JAKARTA — Musyawarah Nasional ke VI Asosiasi Badan Penyelenggara Perguruan Tinggi Swasta Indonesia (ABP-PTSI) resmi menggelar Musyawarah Nasional (Munas) ke-VI di Grand Ballroom, Pullman Jakarta Central Park, Jakarta, Rabu (15/7/2026) yang dibuka oleh Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Wamendiktisaintek), Prof. Dr. Fauzan, M.Pd ditandai dengan pembacaan ‘bismillahirrahmanirrahim’.
Wamendiktisaintek Fauzan dalam kesempatan tersebut juga menyampaikan pidato utama mengingatkan umur panjang sebuah institusi hampir tidak pernah ditentukan oleh besarnya aset yang dimiliki, ia juga tidak ditentukan oleh kecerdasan para pemimpinnya tetapi yang menentukan adalah sebuah institusi menjaga misinya sambil terus memperbaharui dirinya mengikuti perubahan jaman.
“Dalam kajian-kajian perusahaan visioner yang bertahan hingga ratusan tahun ternyata ada dua hal yang secara konsisten dijalankan yaitu menjaga nilai inti dan merangsang kemajuan,” paparnya.
Nilai intinya tidak pernah berubah, tetapi strategi produk dan cara kerja terus menerus diperbarui, institusi yang gagal biasanya keliru membedakan keduanya, mereka mengorbankan nilai inti dan tren sesaat atau sebaliknya mempertahankan cara kerja lama seolah-olah cara kerja itu nilai inti itu sendiri.
“Organisasi dapat dibangun untuk memenuhi kebutuhan sesaat, tetapi institusi dibangun untuk melayani lintas generasi. Organisasi dapat tumbuh karena seorang pemimpin yang hebat, namun institusi hanya akan bertahan apabila mempunyai nilai-nilai yang lebih kuat dari pada siapapun pemimpinnya,” jelasnya.

Telah disinyalir bahwa perguruan tinggi yang sehat bukan hanya seperangkat gedung dan orang, melainkan seperangkat aturan nilai dan tradisi yang terus bekerja meskipun orang-orangnya terus berganti.
Fauzan menyebutkan bahwa universitas yang besar bukanlah yang memiliki gedung paling tinggi, bukan pula yang memiliki jumlah mahasiswa paling banyak, Universitas yang besar adalah universitas yang mampu tetap relevan bagi masyarakat, sekalipun dunia berubah secara drastis.
“Dalam sejarah umat manusia tidak ada satupun peradaban besar yang lahir tanpa institusi pendidikan yang kuat. Dalam teori human capital menunjukkan bahwa investasi pada pendidikan adalah investasi yang paling produktif yang dapat dilakukan sebuah bangsa, karena yang melipatgandakan kapasitas manusia untuk menciptakan nilai itu. Sementara dalam teori triple hauid bahwa kemajuan ekonomi berbasis pengetahuan hanya lahir dari 3 aktor yaitu universitas, industri dan pemerintahan, dengan universitas sebagai sumber utama pengetahuan dan inovasi.”
Disampaikan Fauzan bahwa mulai tahun 2025 Mendiktisaintek mencanangkan uji coba yang ada di NTT lahirnya konsorsium perguruan tinggi dalam rangka untuk menguatkan kerjasama BKN ini.
Diingatian Wamendiktisaintek, Perguruan tinggi bukan hanya sekadar menghasilkan lulusan, perguruan tinggi menghasilkan arah masa depan sebuah bangsa. Oleh karena itu apabila kita sedang berbicara perguruan tinggi maka sesungguhnya kita sedang berbicara masa depan Indonesia. Kita sedang berbicara:
– bagaimana bangsa ini akan bersaing,
– bagaimana bangsa ini akan berinovasi
– bagaimana bangsa ini akan menjaga persatuannya,
– bagaimana bangsa ini akan membangun kesejahteraan masyarakatnya, dan
– bagaimana bangsa ini akan dikenang oleh sejarah.
“Berdasarkan data pangkalan data pendidikan tinggi (PD-Dikti) Kemendiktisaintek tahun ajaran 2024/2025 Indonesia memiliki 4303 perguruan tinggi. Dari jumlah itu sekitar 63% atau 2.713 lembaga adalah perguruan tinggi swasta. Ditambah lagi 1.318 perguruan tinggi keagamaan yang sebagai besar juga diselenggarakan masyarakat, perguruan tinggi negeri hanya sekitar 3%.” ungkapnya.
Selain itu, lebih dari 4,4 juta mahasiswa saat ini menuntut ilmu di perguruan tinggi swasta. Jumlah terbesar dari kelompok kelembagaan, apa artinya? Artinya masa depan pendidikan tinggi Indonesia ada ditangan bapak/ibu para penyelenggara. Negara tidak mungkin memikul beban ini sendirian, sejak awal Republik ini berdiri, masyarakatlah melalui yayasan, persyarikatan, dan badan penyelenggara yang menjadi tulang punggung kecerdasan kehidupan bangsa.
“Saya kira dipelopori oleh Prof.Dr.Ir.H. Furtasan Ali Yusuf, SE, S.Kom, MM, di Komisi X DPR RI, selalu menyertakan, mengingatkan kembali kepada kementerian betapapun perguruan tinggi swasta kita juga harus menjadi pertimbangan utama ketika kita ingin mencerdaskan kehidupan anak bangsa,” ujarnya.
Namun Angka juga memberikan peringatan, angka partisipasi kasar pendidikan perguruan tinggi pada tahun 2025 baru mencapai 32,89 persen, artinya dari setiap 100 anak muda usia kuliah hanya sekitar 33 yang mengenyam pendidikan tinggi. Dan diluar kampus BPS menyebutkan hampir 10 juta anak muda Indonesia yang berusia 15-24 tahun berada dalam kondisi non emplyment, education, or training (tidak bekerja, tidak sekolah, dan tidak dalam pelatihanan).
“Angka-angka ini bukan hanya statistik, tetapi ini menunjukkan wajah jutaan anak bangsa yang sedang menunggu pintu masa depan dibukakan, dan pintu itu sebagian besar kuncinya dipegang oleh kita yang hadir di forum ini,” pungkas Wamendiktisaintek Fauzan.(mn)
![]()

