SAMARINDA — Di tengah gempuran moral era digital di mana media sosial kerap menjadi arena bebas ghibah, fitnah, dan hilangnya adab, Masjid At Taqarrub di kompleks Kehutanan, Kelurahan Air Hitam, Samarinda Ulu hadir membawa alarm keras bagi umat Islam. Mengusung tema yang sangat relevan dengan kegelisahan zaman, peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW pada Sabtu (22/8/2026) kemarin berubah menjadi panggung teguran moral yang tajam.

Bertempat di Ruang Utama Masjid yang berlokasi di Jalan Anang Hasyim, Komplek Perumahan Kehutanan, acara ini sukses menyedot perhatian sekitar 300 jamaah. Hadir memadati lokasi mulai dari pengurus yayasan, takmir masjid, Ikatan Remaja Masjid (IRMA), para alim ulama, Habaib, tokoh masyarakat dari Perum Kehutanan dan Perum PWI, hingga jamaah setia pengajian subuh.

Namun, daya tarik utama acara ini tertuju pada tausiah membakar yang disampaikan oleh Intelektual Muslim Kaltim sekaligus Dosen UINSI Samarinda, Ustadz Abdul Syakur Al Hafizh, Lc., M.H.

“Maulid Bukan Sekadar Seremonial Formalitas!”

Dalam ceramahnya yang langsung menghujam kesadaran jamaah, Ustadz Abdul Syakur secara tegas mengingatkan agar peringatan hari lahir Rasulullah tidak direduksi sekadar menjadi rutinitas seremonial tahunan yang hampa makna. Di tengah maraknya konten media sosial yang kerap mempertontonkan dekadensi moral, momentum Maulid harus dijadikan titik balik revolusi mental umat.

“Maulid Nabi bukan sekadar tradisi, melainkan bentuk rasa syukur atas anugerah terbesar dari Allah SWT. Kelahiran Nabi Muhammad SAW adalah rahmat bagi seluruh alam, penuntun umat manusia menuju cahaya Islam di tengah kegelapan zaman,” tegasnya di hadapan ratusan jamaah yang khusyuk menyimak.

Ia juga menekankan bahwa kecintaan kepada Nabi Muhammad SAW bukanlah opsi, melainkan harga mati bagi seorang mukmin. Tidak ada kesempurnaan iman tanpa menempatkan cinta kepada Rasulullah di atas segalanya, yang otomatis terintegrasi dengan cinta kepada Allah SWT.

Tamparan Keras, Sahabat Tunanetra Saja Tak Diberi Dispensasi Salat Berjamaah!

Suasana kian senyap ketika sang ustadz membongkar salah satu indikator paling konkrit dari bukti cinta kepada Rasul, yaitu mengamalkan sunnah secara totalitas tanpa kompromi.

Ustadz Abdul Syakur menyentil kebiasaan sebagian umat hari ini yang kerap mencari-cari alasan untuk meninggalkan salat berjamaah di masjid, padahal Rasulullah SAW mencontohkan keteguhan luar biasa dalam kondisi apa pun—baik dalam suka maupun duka.

Sebagai pengingat yang menohok, ia menceritakan kisah sahabat agung Abdullah bin Ummi Maktum. Seorang sahabat yang memiliki keterbatasan fisik (tunanetra) dan sudah lanjut usia, sempat meminta keringanan (dispensasi) kepada Nabi agar diizinkan tidak ikut salat berjamaah di masjid. Apa jawaban Rasulullah? Beliau menolaknya mentah-mentah.

Jika seorang sahabat tunanetra dan sepuh saja tidak diberikan dispensasi untuk absen dari saf berjamaah, lalu apa alasan umat zaman sekarang yang sehat walafiat untuk mangkir dari masjid demi alasan sepele—termasuk terjebak berjam-jam tenggelam dalam layar ponsel pintar dan media sosial?

Ukhuwah dan Gotong Royong Warga Komplek

Sebelum tausiah yang menggugah tersebut, Ketua Takmir Masjid At Taqarrub, Ustadz Muhammad Roghib, dalam sambutannya menegaskan bahwa esensi utama dari perayaan Maulid ini ada dua hal besar, yaitu memperkuat ukhuwah Islamiyah antarwarga (Perum Kehutanan, Perum PWI, dan sekitarnya) serta menghidupkan kembali uswatun hasanah (teladan agung) Rasulullah dalam sanubari umat.

M. Roghib juga menyampaikan apresiasi setinggi-tingginya kepada seluruh pihak yang telah berjibaku siang dan malam menyukseskan acara sakral ini.

“Tanpa dukungan dan kebersamaan panitia, ibu-ibu dapur, remaja masjid, para tokoh masyarakat, serta seluruh donatur, acara ini tentu tidak akan berjalan lancar. Semoga Allah SWT membalasnya dengan pahala berlipat-lipat,” pungkas Roghib penuh syukur.

Melalui peringatan Maulid Nabi di Masjid At Taqarrub tahun 2026 ini, pesan tegas telah bergema: sudah saatnya umat Islam kembali merebut kendali diri dari jeratan media sosial dan mengembalikan Baginda Nabi Muhammad SAW sebagai kiblat utama teladan hidup sehari-hari.(*/mn)

Loading