Catatan: Usamah Bima Shafa
UDARA pagi di Bandar Udara Sultan Aji Muhammad Sulaiman Sepinggan, Balikpapan, Selasa (1/9/2026), terasa hangat ketika langkah kaki seorang ulama karismatik asal Surakarta, Jawa Tengah, menapak keluar terminal kedatangan. Dialah Al Habib Abdul Qodir bin Yahya Al Habsy, ulama muda yang juga keponakan langsung dari pelantun sholawat masyhur, Al Habib Syech bin Abdul Qadir Assegaf.

Kedatangan Habib Qodir—sapaan akrab beliau—hari itu disambut langsung oleh Ustadz Choliqul Anwar bersama rekan-rekan penjemput setelah menempuh penerbangan dari Yogyakarta International Airport. Sebagai figur yang dikenal memiliki kedalaman ilmu berkat tempaan pendidikannya di Pondok Pesantren Sunniyah Salafiyah, Pasuruan, Jawa Timur, kehadiran Habib Qodir di Kalimantan Timur langsung menyedot antusiasme umat melalui rangkaian kegiatan dakwah dan peringatan maulid.

Menghidupkan Cinta kepada Rasulullah SAW
Rangkaian safari dakwah Habib Qodir di Samarinda dan sekitarnya mengalir lancar, meninggalkan jejak kesejukan di hati para jamaah. Salah satu momen penuh hikmah tersaji tatkala beliau menyampaikan tausiah di hadapan warga Desa Ukung Jembayan, Kecamatan Loa Kulu, Kabupaten Kutai Kartanegara. Di tengah kehangatan majelis, Habib Qodir mengingatkan esensi kecintaan sejati kepada Baginda Nabi Muhammad SAW.
“Majelis Maulid Nabi ini adalah wasilah untuk mengenal Nabi Muhammad saw. lebih dekat. Jika kita menanamkan rasa cinta kepada Rasulullah, kita akan dijauhkan dari siksa api neraka,” tutur Habib Qodir di hadapan ratusan jamaah, Rabu (2/9/2026).
Ia bertutur penuh penghayatan, menggambarkan betapa alam semesta tunduk dan mencintai Rasulullah—bahkan awan pun senantiasa menaungi ke mana pun beliau melangkah. Habib Qodir mengajak umat untuk senantiasa mawas diri, menjadi pribadi yang kehadirannya mampu menghadirkan senyum keridaan dari Nabi di yaumil akhir kelak.
Menembus Kemarau Panjang Lewat Tobat dan Silaturahmi
Ada hal unik dalam lawatan kali ini. Setibanya di Samarinda, kota tersebut tengah diuji oleh musim kemarau panjang yang sudah berlangsung lebih dari dua bulan tanpa tetesan air hujan. Menanggapi fenomena alam tersebut, Habib Qodir membagikan pandangan spiritual yang mendalam.
Beliau mengingatkan bahwa Allah SWT tidak akan menurunkan rahmat-Nya di suatu wilayah apabila masyarakatnya merasa nyaman dan damai dalam kubangan dosa. Sebagai solusi langit, beliau mengajak jamaah untuk berintrospeksi, memperbanyak tobat, serta merekatkan kembali hubungan vertikal kepada Sang Pencipta. Tak hanya itu, perbaikan hubungan horizontal antarsesama manusia melalui penjagaan tali silaturahmi dan persatuan menjadi kunci utama pembuka pintu rahmat.
Menyelami Kepribadian Rasul dan Konsep Pendidikan Anak “4M”
Dalam kesempatan bertukar pandangan, Habib Qodir sempat merenungkan keunikan dalam mengenal figur mulia Nabi Muhammad SAW. Jika kedekatan dengan sesama manusia sering kali menyingkap kekurangan dan cela, sebaliknya, semakin dalam seseorang mengenal dan mempelajari sirah Rasulullah, maka semakin membuncah pula rasa cinta, kagum, dan rindu di dalam dada.


Langkahnya kemudian berlanjut ketika Habib Qodir mendampingi kegiatan keagamaan di kawasan Jalan P. Suryanata, Gang H. Rahim Kelurahan Air Putih, Samarinda Ulu —wilayah yang akrab disapa sebagai Kampung Madura di Samarinda, Minggu (6/9/2026). Di hadapan para orang tua, beliau memberikan formula pengasuhan anak yang praktis namun sarat makna, yang dirangkum dalam konsep “4M”:
– Mondok: Memasukkan anak ke pondok pesantren.
– Madrasah: Menyekolahkan anak di lembaga pendidikan madrasah.
– Mengaji: Memastikan anak senantiasa akrab dengan aktivitas belajar membaca Al-Qur’an.
– Majelis: Membawa anak untuk gemar menghadiri majelis-majelis ilmu.
“Untuk membentuk masa depan anak dengan akhlak yang baik, orang tua harus memberikan minimal satu dari konsep 4M tersebut,” pesan Habib Qodir.
Ia menyadari sepenuhnya bahwa orang tua memiliki keterbatasan waktu dan tidak mungkin mengawasi buah hati selama 24 jam penuh. Oleh karena itu, membentengi mereka dengan fondasi agama yang kokoh melalui pendidikan pesantren, madrasah, mengaji, dan majelis adalah warisan terbaik yang bisa diberikan demi keselamatan dunia dan akhirat.(*)
![]()

