SAMARINDA – Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Kalimantan Timur melakukan langkah berani untuk meminimalisir sengketa administratif dalam Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) VIII Kaltim 2026 mendatang. Lewat inovasi sistem digital, KONI Kaltim kini memperketat verifikasi data atlet agar lebih transparan dan akuntabel.

Penerapan sistem berbasis website ini disosialisasikan dalam Rapat Kerja Kota (Rakerkot) KONI Samarinda, Sabtu (18/7/2026). Inovasi ini hadir sebagai respons atas permasalahan klasik yang kerap muncul, yakni perpindahan atlet yang tidak memenuhi syarat domisili.

Ketua Tim Keabsahan Porprov VIII KONI Kaltim, Dandri Dauri, menegaskan bahwa era verifikasi manual telah berakhir. Pihaknya kini menggandeng Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil (Disdukcapil) untuk mengintegrasikan data kependudukan secara elektronik.

“Dulu verifikasi manual sangat rentan terhadap kesalahan administrasi, terutama terkait mutasi atlet yang mendadak. Dengan sistem digital yang terintegrasi dengan Disdukcapil, riwayat domisili atlet akan terpantau otomatis. Kalau ada atlet yang baru pindah KTP jelang Porprov, sistem akan langsung mendeteksi,” jelas Dandri.

Menurut Dandri, digitalisasi bukan sekadar perubahan teknologi, melainkan upaya menjaga marwah sportivitas olahraga di Benua Etam. Selama ini, sengketa terkait keabsahan atlet seringkali memicu perdebatan sengit setelah ajang perlombaan berakhir.

Dengan adanya verifikasi sistemik ini, ia optimis seluruh proses administrasi akan berjalan lebih bersih. “Kami tidak ingin lagi mendengar ada polemik keabsahan atlet setelah Porprov selesai. Semua proses kita buat transparan sejak awal,” tegasnya.

Setelah sosialisasi di tingkat kota, KONI Kaltim dijadwalkan akan mengundang seluruh KONI kabupaten/kota se-Kalimantan Timur untuk mengikuti Bimbingan Teknis (Bimtek) sebagai tahap finalisasi implementasi sistem.

Langkah ini dipandang sebagai bentuk keseriusan KONI Kaltim dalam menyukseskan Porprov VIII yang akan digelar di Kabupaten Paser. Melalui sistem yang lebih presisi, diharapkan tidak ada lagi atlet yang terganjal masalah administrasi, sehingga fokus para atlet hanya tertuju pada prestasi di lapangan.

“Ini adalah semangat baru bagi olahraga Kaltim. Kami ingin memastikan setiap medali yang diraih adalah hasil dari sportivitas dan pembinaan yang benar, bukan dari kecurangan administratif,” pungkas Dandri.(*/mn)

Loading