknya terus menunjukkan ke gerobak gulali.
Tapi paling hebat, di belakang penjual gulali itu ada sebuah lahan luas, yang saat itu menjadi ajang apa yang disebut “Expo dan Bazar, Muktamar NU-ke 35”.
Segala yang dijual sepanjang jalan menunju ke arena muktamar terdapat di ekspo ini.
Bahkan di ekspo ini semua menggunakan tenda yang lebih tertata.
Di sini juga di ada berbagai wahana mainan anak seperti komedi putar, ayunan, mobil-mobilan dll.
Di luar di luar pasar kaget itu, hadir juga berbagai organisasi yang mendirikan pos di sekitar arena.
Ada PMII, ISNU, IPNU, HMI. Ada Muhammadiyah yang lengkap dengan ambulan dan tim medis.
Tapi ada juga parpol seperti Golkar yang menyewa beberapa ruko yang jarak sekitar 2 km dari tempat acara.
Di luar itu selain PKB juga ada Partai Demokrat, Gerindra, NasDem dan lainnya.
“Pokoknya semua sangat antosias,” ujar Hambali, romli dari Bangkalan dengan logat khas madura, yang di tangan sedang menimbang-nimbang topi putih berlambang NU.
Tapi tentu saja antusiasme Hambali berbeda dengan antusiame tujuh dari sembilan anggota Ahlul Halli wal aqdi, majelis para ulama sepuh, yang berhasil menetapkan kembali KH Miftachul Akhyar sebagai Rois Aam, serta memilih KH Abdul Hakim Mahfudz atau yang dikenal Gus Kikin sebagai Ketua Umum PB NU yang baru.
![]()

