SAMARINDA — Di ruang yang penuh dengan binar mata dan haru, kita sedang menyaksikan sebuah garis pembatas waktu. Enam tahun lalu, mereka datang ke gerbang SD Muhammadiyah 2 Samarinda dengan langkah kecil yang ragu, jemari yang menggenggam erat tangan Ayah dan Bundanya.
Hari ini, Sabtu, 7 Juni 2026, anak-anak itu berdiri dengan punggung yang lebih tegap, siap melangkah ke fase berikutnya. Namun, wahai Ayah dan Bunda, sadarkah kita betapa singkatnya waktu itu berjalan?

Narasi itu disampaikan oleh Ustadz Machnun Uzni, Wakil Sekretaris PW Muhammadiyah Kaltim saat menyampaikan tauziah saat pelepasan siswa kelas VI SD Muhammadiyah 2 Kota Samarinda, di Jalan Siti Aisyah, Teluk Lerong Ilir, Kecamatan Samarinda Ulu, Kota Samarinda, Sabtu (7/6/2026).
Anak adalah amanah, lanjut Machnun penuh penghayatan, sebuah titipan suci yang polanya diukir oleh ketulusan kita. “Kita sering kali merasa hari-hari merawat mereka begitu panjang dan melelahkan. Namun demi Allah, kebersamaan dengan anak-anak kita itu sangatlah singkat,” ucapnya.
Nabi Ibrahim dalam doanya mendambakan kehadiran seorang putra yang saleh sebagaimana yang tertuang di dalam Q.S. Ash-Shaffaat [37] ayat 100: Rabbi hab lî min ash-shâlihîn (Ya Tuhanku, anugerahkanlah kepadaku (seorang anak) yang termasuk orang-orang yang saleh). Nabi Zakaria ketika bermunajat kepada Allah mendambakan kehadiran putra yang baik, dengan menggunakan ungkapan bahasa dzurriyyatan thayyibatan sebagaimana yang tertuang di Q.S. Ali Imran [3] ayat 38: Rabbanâ hab lanâ min ladunka dzurriyyatan thayyibatan (Ya Tuhanku, berilah aku dari sisi Engkau seorang anak yang baik). Sedangkan dalam perspektif Q.S. al-Furqan [25] ayat 74 ungkapan bahasa yang digunakan untuk menyebutkan keturunan yang baik adalah Qurrata a`yun.
“Ayat al-Quran yang menyatakan bahwa manusia diciptakan dalam bentuk yang sempurna; ahsani taqwîm harus dipahami dengan pemahaman yang komprehensif. Selama ini ayat ke 5 dari surat at-Tin tentang kepenciptaan manusia hanya dipahami dengan paradigma lahiriyah, kesempurnaan bentuk tubuh dan fungsi anggota badan saja, padahal secara internal ruhiyyah manusia juga telah diciptakan dalam tracked yang benar dengan bekal tauhid bawaan yang benar. Manusia tidak hanya diberi 2 organ pembeda dari makhluq lain; akal dan hati begitu saja, tetapi dua-duanya juga telah terisi dengan orientasi tauhid yang benar, dan inilah kesempurnaan penciptaan manusia yang sebenarnya yang pada perjalanan hidup manusia keberlangsungan kesempurnaan itu ditentukan oleh iman dan amal sholeh. Narasi yang sama juga dinyatakan di dalam Q.S. al-A`raf [7] aya 172: Dan ingatlah, ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): Bukankah Aku ini Tuhanmu?. Mereka menjawab: Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi. (Kami melakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: sesungguhnya kami (bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan),” paparnya.
Ustadz Machnun Uzni menyemangati, Jangan lelah dengan sikapnya yang terkadang menguji sabar. Jangan mudah emosi dengan segala tingkah lucunya yang menguras energi. Jangan pernah bosan menemani rutinitas dan rengekan kecilnya. Karena waktu laksana angin yang berembus cepat.
