SAMARINDA – Jalan Sentosa tidak seperti biasanya. Rabu (18/3/2026) sore, di depan gerbang Pura Jagat Hita Karana, aroma hio menyeruak di antara kerumunan ratusan warga yang menyemut. Di tengah suasana damai kota Samarinda, sesosok raksasa berwajah gahar dengan mata membelalak—yang dikenal sebagai ogoh-ogoh—berdiri tegak, siap membelah jalanan sebagai simbol pembersihan energi negatif.
Namun, di balik rupa ogoh-ogoh yang menyeramkan, suasana yang tercipta justru sebaliknya, hangat dan penuh persaudaraan. Sore itu, Jalan Sentosa bukan hanya milik umat Hindu, melainkan ruang perjumpaan bagi warga dari berbagai latar belakang yang hadir dengan tertib untuk menyaksikan tradisi tahunan menyambut Nyepi 1447 Saka.
Pesan ‘Basu Dewa Kutumbaka’
Tahun ini, perayaan mengusung tema yang mendalam, Basu Dewa Kutumbaka. Sebuah pesan kuno yang bermakna bahwa seluruh umat manusia adalah satu keluarga besar. Nilai ini bukan sekadar slogan, melainkan nyata terasa saat warga lintas iman berdiri bahu-membahu di pinggir jalan, mengabadikan momen arak-arakan dengan ponsel mereka.
Ketua Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Kota Samarinda, I Putu Suberata menegaskan bahwa esensi dari perayaan ini adalah kemanusiaan yang inklusif.
“Tema ini mengingatkan kita bahwa tidak ada perbedaan dalam kemanusiaan, semua adalah satu keluarga,” ujarnya dengan nada mantap di sela kegiatan. Menurut Putu, keterbukaan pawai ini adalah bukti bahwa ritual keagamaan bisa menjadi ruang sosial yang mempererat ikatan warga Samarinda.
Pawai ogoh-ogoh merupakan bagian inti dari ritual Pengerupukan. Secara filosofis, boneka raksasa tersebut merepresentasikan Bhuta Kala atau energi-energi negatif yang ada di dalam diri manusia maupun alam semesta. Sekitar 600 umat Hindu yang terlibat sore itu mengarak sang raksasa sebelum akhirnya dimusnahkan.
“Ogoh-ogoh itu simbol energi negatif yang harus kita kendalikan dan kembalikan ke alam,” jelas I Putu.
Pemusnahan tersebut menjadi penanda berakhirnya segala energi buruk, sekaligus persiapan batin sebelum memasuki masa Catur Brata Penyepian selama 24 jam penuh.
MENUJU KEHENINGAN TOTAL
Setelah hiruk-pikuk arak-arakan mereda dan ogoh-ogoh ditumbangkan, umat Hindu di Samarinda akan memasuki fase kontemplasi. Selama sehari semalam, mereka akan berdiam diri, mematikan api, dan menghentikan aktivitas sebagai bentuk refleksi diri yang mendalam.
Bagi Kota Samarinda, pawai di Jalan Sentosa ini menjadi pengingat bahwa di tengah keberagaman, harmoni adalah pencapaian tertinggi. Melalui derap langkah para pengarak ogoh-ogoh, tersirat doa agar toleransi di Kota Tepian tetap terjaga kuat, menjadikan perbedaan bukan sebagai jarak, melainkan warna yang memperindah keluarga besar bernama Indonesia.(*/mn)
![]()

