SAMARINDA – Gemuruh tausiyah menyejukkan memenuhi ruang utama Masjid Islamic Center Samarinda, Kalimantan Timur, pada Sabtu (25/4/2026). Di hadapan ribuan jemaah yang memadati tabligh akbar, Menteri Agama RI, KH Nasaruddin Umar, membedah makna mendalam di balik sosok “Imam” yang selama ini sering kali hanya dianggap sebagai pemimpin salat di barisan terdepan.

Bagi Nasaruddin, imam adalah representasi kepemimpinan yang berakar pada dua pilar utama: cinta kasih dan tanggung jawab moral.

Filosofi ‘Ibu’ dalam Kepemimpinan
Dalam narasinya yang memikat, Menag menjelaskan bahwa istilah “Imam” memiliki keterkaitan linguistik dengan kata “umi” yang berarti ibu. Bukan tanpa alasan, ibu adalah simbol cinta paling tulus dan tanpa syarat di dunia.

“Pemimpin sejati itu seperti ibu, memiliki cinta tanpa syarat kepada yang dipimpinnya,” ujar Nasaruddin. Ia menekankan bahwa dari akar makna inilah lahir konsep kepemimpinan yang tidak hanya bersandar pada otoritas dan kekuasaan, tetapi juga penuh empati.

Nasaruddin mengajak jamaah melihat salat berjamaah sebagai sebuah laboratorium sosial. Di dalam saf-saf salat, terdapat hubungan antara imam sebagai pemimpin dan makmum sebagai pengikut yang berjalan dalam keseimbangan yang presisi.

Islam, menurutnya, tidak mengenal kepemimpinan yang tertutup dari kritik. Dalam salat, makmum wajib mengingatkan imam jika terjadi kesalahan, namun dilakukan dengan cara yang sangat santun.

“Ini menunjukkan kepemimpinan dalam Islam terbuka terhadap koreksi. Bahkan perempuan juga memiliki hak untuk mengingatkan. Kalau konsep ini dijalankan dalam bernegara, tidak akan ada pemimpin otoriter dan tidak ada rakyat yang kasar,” jelasnya disambut anggukan jamaah.

Suasana dalam Tabligh Akbar di Masjid Islamic Center, Samarinda, Kalimantan Timur, Sabtu (25/4/2026). (Foto: Jalia/jurnalborneo)

Untuk memperkuat argumennya, tokoh asal Sulawesi Selatan ini menceritakan kembali betapa responsifnya kepemimpinan Nabi Muhammad SAW. Nabi pernah mempercepat salatnya hanya karena mendengar tangisan bayi agar sang ibu tidak cemas, dan pernah memanjangkan sujudnya demi menjaga keselamatan cucunya yang sedang bermain di atas punggung beliau.

“Itu bukti bahwa pemimpin harus peka. Tidak hanya menjalankan aturan secara kaku, tapi memahami kondisi nyata yang dipimpinnya,” tambahnya.

Di akhir tausiyahnya, Nasaruddin Umar menegaskan bahwa peran imam di masjid adalah strategi untuk membangun kehidupan sosial yang lebih luas. Masyarakat yang ideal, atau yang disebut sebagai Ummah, hanya bisa terwujud jika ada perpaduan antara pemimpin yang berwibawa dan makmum yang santun.

“Tidak mungkin kita bisa menjadi ummah kalau tidak ada imam yang berwibawa, tanpa ada makmum yang santun, tanpa aturan, tanpa visi ke depan, dan tanpa rasa cinta yang sangat dalam,” pungkas Nasaruddin.(*/mn)

Loading