KAJIAN TEMATIK SURAT NUH — Ayat 5

Oleh Masykur Sarmian

بسم الله الرحمن الرحيم

قَالَ رَبِّ إِنِّي دَعَوْتُ قَوْمِي لَيْلًا وَنَهَارًا

“Dia (Nuh) berkata, ‘Ya Tuhanku, sesungguhnya aku telah menyeru kaumku malam dan siang.’”
—QS. Nuh Ayat 5

Penjelasan Tematik

Pada ayat-ayat sebelumnya kita mendengar suara Nabi Nuh berbicara kepada kaumnya. Beliau mengajak, mengingatkan, dan menunjukkan jalan keselamatan.

Namun pada ayat ini suasananya berubah.

Nabi Nuh tidak lagi berbicara kepada manusia.

Beliau berbicara kepada Allah.

Kita seolah sedang menyaksikan seorang nabi yang datang menghadap Rabb-nya, lalu membuka isi hatinya setelah perjalanan dakwah yang sangat panjang.

Kalimat yang beliau ucapkan tampak sederhana.

رَبِّ إِنِّي دَعَوْتُ قَوْمِي

“Ya Tuhanku, sesungguhnya aku telah menyeru kaumku.”

Tetapi di balik kalimat itu tersimpan berabad-abad perjuangan.

Tersimpan ribuan hari yang dilewati dengan harapan.

Tersimpan luka, penolakan, kesedihan, dan kesabaran yang tidak dapat dihitung oleh angka.

Karena yang sedang berbicara bukan seorang yang baru berdakwah beberapa tahun.

Yang sedang berbicara adalah seorang nabi yang menghabiskan hampir satu milenium hidupnya untuk menyelamatkan manusia.

Bahasa yang Lahir dari Tanggung Jawab

Perhatikan bahwa Nabi Nuh tidak berkata :
√ “Ya Allah, mereka tidak mau mendengar.”
√ Beliau juga tidak berkata :
“Ya Allah, mereka sangat keras kepala.”
√ Beliau tidak memulai dengan menyalahkan.

Yang pertama beliau sampaikan justru apa yang telah beliau lakukan.

إِنِّي دَعَوْتُ قَوْمِي

“Aku telah menyeru kaumku.”

Inilah akhlak para nabi.

Mereka lebih sibuk mengevaluasi tugas dirinya daripada menghitung kesalahan orang lain.

Mereka lebih fokus pada amanah yang harus ditunaikan daripada kegagalan yang dilakukan manusia.

Karena orang besar selalu bertanya :

“Apakah saya sudah melakukan bagian saya ?”

Bukan terus-menerus bertanya :

“Mengapa mereka tidak berubah ?”

Siang dan Malam

Kemudian Nabi Nuh berkata :

لَيْلًا وَنَهَارًا

“Malam dan siang.”

Ungkapan ini bukan sekadar menunjukkan waktu.

√ Ia menunjukkan totalitas.
√ Ia menunjukkan kesinambungan.
√ Ia menunjukkan keteguhan yang hampir tidak bisa dibayangkan oleh manusia biasa.

Malam adalah waktu ketika kebanyakan orang beristirahat.

Siang adalah waktu ketika manusia sibuk dengan urusannya.

Namun Nabi Nuh hadir pada keduanya.

Beliau tidak berdakwah ketika semangat saja.

Tidak hanya ketika suasana mendukung.

Tidak hanya ketika orang mau mendengar.

Beliau tetap mengajak dalam segala keadaan.

Karena beliau memahami bahwa kebenaran tidak boleh bergantung pada suasana hati.

Kesabaran yang Melampaui Perasaan

Sebagian manusia hanya mampu berbuat baik ketika sedang bersemangat.

√ Ketika dipuji, ia bekerja.
√ Ketika dihargai, ia berjuang.
√ Ketika didukung, ia bertahan.

Namun ketika apresiasi hilang, semangatnya ikut hilang.

Nabi Nuh menunjukkan jenis kesabaran yang berbeda :

√ Kesabaran yang tidak bergantung pada respons manusia.
√ Kesabaran yang lahir dari keyakinan kepada Allah.

Dalam psikologi modern, keadaan ini dekat dengan konsep

intrinsic motivation, yaitu dorongan yang berasal dari makna dan keyakinan yang ada di dalam diri, bukan dari penghargaan eksternal.

Orang yang hidup dengan motivasi semacam ini tidak mudah berhenti hanya karena tidak mendapat tepuk tangan.

Karena sumber energinya bukan manusia. Tetapi nilai yang ia yakini.

Mengapa Banyak Orang Menyerah Terlalu Cepat ?

Salah satu penyakit zaman modern adalah budaya hasil instan.

