TADABBUR SURAT MUHAMMAD (47) —Ayat 8–9

Oleh Masykur Sarmian

وَالَّذِينَ كَفَرُوا فَتَعْسًا لَهُمْ وَأَضَلَّ أَعْمَالَهُمْ ۝ ذَٰلِكَ بِأَنَّهُمْ كَرِهُوا مَا أَنْزَلَ اللَّهُ فَأَحْبَطَ أَعْمَالَهُمْ

“Dan orang-orang yang kafir, maka celakalah mereka dan Allah menghapus amal-amal mereka. Yang demikian itu karena mereka membenci apa yang diturunkan Allah, maka Allah menggugurkan amal-amal mereka.”

—QS. Muhammad Ayat 8–9

Penjelasan Tematik

Setelah ayat 7 memberikan energi yang sangat kuat kepada orang beriman—bahwa siapa yang menolong agama Allah akan memperoleh pertolongan dan keteguhan—ayat 8–9 memperlihatkan sisi sebaliknya. Al-Qur’an menggambarkan manusia yang bukan hanya menolak kebenaran, tetapi sampai pada tingkat membenci apa yang Allah turunkan.

Di sinilah letak persoalan psikologis yang sangat dalam. Penolakan terhadap kebenaran bisa bermula dari keraguan, kemudian berkembang menjadi ketidaknyamanan, lalu berubah menjadi penolakan, dan akhirnya dapat menjadi kebencian. Ketika seseorang sudah sampai pada tahap membenci kebenaran karena kebenaran itu mengganggu kepentingan, ego, atau cara hidupnya, maka masalahnya tidak lagi sekadar intelektual. Ia telah menjadi masalah orientasi hati.

Allah berfirman:

فَتَعْسًا لَهُمْ
“Maka celakalah mereka.”

Kata ta’s menggambarkan keadaan jatuh dalam kesengsaraan, kegagalan, dan kehinaan. Ini menunjukkan bahwa manusia yang memusuhi kebenaran pada akhirnya tidak sedang menghancurkan kebenaran itu. Ia sedang menghancurkan dirinya sendiri.

Kemudian Allah mengulang makna yang telah muncul pada ayat pertama:

وَأَضَلَّ أَعْمَالَهُمْ

“Dan Allah menghapus amal-amal mereka.”

Pengulangan ini bukan tanpa makna. Surat Muhammad sejak awal memperlihatkan bahwa aktivitas manusia harus dinilai dari arah dan orientasinya. Banyak pekerjaan tidak otomatis menjadi amal yang bernilai di hadapan Allah. Amal membutuhkan orientasi yang benar.

Lalu ayat 9 memberikan penjelasan sebab:

ذَٰلِكَ بِأَنَّهُمْ كَرِهُوا مَا أَنْزَلَ اللَّهُ

“Yang demikian itu karena mereka membenci apa yang diturunkan Allah.”

Perhatikan bahwa Allah tidak mengatakan sekadar “mereka tidak memahami”. Masalahnya adalah كرهوا—mereka membenci. Ini menunjukkan bahwa seseorang dapat mengetahui sesuatu tetapi tetap menolaknya karena kebenaran tersebut menuntut perubahan yang tidak ia sukai.

Dalam psikologi modern, fenomena ini dapat dikaitkan dengan reactance, yaitu kecenderungan manusia menolak sesuatu ketika merasa kebebasan atau kenyamanannya terancam. Ketika wahyu datang membawa batasan moral, seseorang yang ingin hidup tanpa batas dapat merasakan aturan tersebut sebagai ancaman terhadap kebebasannya. Akibatnya bukan hanya tidak menerima, tetapi muncul dorongan untuk melawan sumber aturan itu.

Ada pula konsep identity-protective cognition, yaitu kecenderungan seseorang mempertahankan informasi atau keyakinan yang menjaga identitas kelompok dan dirinya, meskipun berhadapan dengan bukti yang kuat. Jika kebenaran dianggap mengancam identitas, status, kepentingan, atau gaya hidup, manusia dapat mencari berbagai alasan untuk menolaknya.