“Tak lama lagi, saat mereka beranjak dewasa, mereka tidak akan mengganggumu lagi. Mereka tidak lagi merengek meminta ditemani tidur atau sekadar bermanja di pangkuan. Mereka akan memiliki dunianya sendiri, kesibukannya sendiri, dan perlahan, giliran kita yang akan ditinggalkannya sepi,” lanjutnya penuh keharuan.
Setiap anak lahir dalam kesempurnaan yang utuh—ahsani taqwîm. Para ulama mengingatkan kita bahwa kesempurnaan ini bukan sekadar fisik yang rupawan atau fungsi tubuh yang lengkap. Jauh di dalam ruji jiwa mereka, Allah telah menanamkan modal tauhid yang murni. Sebagaimana kesaksian ruh yang abadi dalam Al-Quran: “Bukankah Aku ini Tuhanmu?” Mereka menjawab: “Betul, kami menjadi saksi.”
“Tugas kita sebagai orang tua adalah menjaga nyala api fitrah itu agar tidak padam oleh badai zaman. Enam tahun menitipkan mereka di SD Muhammadiyah 2 Samarinda bukan sekadar urusan memindahkan tugas mengajar. Itu adalah ikhtiar sadar Ayah dan Bunda untuk menumbuhkan mereka di lingkungan yang positif,” terangnya.
Merawat Generasi Z di tahun 2026 ini bukanlah perkara mudah. Mereka adalah anak-anak yang tidak hanya dibesarkan oleh pelukan hangat orang tua dan celupan ilmu dari para guru di sekolah. Mereka juga dibesarkan oleh algoritma, gawai, dan media sosial. Ada dunia nyata lain yang diam-diam memasuki kamar mereka, membentuk karakter mereka setiap hari.
Di sinilah pentingnya membangun resiliensi—daya lenting dan ketangguhan jiwa. Menurut para pakar, anak-anak hari ini tidak cukup hanya dibimbing untuk sukses secara akademik, tetapi mereka harus diberi ruang untuk bahagia agar mampu mengelola diri dan bangkit saat terjatuh.
“Kita telah melihat buktinya. Di sekolah ini, anak-anak kita tidak hanya dididik menjadi juara yang merebut prestasi di tingkat lokal maupun nasional. Lebih dari itu, mereka ditempa dalam ekosistem yang mengutamakan adab, membentuk sopan santun, dan mengukir karakter utama dalam keseharian,” paparnya.

Keluarga adalah mikrosistem—fondasi paling utama dan pertama. Sekuat apa pun pengaruh luar mencoba merusak, jika benteng di dalam rumah sekokoh batu karang, anak-anak kita akan tetap tegak berdiri.
Wahai Ayah dan Bunda, suatu saat nanti, kita semua akan kembali. Kita hanya akan tinggal nama dan kenangan bagi orang-orang yang hidup setelah kita. Maka, selagi mereka masih berada dalam jangkauan dekapan kita, ukirlah kenangan yang indah di hati mereka. Bukan dengan menuntut kesempurnaan, melainkan dengan mempersembahkan ketulusan, kebaikan, dan cinta yang tak bersyarat.
Pelepasan kelas VI ini bukanlah akhir. Ini adalah estafet perjuangan. Doa-doa agung para nabi harus terus kita gaungkan. Mintalah anak yang saleh seperti dambaan Nabi Ibrahim (Rabbi hab lî min ash-shâlihîn). Bisikkan munajat memohon keturunan yang baik seperti Nabi Zakaria (dzurriyyatan thayyibatan).
Teruslah menjaga dan merawat mereka agar menjadi generasi Qurrota A’yun—penyejuk mata. Sebab, ketika raga kita sudah terbujur kaku di liang kubur, dan dunia tidak lagi mengingat nama kita, merekalah yang akan berdiri tegak di dunia menjadi samudera istighfar yang tak putus-putus mengalirkan ampunan untuk kita.
“Selamat jalan anak-anakku, bawalah ilmu dan adabmu, jagalah fitrah susimu. Dan untuk Ayah Bunda, peluklah mereka hari ini dengan rasa syukur yang paling dalam. Kebersamaan ini singkat, namun jejak kesalehan yang kita tanam akan abadi hingga ke surga,” pungkasnya.(rls/mn)
![]()