√ Manusia ingin berhasil dengan cepat.
√ Ingin dipahami dengan cepat.
√ Ingin melihat perubahan dengan cepat.

Ketika hasil tidak segera terlihat, semangat mulai memudar.

_Padahal hampir semua hal besar dalam kehidupan membutuhkan waktu._

√ Pohon besar tidak tumbuh dalam sehari.
√ Ilmu tidak lahir dalam semalam.
√ Kepribadian tidak terbentuk dalam sepekan.

Begitu pula perubahan manusia.

Hati memiliki waktunya sendiri. Kesadaran memiliki prosesnya sendiri.

Dan Nabi Nuh mengajarkan bahwa tugas kita bukan memaksa waktu.

Tetapi tetap menanam meskipun belum melihat buahnya.

Cinta yang Tidak Mudah Putus Asa

Sesungguhnya yang membuat ayat ini begitu indah adalah karena kita mengetahui apa yang terjadi setelahnya.

Kaum Nabi Nuh tidak segera beriman.

Sebagian besar justru menolak, mengejek, menghina, membully dan membangkang (M5).

Namun meskipun demikian, Nabi Nuh tetap berkata :

“Aku telah menyeru mereka malam dan siang.”

_Inilah bentuk cinta yang langka. Cinta yang tidak bergantung pada balasan. Cinta yang tidak berhenti karena penolakan. Cinta yang tetap memberi meskipun tidak dihargai_.

Dan bukankah itulah salah satu sifat para nabi ?

Mereka tidak mencintai manusia karena manusia layak dicintai.

Mereka mencintai manusia karena Allah memerintahkan mereka untuk peduli.

Pelajaran Kehidupan

Ayat ini mengajarkan bahwa nilai seseorang tidak selalu diukur dari hasil yang berhasil ia capai, tetapi sering kali diukur dari kesetiaannya menjalankan amanah.

Kita hidup di zaman yang sangat menghargai angka. Berapa banyak pengikut, berapa banyak keuntungan, berapa banyak pencapaian, berapa banyak orang yang setuju.

Akibatnya manusia sering merasa gagal hanya karena hasil yang terlihat tidak sesuai harapan.

Padahal Nabi Nuh mengajarkan perspektif yang berbeda.

Beliau tidak datang kepada Allah dengan membawa angka keberhasilan.

Beliau datang dengan membawa kesungguhan usaha.

Karena di sisi Allah, yang pertama kali dinilai bukan hasil yang berada di luar kemampuan kita, melainkan ikhtiar yang berada dalam kemampuan kita.

Kadang seorang ayah telah berusaha mendidik anaknya dengan baik. Kadang seorang guru telah berusaha mengajar dengan tulus. Kadang seorang da’i telah berusaha menyampaikan kebenaran dengan sabar. Tidak semua usaha langsung menghasilkan perubahan yang diinginkan.

Namun itu tidak berarti usaha tersebut sia-sia.

Sebab Allah melihat apa yang tidak selalu terlihat oleh manusia.

Allah melihat kesabaran yang tersembunyi.

Allah melihat air mata yang tidak diketahui orang lain.

Allah melihat ketulusan yang tidak pernah dipuji.

Dan sering kali nilai terbesar sebuah perjuangan justru terletak pada keteguhan untuk tetap melakukannya ketika hasil belum terlihat.

Saudara…

Ada kalanya dalam hidup kita merasa lelah.

√ Lelah mengingatkan.
√ Lelah memperbaiki.
√ Lelah berbuat baik.
√ Lelah berharap.
√ Lelah menunggu perubahan yang tak kunjung datang.

Pada saat-saat seperti itulah ayat ini hadir seperti pelukan bagi jiwa yang letih.

Bayangkan Nabi Nuh.

Sembilan ratus lima puluh tahun berdakwah.

Bukan sembilan hari.
Bukan sembilan bulan.
Bukan sembilan tahun.
Tetapi sembilan ratus lima puluh tahun.

Dan ketika beliau berbicara kepada Allah, yang beliau ceritakan bukan keberhasilannya.
Tapi kesetiaannya.

“Ya Tuhanku, aku telah menyeru mereka malam dan siang.”

Seolah beliau ingin berkata :

“Aku telah melakukan apa yang Engkau perintahkan kepadaku.”

Mungkin itulah makna terdalam dari istiqamah.

Bukan selalu melihat hasil, —tetapi tetap berjalan karena yakin bahwa jalan itu benar.

Karena pada akhirnya, bukan tepuk tangan manusia yang akan kita bawa menghadap Allah.

Melainkan kesungguhan kita dalam menjalankan amanah yang telah Dia titipkan.

Wallahu A‘lam.
Samarinda, 26 Juni 2026

Loading