BALIKPAPAN — Yayasan Perguruan Ibnu Khaldun Balikpapan resmi melantik kembali Arief Rohman Arofah, S.Sos., M.A.Hum., sebagai Ketua Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) Balikpapan untuk masa jabatan periode kedua (2026–2030). Prosesi pelantikan dipimpin langsung oleh Ketua Yayasan Perguruan Ibnu Khaldun, Yuyun Wahyuni, pada Sabtu (6/6/2026).

Pelantikan Ketua STAI Balikpapan Arief Rohman Arofah, S.Sos., M.A.Hum oleh Ketua YAPIK Yuyun Wahyuni, disaksikan Pembina YAPIK Munanto.

Sebelumnya, penetapan Arief Rohman didasarkan pada hasil keputusan rapat yayasan yang digelar pada Senin (18/5/2026) di Kampus Ibnu Khaldun, Jalan Semoi, Margasari, Balikpapan Barat. Surat keputusan (SK) pengangkatan tersebut dibacakan oleh Koordinator Lembaga Yayasan, Yudi Saelan.

Dalam amanatnya, Ketua Yayasan Yuyun Wahyuni menyampaikan harapan besar agar di periode kedua ini, STAI Balikpapan dapat bergerak lebih cepat dalam melakukan pengembangan institusi serta menyamakan derap langkah bersama civitas akademika.

“Yayasan mempercayakan amanah ini kembali karena Pak Arief telah memahami kondisi STAI selama empat tahun terakhir. Kami sangat berharap di periode kedua ini ada gerakan yang lebih cepat dalam memajukan kampus,” ujar Yuyun.

Yuyun menambahkan, sebagai salah satu perguruan tinggi Islam di Kota Beriman, STAI Balikpapan memiliki peran strategis untuk mencetak sumber daya manusia (SDM) unggul. Kendati demikian, tantangan ke depan kian berat seiring dinamisnya regulasi pendidikan tinggi, kebijakan baru, serta kemajuan teknologi.

“STAI Balikpapan sekarang tidak lagi menjadi satu-satunya lembaga pendidikan agama Islam. Kita harus bersaing ketat dengan perguruan tinggi negeri maupun swasta di Kalimantan Timur yang juga membuka program studi sejenis. Hal ini menuntut penyesuaian yang cepat dan peningkatan kompetensi SDM,” tegasnya.

Strategi ‘Satu Frekuensi’ dan Pembongkaran Sekat Birokrasi
Senada dengan itu, Pembina Yayasan Ibnu Khaldun, Munanto, menekankan bahwa sebuah sekolah tinggi tidak hanya dituntut melahirkan lulusan yang cerdas secara intelektual, tetapi juga harus kokoh secara spiritual dan adaptif terhadap zaman. Untuk menjawab tantangan tersebut, ia menitipkan satu pesan strategis.

“Kunci utama yang tidak boleh ditawar adalah sinergi dan satu frekuensi antara pengelola kampus dan pihak yayasan,” cetus Munanto.

Ia menganalogikan hubungan antara yayasan dan kampus seperti dua sayap dari satu burung yang sama, yang tidak akan bisa terbang jika bergerak ke arah yang berlawanan. Munanto meminta agar segala sekat birokrasi dihilangkan demi mewujudkan komunikasi dua arah yang transparan dan berlandaskan rasa saling percaya.

“Setiap kebijakan akademik, infrastruktur, hingga program kemahasiswaan harus terintegrasi dengan visi besar yayasan. Kami di jajaran Pembina dan Pengurus berkomitmen penuh menjadi support system utama guna mendukung peningkatan akreditasi, mutu dosen, serta kesejahteraan civitas akademika,” tambah Munanto.

Sementara itu, Ketua STAI Balikpapan terpilih, Arief Rohman Arofah, menyatakan bahwa penataan tata kelola dan adaptasi teknologi telah berjalan secara bertahap sejak masa kepemimpinan transisinya pada 2022 lalu. Evaluasi berkala melalui Audit Mutu Internal (AMI) juga terus dilakukan sebagai bentuk akuntabilitas.

Arief Rohman Arofah, S.Sos., M.A.Hum saat menyampaikan sambutan.

Namun, ia menyadari tantangan di periode kedua ini akan jauh lebih kompetitif. Arief pun menyerukan pentingnya membuang ego sektoral demi kemajuan bersama.

“Seberat apa pun tantangan di masa depan, tidak akan bisa dilalui tanpa adanya kebersamaan dan komitmen kuat dari seluruh perangkat struktur institusi. Saya tidak bisa bergerak sendiri, sinergitas antara seluruh elemen adalah kunci utama,” pungkas Arief.

Di bawah kepemimpinannya, STAI Balikpapan berkomitmen melanjutkan program perluasan cakupan akademik yang telah dirintis sebelumnya, seperti penguatan program studi rumpun umum dan syariah, di antaranya prodi Ekonomi dan Perbankan Syariah serta Hukum, guna memperluas kontribusi nyata kampus bagi masyarakat.(mn)

Loading