KUTAI TIMUR – Dinas Pendidikan (Disdik) Kabupaten Kutai Timur (Kutim) tengah menyiapkan peluncuran program Kandidat Sekolah Rujukan Google (KSRG) di 35 sekolah, sebagai bagian dari upaya mempercepat transformasi digital pembelajaran di daerah. Kepala Disdik Kutim, Mulyono, menyebut program ini menyasar sekolah jenjang kelas 3 SD ke atas, sementara jenjang PAUD dan sekolah dasar awal disentuh lewat program pembelajaran digital Enuma.
<“KSRG itu luar biasa. Bagaimana membuat pembelajaran secara digital yang menyenangkan,” kata Mulyono. Ia menyebut sejumlah sekolah di Kutim, khususnya di wilayah yang sebelumnya blank spot, sudah terpasang layanan internet satelit Starlink untuk mendukung konektivitas pembelajaran.
Langkah Kutim ini sejalan dengan arah kebijakan digitalisasi pendidikan nasional. Presiden Prabowo Subianto pada Oktober 2025 mengungkap pemerintah pusat tengah menyalurkan layar pintar atau Interactive Flat Panel (IFP) ke sekolah-sekolah di seluruh Indonesia — telah menjangkau sekitar 50.000 sekolah dengan target 288.000 unit tahun ini — sekaligus mencari teknologi internet yang lebih murah dari Starlink untuk daerah yang belum terjangkau serat optik. Starlink sendiri, menurut data per Oktober 2025, dibanderol mulai Rp479 ribu per bulan untuk paket residensial dengan biaya perangkat awal sekitar Rp7,8 juta, dan selama ini menjadi solusi utama konektivitas di wilayah 3T yang tidak ekonomis dijangkau serat optik.
Mulyono menegaskan digitalisasi tidak bisa dihindari karena keterikatan anak-anak dengan gawai saat ini.
“Hari ini tidak mungkin anak dipisahkan dengan gadget. Kita harus ngalah. Pelajaran yang harus masuk ke dalam gadget,” katanya. Untuk mengantisipasi dampak negatif, ia menyebut sekolah memperkuat pengawasan serta edukasi keagamaan, termasuk program tambahan pembelajaran Al-Qur’an yang melibatkan 100 guru mengaji dari Umi Foundation Surabaya dan Umi Darussalam di 39 sekolah negeri.
Rencana awal tahun ini, Disdik akan membawa sejumlah guru Kutim untuk studi banding ke SMP Negeri 1 Muara Kaman, Tenggarong, yang telah menjadi sekolah rujukan nasional.
“Kan sudah di aplikasi ilmu semua. Tinggal bagaimana penerapannya supaya enggak masih mengawang-awang,” ujar Mulyono. (Adv-kominfo/Q)
![]()

