KAJIAN TEMATIK SURAT NUH — Ayat 6
Oleh Masykur Sarmian

بسم الله الرحمن الرحيم
فَلَمْ يَزِدْهُمْ دُعَائِي إِلَّا فِرَارًا
“Maka seruanku itu tidaklah menambah (iman) mereka, melainkan mereka semakin lari (dari kebenaran).”
—QS. Nuh Ayat 6
Penjelasan Tematik
Ayat ini adalah salah satu ayat yang paling menyentuh dalam kisah Nabi Nuh.
Setelah pada ayat sebelumnya beliau menceritakan bahwa dirinya telah menyeru kaumnya siang dan malam tanpa mengenal lelah, kini beliau mengungkapkan kenyataan yang sangat menyakitkan.
فَلَمْ يَزِدْهُمْ دُعَائِي
“Namun seruanku itu…”
Beliau tidak berkata bahwa dakwahnya tidak didengar.
Beliau juga tidak berkata bahwa mereka hanya diam.
Yang beliau katakan jauh lebih menyedihkan.
إِلَّا فِرَارًا
“Malah membuat mereka semakin lari.”
Bayangkan seorang ayah yang semakin sering menasihati anaknya, tetapi anak itu justru semakin menjauh.
Bayangkan seorang dokter yang ingin menyelamatkan pasiennya, tetapi pasien itu malah melarikan diri dari rumah sakit.
Begitulah yang dirasakan Nabi Nuh.
Semakin besar kasih sayang yang beliau curahkan, semakin jauh kaumnya melangkah.
Tidak Semua Kebenaran Langsung Diterima
Ayat ini membongkar satu kenyataan hidup yang sering sulit diterima.
Kita sering berpikir bahwa jika sesuatu itu benar, maka semua orang pasti akan menerimanya, ternyata tidak.
_Kebenaran memiliki cahaya_.Tetapi cahaya itu hanya bermanfaat bagi mata yang mau membuka diri.
Bagi mata yang sengaja dipejamkan, bahkan matahari pun tidak akan terlihat.
Karena itu penolakan terhadap kebenaran tidak selalu menunjukkan lemahnya kebenaran.
Sering kali ia justru menunjukkan kerasnya hati manusia.
Mengapa Manusia Lari dari Kebenaran ?
Pertanyaan inilah yang perlu direnungkan.
Mengapa seseorang menjauh dari sesuatu yang sebenarnya akan menyelamatkannya?
Jawabannya bukan semata karena ia tidak tahu.
Sering kali ia tahu.
Tetapi ia takut terhadap konsekuensi dari kebenaran itu.
√ Menerima kebenaran berarti harus berubah.
√ Harus meninggalkan kebiasaan lama.
√ Harus mengakui kesalahan.
√ Harus meruntuhkan ego yang selama ini dibangun.
Dan semua itu tidak mudah.
Dalam psikologi modern, keadaan ini dekat dengan konsep:
cognitive dissonance, yaitu ketidaknyamanan batin ketika seseorang berhadapan dengan fakta yang bertentangan dengan keyakinan atau gaya hidupnya.
Alih-alih mengubah dirinya, sebagian orang justru memilih menjauh dari sumber yang membuatnya merasa tidak nyaman.
Bukan karena kebenaran itu salah.
Tetapi karena kebenaran menuntut perubahan.
Lari Bukan Berarti Bebas
Kata firaar (lari) dalam ayat ini sangat menarik.
√ Seseorang dapat berlari dari seorang nabi.
√ Dapat menghindari majelis ilmu.
√ Dapat menutup mushaf Al-Qur’an.
√ Dapat mematikan suara nasihat.
—Tetapi ia tidak akan pernah bisa berlari dari kenyataan.
√ Tidak akan pernah bisa berlari dari kematian.
√ Tidak akan pernah bisa berlari dari perjumpaan dengan Allah.
_Karena yang dikejar oleh kebenaran bukan tubuh manusia. Melainkan nuraninya._
Dan selama nurani masih hidup, panggilan itu akan terus terdengar, meskipun sering kali hanya dalam bentuk kegelisahan yang tidak dapat dijelaskan.
Luka Seorang Pendidik
Di balik ayat ini kita juga melihat sisi kemanusiaan seorang nabi.
Betapa berat rasanya melihat orang yang dicintai justru menjauh ketika hendak diselamatkan.
Inilah luka yang sering dirasakan oleh orang tua, guru, ulama, dan siapa pun yang tulus mendidik.
Bukan karena mereka ingin dihormati.
Tetapi karena mereka tidak tega melihat orang yang mereka cintai memilih jalan yang akan mencelakakan dirinya sendiri.
Namun Nabi Nuh mengajarkan bahwa kasih sayang sejati tidak berhenti hanya karena ditolak.
Ia tetap berusaha, meskipun hasilnya belum tampak.
Pelajaran Kehidupan
Ayat ini mengajarkan bahwa dalam hidup, niat baik tidak selalu langsung disambut dengan baik.
Ada kalanya semakin tulus kita mengingatkan, semakin besar pula penolakan yang kita hadapi.
Hal itu tidak selalu berarti cara kita salah. Kadang yang sedang bekerja bukan logika, tetapi ego manusia.
Sebab menerima nasihat sering kali lebih sulit daripada memberikan nasihat. Dibutuhkan kerendahan hati untuk mengakui bahwa diri ini perlu berubah.
Karena itu, jangan terlalu cepat putus asa ketika kebaikan yang kita lakukan belum membuahkan hasil.
Seorang guru yang sabar, orang tua yang terus mendoakan anaknya, sahabat yang tidak lelah mengingatkan, atau siapa pun yang mengajak kepada kebaikan, hendaknya belajar dari Nabi Nuh.
Tugas kita adalah terus menghadirkan cahaya. Soal siapa yang membuka jendela agar cahaya itu masuk, itulah wilayah hidayah yang menjadi hak Allah SWT.
Sebaliknya, bagi diri kita sendiri, ayat ini menjadi cermin untuk bertanya : jangan-jangan selama ini kita pun pernah “berlari” dari kebenaran.
Bukan dengan kaki, tetapi dengan alasan. Bukan dengan jarak, tetapi dengan penundaan.
Kita tahu apa yang benar, tetapi kita berkata, “Nanti.” Dan sering kali kata “nanti” itulah bentuk pelarian yang paling halus.
Saudara…
Tidak ada yang lebih menyedihkan daripada melihat seseorang menjauh dari jalan yang akan menyelamatkannya.
Itulah yang dirasakan Nabi Nuh.
Semakin beliau memanggil.
Semakin mereka berlari.
Namun beliau tidak berhenti memanggil.
Karena cinta sejati tidak diukur dari mudahnya diterima, tetapi dari kesediaannya untuk tetap bertahan.
Mungkin hari ini kita sedang berada di salah satu dari dua posisi.
Menjadi orang yang sedang mengingatkan, tetapi tidak didengar.
Atau justru menjadi orang yang sedang diingatkan, tetapi memilih menjauh.
Jika kita berada pada posisi pertama, jangan lelah.
Karena para nabi pun pernah mengalaminya.
Dan jika kita berada pada posisi kedua, berhentilah sejenak.
Jangan sampai yang kita jauhi bukan sekadar nasihat manusia, tetapi panggilan Allah yang datang melalui mereka.
Sebab tidak ada perjalanan yang lebih merugikan daripada terus berlari… menuju tempat yang pada akhirnya tetap harus kita hadapi.
Wallahu A‘lam.
Samarinda, 27 Juni 2026
![]()

