SAMBOJA — Di tengah masifnya pembangunan Ibu Kota Nusantara (IKN), ancaman terhadap kelestarian ekosistem pesisir penopangnya kian nyata. Menanggapi hal tersebut, aksi nyata datang dari generasi muda. Puluhan pelajar bersama mitra lingkungan bergerak langsung melakukan aksi bersih-bersih dan restorasi di Kawasan Pantai Tanah Merah, Samboja.
Langkah ini bukan sekadar kegiatan pelesiran, melainkan sebuah gerakan berbasis edukasi lapangan untuk menanamkan kepedulian lingkungan sejak dini. Ekosistem pesisir Samboja memiliki peran krusial sebagai benteng alami sekaligus penyerap karbon bagi wilayah IKN dan sekitarnya.
Membaca Gejala Alam Melalui ‘Sekolah Lapangan’
Berbeda dengan edukasi konvensional di dalam kelas, para pelajar diajak langsung berinteraksi dengan ekosistem pantai. Mereka mempelajari indikator kerusakan lingkungan secara kasat mata, mulai dari akumulasi sampah plastik yang mengancam biota laut hingga abrasi pantai.

Deputi Bidang Lingkungan Hidup dan Sumber Daya Alam Otoritas Ibu Kota Nusantara (OIKN) menegaskan bahwa keterlibatan aktif generasi muda adalah kunci keberlanjutan IKN sebagai Green City.
”IKN dibangun dengan konsep yang selaras dengan alam. Namun, transformasi ini tidak akan terwujud tanpa adanya kesadaran kolektif dari masyarakat lokal, terutama para pelajar yang akan menjadi pewaris kawasan ini,” ujarnya.
Tiga Fokus Utama Aksi Pesisir Tanah Merah

Dalam aksi kolaboratif ini, para peserta membagi fokus gerakan ke dalam tiga instrumen penting:
Edukasi Polusi Plastik: Mengidentifikasi dan membersihkan sampah mikro dan makro-plastik yang mencemari garis pantai.
Identifikasi Vegetasi Pantai: Mempelajari pentingnya tanaman pesisir (seperti mangrove dan cemara laut) dalam menahan laju abrasi.
Komitmen Jangka Panjang yaitu membentuk jejaring “Mitra Jaga Pantai” yang berfungsi sebagai pengawas dan penggerak komunitas lokal secara mandiri.(rls/mn)
![]()