Karena itu, penyakit terbesar bukan selalu kurangnya informasi. Kadang manusia sudah melihat kebenaran, tetapi tidak bersedia membayar harga untuk mengikutinya.

Munāsabah dan Penguatan Dalil

Allah berfirman:

فَإِنَّهَا لَا تَعْمَى الْأَبْصَارُ وَلَٰكِنْ تَعْمَى الْقُلُوبُ الَّتِي فِي الصُّدُورِ

“Sesungguhnya bukanlah mata itu yang buta, tetapi yang buta ialah hati yang berada di dalam dada.”
(QS. Al-Hajj Ayat 46)

Ayat ini memperjelas bahwa problem manusia dalam menerima kebenaran terkadang bukan karena tidak memiliki kemampuan melihat, tetapi karena hati tidak mau tunduk kepada apa yang telah dilihatnya.

Allah juga berfirman:

وَمَنْ أَظْلَمُ مِمَّنْ ذُكِّرَ بِآيَاتِ رَبِّهِ ثُمَّ أَعْرَضَ عَنْهَا

“Dan siapakah yang lebih zalim daripada orang yang telah diperingatkan dengan ayat-ayat Tuhannya, kemudian dia berpaling darinya ?”
(QS. As-Sajdah Ayat 22)

Kedua ayat ini menguatkan pesan bahwa persoalan kebenaran tidak berhenti pada pengetahuan. Ada tahap yang lebih tinggi: kesediaan untuk tunduk dan berubah.

Rasulullah Muhammad SAW bersabda:

الْكِبْرُ بَطَرُ الْحَقِّ وَغَمْطُ النَّاسِ

“Kesombongan adalah menolak kebenaran dan meremehkan manusia.”
(HR. Muslim)

Hadis ini sangat relevan dengan ayat 8–9. Salah satu akar penolakan terhadap kebenaran adalah kesombongan: seseorang tidak mau menerima kebenaran bukan karena kebenaran itu salah, tetapi karena ia tidak ingin dirinya berada pada posisi yang harus tunduk.

Pelajaran Kehidupan

Ayat ini mengajak kita melakukan pemeriksaan terhadap hati sendiri. Jangan sampai kita hanya mengukur iman dari seberapa banyak yang kita ketahui tentang agama, sementara kita tidak bertanya apakah kita siap menerima kebenaran ketika ia bertentangan dengan keinginan kita.

Ada kalanya kita menerima ayat yang sesuai dengan keinginan, tetapi menjadi berat ketika ayat itu menyentuh harta, kekuasaan, hubungan, gaya hidup, atau ego kita. Di situlah kualitas iman sebenarnya diuji.

Karena itu, seorang mukmin membutuhkan intellectual humility, kerendahan hati untuk berkata: “Jika Allah menunjukkan bahwa saya salah, saya harus bersedia memperbaiki diri.”

Renungan Peradaban

Sebuah peradaban tidak hancur hanya karena kekurangan ilmu. Ia dapat hancur ketika manusia mengetahui kebenaran tetapi membencinya karena kebenaran itu mengganggu kepentingan mereka.

Ketika keadilan dianggap mengganggu kekuasaan, kejujuran dianggap merugikan bisnis, kesederhanaan dianggap menghambat gengsi, dan agama dianggap mengganggu kebebasan tanpa batas, maka masyarakat sedang memasuki fase ketika nilai mulai dikalahkan oleh kepentingan.

Peradaban Qur’ani dibangun di atas keberanian untuk tunduk kepada kebenaran, bukan keberanian untuk memaksa kebenaran mengikuti keinginan manusia.

Maka ayat 8–9 menyampaikan sebuah peringatan yang sangat tajam: jangan sampai kita kehilangan kebenaran bukan karena kita tidak pernah menemukannya, tetapi karena kita tidak menyukainya ketika kebenaran itu menuntut kita berubah.

Sebab kebenaran tidak pernah membutuhkan manusia untuk menjadi benar. Manusialah yang membutuhkan kebenaran agar hidupnya tidak kehilangan arah.

Wallahu A’lam
Samarinda, 5 September 2026

Loading